SANGATTA - Meski hujan mulai turun di beberapa wilayah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), tetapi kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan belum boleh surut. Di tengah kondisi udara yang masih berubah-ubah, masyarakat tetap perlu melindungi diri dari paparan debu dan asap. Terutama keluarga dengan balita, kelompok yang mendominasi catatan rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA sepanjang Juli-September 2026.
Dalam tiga bulan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur mencatat 14.014 kasus ISPA. Jumlah bulanan meningkat dari 3.973 kasus pada Juli menjadi 4.595 pada Agustus, lalu mencapai 5.446 pada September. Kenaikan dari Juli ke September sebesar 37,1 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur dr Yuwana Sri Kurniawati, dalam keterangannya pada Senin (19/10/2026), mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kesehatan meskipun hujan sudah turun. Kondisi udara yang masih fluktuatif memerlukan perhatian, terutama bagi mereka yang rentan mengalami gangguan kesehatan.
Yuwana mengimbau warga memakai masker ketika keluar rumah untuk mengurangi paparan debu dan asap.
"Kelompok rentan disarankan membatasi kegiatan di luar serta memperbanyak istirahat di dalam ruangan," katanya mengingatkan.

Pesan itu berkelindan dengan catatan kasus pada balita. Sepanjang Juli-September, terdapat 3.874 kasus pada anak berusia 0-4 tahun, setara 27,6 persen dari keseluruhan laporan. Jumlahnya bertambah setiap bulan, dari 1.054 kasus pada Juli menjadi 1.299 pada Agustus, kemudian 1.521 pada September.
Kebutuhan perhatian terhadap anak kecil semakin terlihat dalam data rawat inap. Dari 168 kasus yang memerlukan perawatan inap selama tiga bulan, sebanyak 108 terjadi pada balita. "Artinya, kelompok ini menyumbang 64,3 persen dari total rawat inap," tambahnya.
Jumlah rawat inap balita mencapai puncak pada Agustus dengan 50 kasus. Pada Juli tercatat 33 kasus, sedangkan September sebanyak 25 kasus. Dengan demikian, kenaikan laporan ISPA bulanan pada balita tidak diikuti pola serupa pada rawat inap, yang justru menurun pada September dibandingkan dengan Agustus.
Adapun kelompok dewasa berusia 25-59 tahun mencatat jumlah ISPA terbanyak secara keseluruhan, yakni 5.710 kasus atau 40,7 persen. Rinciannya, 1.848 kasus pada Juli, sebanyak 1.774 pada Agustus, serta 2.088 pada September.
Setelah dewasa dan balita, kelompok anak berusia 5-14 tahun menyumbang 2.259 kasus atau 16,1 persen. Laporannya meningkat dari 498 kasus pada Juli menjadi 767 pada Agustus, lalu 994 pada September.
Pada kelompok remaja berusia 15-24 tahun, terdapat 1.606 kasus atau 11,5 persen. Jumlahnya bergerak dari 417 kasus pada Juli menjadi 587 pada Agustus dan 602 pada September. Sementara itu, kelompok lanjut usia, yakni 60 tahun ke atas, mencatat 565 kasus atau sekitar empat persen, dengan rincian 156, 168, dan 241 kasus pada masing-masing bulan.
Di luar balita, rawat inap meliputi 38 kasus pada anak usia 5-14 tahun, tiga pada remaja, dan 19 pada kelompok dewasa. Tidak tercatat rawat inap pada kelompok lanjut usia dalam periode tersebut.
Secara bulanan, keseluruhan rawat inap berjumlah 63 kasus pada Juli, naik menjadi 76 pada Agustus, kemudian turun menjadi 29 pada September. Total 168 kasus tersebut setara sekitar 1,2 persen dari seluruh laporan ISPA selama Juli-September.
"Meski jumlah bulanan meningkat, grafik mingguan memperlihatkan penurunan setelah mencapai puncak. Pada minggu ke-37, tercatat 1.278 kasus. Jumlahnya kemudian berkurang menjadi 1.207 pada minggu ke-38, sebanyak 1.085 pada minggu ke-39, dan 1.012 pada minggu ke-40," sebut Yuwana menjelaskan data yang disusun oleh Dinas Kesehatan.
Dua pola tersebut perlu dibaca sesuai rentang waktunya. Kenaikan 37,1 persen merupakan perbandingan jumlah kasus Juli dan September, sedangkan penurunan terjadi pada catatan mingguan setelah minggu ke-37. Data dalam banner belum menggambarkan keseluruhan perkembangan kasus selama Oktober.
Di tengah perkembangan itu, Yuwana mengingatkan pentingnya menjaga kecukupan cairan dengan minum air putih serta mengonsumsi sayur, buah, dan vitamin untuk memelihara daya tahan tubuh. Kebiasaan mencuci tangan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga perlu terus dijalankan.
Ia turut menyinggung dampak fenomena El Niño yang berkaitan dengan kekeringan, dehidrasi, hingga potensi diare. Perhatian masyarakat karena itu mencakup perlindungan pernapasan, kebersihan diri, dan kecukupan asupan sehari-hari.
Infografik Dinas Kesehatan juga menekankan perlunya penguatan pencegahan, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, serta kesiapan layanan kesehatan bagi kelompok rentan. Bagi keluarga, turunnya hujan tetap perlu diiringi ketelatenan menjaga kesehatan, terutama melindungi anak kecil dari paparan debu dan asap. (Dw/Fj)









