SANGATTA – Sebanyak 145 khatib di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengikuti Pelatihan Nasional 10 Ribu Khatib Ikatan Dai Indonesia (IKADI) yang digelar Pengurus Daerah (PD) IKADI Kutim di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutim, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi upaya meningkatkan kompetensi khatib agar mampu menyampaikan dakwah yang moderat, komunikatif, dan berbasis literasi digital.
Pelatihan tersebut dilaksanakan serentak secara nasional oleh Pengurus Pusat (PP) IKADI secara daring bersama jajaran pengurus wilayah dan daerah IKADI di berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut Musyawarah Nasional (Munas) IV IKADI.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir bersama Ketua PD IKADI Kutim Syamsuri, perwakilan Kementerian Agama Kutim, pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kutim, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kutim.
Dalam sambutannya, Ardiansyah menekankan pentingnya bagi seorang khatib untuk terus meningkatkan ilmu dan kapasitas diri, meskipun telah memiliki bekal pengetahuan agama yang memadai.
Menurutnya, ilmu pengetahuan dan kemampuan menyampaikan pesan keagamaan perlu terus dikembangkan agar dakwah dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Karena itu, pelatihan tersebut diharapkan menjadi ruang belajar bersama untuk memperdalam keilmuan sekaligus meningkatkan kualitas penyampaian dakwah.

“Walaupun sudah memiliki ilmu, seorang khatib tetap perlu terus meningkatkan pengetahuannya. Melalui pelatihan ini, kita bisa belajar dengan baik dan meningkatkan keilmuan kita,” pesannya.
Sementara itu, Ketua PD IKADI Kutim Syamsuri mengatakan, khatib memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat. Tanggung jawab tersebut tidak hanya menuntut penguasaan materi, tetapi juga ketepatan dalam memenuhi rukun dan syarat khotbah, kefasihan bacaan, serta kemampuan berkomunikasi secara baik.
Khatib juga dituntut mampu menghadirkan pesan-pesan yang menyejukkan, relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tengah berbagai tantangan zaman.

“Sebagai khatib, kita dituntut memiliki kemampuan yang memadai, baik dalam penguasaan materi, ketepatan rukun dan syarat kutbah, kefasihan bacaan, maupun kemampuan menyampaikan pesan yang sejuk, relevan, dan menjawab kebutuhan masyarakat. Kesadaran inilah yang mendorong kami menyelenggarakan pelatihan ini,” ujar Syamsuri.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana peningkatan kompetensi para khatib sekaligus memperkuat persatuan umat Islam. Menurutnya, perbedaan organisasi maupun golongan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam memperkuat kehidupan beragama.
“Apapun organisasinya, apapun golongannya, kita bisa bersatu padu memperkuat agama kita, agama Islam,” tegasnya.
Manfaat pelatihan juga dirasakan peserta yang ingin memperdalam pemahaman keagamaan dan meneruskan nilai-nilai Islam kepada generasi berikutnya.

Muhammad Lewa, peserta asal Sangkima, berharap materi yang diperoleh melalui pelatihan tersebut dapat menambah pemahaman keagamaannya sekaligus menjadi bekal untuk membimbing anak dan cucu di masa mendatang.
“Harapan kita, melalui kegiatan ini pemahaman keagamaan semakin meningkat dan bisa kita lanjutkan seterusnya, sehingga anak cucu kita nantinya juga dapat memegang dan meneruskan nilai-nilai agama,” ungkapnya.
Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan materi dari Ustaz Wariadi dan Ustaz Bambang Heru Suhartono. Materi yang diberikan diharapkan dapat memperkuat bekal keilmuan, keterampilan, dan kesiapan para khatib dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.
Melalui pelatihan ini, IKADI Kutim berharap para khatib semakin siap menghadirkan dakwah yang mencerahkan, menyejukkan, dan mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Penguatan kompetensi tersebut juga diharapkan dapat mendorong terciptanya kehidupan beragama yang harmonis serta memperkuat nilai-nilai keislaman hingga generasi mendatang. (mif/fan/fj)










