SANGATTA - Di tengah semak belukar, ratusan meter ke dalam lokasi menuju titik api, Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi ikut mengangkat air dengan ember. Air dari genangan di antara rerumputan itu digunakan untuk menyiram bagian yang terbakar. Rabu (14/10/2026) malam, awal kunjungan didampingi Camat Sangatta Utara Hasdiah, yang semula ditujukan untuk meninjau dan mengoordinasikan penanganan kebakaran berlanjut menjadi kerja bersama memadamkan api.

Mahyunadi mendekat ke lokasi kebakaran dan bahu-membahu dengan personel gabungan. Di sana, unsur pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, relawan kebakaran hutan dan lahan, serta masyarakat berupaya menghentikan rambatan api.

Kebakaran yang bermula dari Jalan Guru Besar dan merambat hingga ke arah Kenyamukan itu ternyata belum mudah diatasi. Menurut informasi petugas di lapangan, api sempat tampak mereda sejak Selasa (13/10/2026) malam. Proses pendinginan pun dilakukan pada Rabu (14/10/2026) pagi. Namun, api kembali menyala, bahkan lebih besar daripada sebelumnya pada Rabu malam.
Keadaan tersebut membuat pekerjaan pemadaman harus diteruskan. Bagian yang sebelumnya telah ditangani kembali terbakar, sementara personel berusaha mengatasi titik api di dalam semak belukar. Mahyunadi ikut mengambil bagian dengan memanfaatkan air yang tersedia di sekitar lokasi.

Ember menjadi sarana untuk mengangkut air dari genangan menuju bagian yang masih menyala. Bersama petugas dan warga, ia menyiram api di antara rerumputan. Upaya itu berlangsung bersamaan dengan pengerahan armada pemadam serta koordinasi untuk mendatangkan tambahan pasokan air.
Tiga unit mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan masih membutuhkan dukungan. Satu unit kendaraan suplai air bermuatan 15 ribu liter kemudian tiba pada pukul 23.48 Wita untuk membantu kebutuhan pemadaman.
Sebelum ikut menangani api secara langsung, Mahyunadi memantau keberadaan titik kebakaran melalui tayangan pesawat nirawak atau drone. Sambil melihat perkembangan di lapangan, ia menelepon sejumlah pihak untuk meminta bantuan sumber daya, terutama kendaraan pengangkut air.

Komunikasi itu menjangkau perusahaan, mitra, relasi, hingga keluarga yang memiliki mobil tangki. Kepada Hasdiah, Mahyunadi meminta agar koordinasi dengan perusahaan dan pihak lain dilakukan untuk menunjang pekerjaan personel gabungan.
Di tengah penanganan, perhatian turut diberikan kepada personel. Mahyunadi menyemangati mereka serta meminta agar persediaan makanan dan air minum diperhatikan. Petugas dan warga masih harus melanjutkan pekerjaan ketika malam beranjak larut.
Bagi Mahyunadi, upaya malam itu diharapkan setidaknya dapat menahan api agar tidak mendekati rumah warga, meskipun kebakaran belum sepenuhnya padam. Perlindungan terhadap permukiman menjadi perhatian di tengah sulitnya menghentikan seluruh titik yang menyala.

"Paling penting pemadaman api di titik utamanya harus tuntas," tegasnya sambil menyemangati personel lepangan di malam yang gulita.
Bahkan prosesnya pemadaman mesti terjeda untuk memberikan waktu personel makan malam. Mahyunadi bersama personel gabungan dan masyarakat masih berjibaku di lokasi hingga jelang dini hari. Menyiram api serta mengupayakan agar rambatannya tidak menjangkau kediaman warga. (Fj)










