SANGATTA - Harapan memperoleh penanganan aneurisma pembuluh darah otak lebih dekat dari tempat tinggal mulai dirintis di RSUD Kudungga, Sangatta. Rumah sakit ini menyiapkan penguatan layanan neurointervensi melalui pendampingan tenaga ahli dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tujuannya, memperluas kemampuan pelayanan agar kebutuhan medis masyarakat Kutai Timur dapat ditangani di daerah sendiri, sesuai kondisi pasien dan kesiapan rumah sakit.
Langkah tersebut akan diwujudkan melalui proctorship atau pendampingan dokter oleh tenaga ahli pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Dua pasien dijadwalkan menjalani tindakan coiling dengan pendampingan langsung dari dokter pembimbing RSCM.
Bagi masyarakat, pengembangan kemampuan ini membawa harapan berkurangnya kebutuhan rujukan ke luar daerah. Namun, pelayanan tetap bertumpu pada pertimbangan medis. Kondisi pasien, hasil pemeriksaan dokter spesialis, serta kesiapan fasilitas menjadi dasar dalam menentukan penanganan yang dapat dilakukan di RSUD Kudungga.
Direktur RSUD Kudungga, dr Muhammad Yusuf, dalam keterangannya pada Senin, (19/10/2026), menjelaskan bahwa pendampingan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi dokter spesialis bedah saraf. Melalui alih pengetahuan, tim medis rumah sakit diharapkan mampu melaksanakan tindakan neurointervensi secara mandiri dengan mengikuti standar pelayanan dan keselamatan pasien.
“Dengan pengembangan kemampuan tindakan ini, pasien diharapkan tidak perlu dirujuk jauh ke Samarinda maupun Balikpapan untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Tindakan minimal invasif memiliki sejumlah keunggulan, sesuai jenis prosedur dan kondisi pasien. Ini merupakan wujud komitmen kami dalam mendekatkan pelayanan spesialistik berkualitas bagi masyarakat Kutai Timur,” ujarnya.
Pendampingan bersama RSCM itu merupakan bagian dari program pengampuan layanan prioritas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis sekaligus mengembangkan kemampuan rumah sakit dalam menyelenggarakan pelayanan neurointervensi.
Dalam agenda satu hari tersebut, setiap tindakan diperkirakan memerlukan waktu empat jam. Penanganan pasien pertama dijadwalkan mulai pukul 07.00 Wita, sedangkan pasien kedua pukul 13.00 Wita. Tindakan neurointervensi tersebut dilakukan oleh dr Heru Kustono, SpBS, (dokter spesialis bedah saraf neurointervensi) berlangsung dengan pendampingan langsung tenaga ahli RSCM.
Salah satu layanan yang dikembangkan ialah coiling, yakni prosedur medis minimal invasif dengan memasukkan kumparan khusus melalui pembuluh darah menuju aneurisma. Berdasarkan penjelasan rumah sakit, kumparan tersebut digunakan untuk membantu mencegah risiko pecahnya aneurisma.
Prosedur ini dilaksanakan berdasarkan indikasi medis dan hasil evaluasi dokter spesialis. Dengan demikian, penentuan tindakan tetap disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Pengembangan layanan tersebut membuka kemungkinan penanganan di Sangatta, sementara keputusan medis tetap mengikuti kondisi pasien dan kemampuan pelayanan yang tersedia.
Ikhtiar memperkuat layanan di RSUD Kudungga juga menyangkut kesiapan tenaga medis untuk menjalankan prosedur secara mandiri. Pendampingan menjadi sarana alih pengetahuan yang ditujukan untuk menopang kemampuan tersebut, dengan standar pelayanan dan keselamatan pasien sebagai acuannya.
Bagi warga Kutai Timur, arah pengembangan ini jelas, yakni menghadirkan akses pelayanan spesialistik yang lebih dekat. Melalui penguatan kompetensi dokter dan pendampingan RSCM, RSUD Kudungga berupaya memperluas penanganan yang dapat diberikan di Sangatta. Harapannya, pasien yang memenuhi pertimbangan medis dapat memperoleh layanan yang dibutuhkan tanpa harus selalu dirujuk ke Samarinda atau Balikpapan. (*/Fj)










