SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menerima kunjungan jajaran Pengurus Pusat Kolegium Bedah Saraf Indonesia dan delegasi dokter spesialis dalam acara Ramah Tamah dan Makan Malam Bersama yang digelar di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur, Jumat (23/10/2026) malam.
Acara yang diprakarsai oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutai Timur ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus penguat sinergi antar-pemangku kepentingan kesehatan daerah sebelum dibukanya agenda utama Simposium Sangatta Neuroscience Update (SNU) pada Sabtu (24/10/2026) pagi.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas kehadiran para pakar bedah saraf di Sangatta. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan komitmen Pemkab Kutim dalam menjamin akses kesehatan yang merata dan gratis bagi seluruh warga.
"Masyarakat Kutai Timur telah tercover jaminan kesehatan melalui predikat Universal Health Coverage (UHC) yang mencapai 106%. Jika masyarakat tidak terlayani dengan baik padahal kita sudah memiliki fasilitas dan tenaga ahli yang mumpuni, tentu itu sangat salah. Pemkab akan terus berupaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat," ujar Bupati Ardiansyah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, dr Yuwana Sri Kurniawati, melaporkan bahwa fasilitas kesehatan di Kutim terus mengalami peningkatan pesat. Kutai Timur saat ini didukung oleh 21 Puskesmas di 18 kecamatan, 3 RS Negeri (RSUD Kudungga Tipe B, RS Sangkulirang Tipe D, dan RS Muara Bengkal Tipe D), serta 7 RS Swasta.
"RSUD Kudungga kini telah dilengkapi sarana canggih. Bahkan, layanan kardiologi kita sudah bisa melakukan intervensi bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Dengan kelengkapan ini, warga Kutim tidak perlu lagi berobat jauh-jauh ke Samarinda atau luar daerah," jelas Yuwana.
Penguatan fasilitas medis di RSUD Kudungga pun mendapat apresiasi dari Ketua Kolegium Bedah Saraf Indonesia, Prof Asra Al Fauzi. Ia mengaku terkejut melihat rumah sakit tingkat kabupaten di Kutai Timur telah dilengkapi sarana canggih seperti MRI, Neuro Navigasi, hingga fasilitas Cathlab.

"Kutim merupakan contoh nyata komitmen pemerintah daerah. Rencananya, dalam waktu dekat akan dilaksanakan tindakan Cathlab otak pertama di RSUD Kudungga untuk penanganan penyakit saraf dan stroke. Kita ingin memastikan pasien stroke bisa langsung ditangani dalam periode emas (golden period) 4 jam tanpa harus dirujuk," ungkap Prof Asra.
Rangkaian kegiatan ini dilanjutkan pada Sabtu (24/10/2026) pagi melalui agenda utama Simposium Sangatta Neuroscience Update (SNU) yang juga diisi dengan Video Conference (Vidcon) langsung bersama Menteri Kesehatan Republik Indonesia untuk membahas percepatan penanganan penyakit Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefro (KJSU) di daerah. (Rio/Fan/Fj)










