KALIORANG - Di balik gemerlapnya pameran pembangunan dan kemeriahan hiburan modern, selalu ada cerita ketekunan tangan-tangan terampil yang merawat warisan leluhur. Dalam ajang Pekan Raya Kutim Expo (PRKE) 2026 di stan Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Rabu (14/10/2026), salah satu daya tarik budaya yang paling memukau pengunjung adalah kerajinan tenun ikat hasil karya kelompok perempuan di Desa Bukit Makmur.
Kerajinan tradisional ini bukan sekadar produk sandang penutup tubuh, melainkan sebuah karya seni bernilai tinggi yang menuntut kesabaran ekstra dalam setiap proses pembuatannya. Pelaksana Tugas (Plt) Camat Kaliorang, Fitriani, menjelaskan bahwa seluruh proses produksi tenun ikat tersebut dikerjakan secara manual oleh para perajin lokal.
"Mulai dari pemintalan benang, pengikatan pola untuk membentuk motif, hingga proses penenunan, semuanya mengandalkan ketelitian tangan manusia tanpa bantuan mesin massal," sebutnya saat diwawancarai.
Proses panjang inilah yang membuat sehelai kain tenun ikat membutuhkan waktu pengerjaan yang tidak sebentar. Menurut Fitriani, pembuatan satu lembar kain bisa memakan waktu antara satu hingga dua bulan, tergantung pada tingkat kerumitan motif serta detail desain yang dikerjakan oleh masing-masing perajin.
"Pengerjaannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Satu kain bisa dikerjakan selama satu sampai satu setengah bulan oleh satu orang, mulai dari proses pemintalan benang hingga pengikatan untuk membentuk motif," tambahnya.
Ditambahkan Fitriani, lamanya durasi produksi secara langsung memengaruhi nilai ekonomi dari kain tenun tersebut. Harga yang dipatok di pasaran sangat bervariasi, disesuaikan dengan tingkat kerumitan motif, ukuran kain, serta kebutuhan bahan baku. Di stan pameran Kaliorang, kain tenun ikat Desa Bukit Makmur ditawarkan mulai dari harga Rp 350.000 untuk spesifikasi standar, hingga mencapai Rp 750.000 untuk ukuran yang lebih besar. Sementara itu, untuk kain dengan tingkat kerumitan motif yang tinggi dan spesifikasi khusus, harganya bisa menembus angka Rp 1.000.000 hingga lebih dari Rp 1.500.000 per lembarnya.

Selain faktor kerumitan, kualitas bahan baku juga memegang peranan penting. Fitriani mengungkapkan bahwa bahan baku benang yang digunakan oleh para perajin setempat didatangkan langsung dari Timor untuk menjaga keaslian dan kualitas tenunan.
"Ketersediaan pasokan benang yang stabil menjadi salah satu penopang utama agar kelompok perempuan perajin di Desa Bukit Makmur dapat terus berproduksi memenuhi permintaan pasar," paparnya.
Menariknya, untuk memikat minat konsumen modern yang kian dinamis, kelompok perajin tenun ikat di Kaliorang juga membuka layanan pemesanan khusus (custom order). Konsumen dapat memesan motif, corak, maupun model kain sesuai dengan keinginan pribadi. Sebelum proses menenun dimulai, desain yang diinginkan akan digambar terlebih dahulu sebagai acuan perajin dalam membentuk pola ikatan benang. Fleksibilitas ini tidak hanya memberikan kepuasan bagi pembeli, tetapi juga merangsang kreativitas perajin untuk terus menghasilkan variasi produk yang lebih kaya.
Kehadiran tenun ikat Desa Bukit Makmur di ajang PRKE 2026 membuktikan bahwa potensi penggerak ekonomi daerah tidak selalu bertumpu pada industri skala besar. Melalui ketekunan kaum perempuan, warisan budaya merajut benang ini mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang bernilai tinggi. Di setiap helai benang dan corak motif yang terbentang, tersimpan cerita tentang kesabaran, identitas budaya, dan kebanggaan lokal yang terus dijaga agar tetap hidup di tengah arus zaman.(Dw/Fan/Fj)










