SAMARINDA - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mendorong investasi yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperkuat ekonomi daerah. Hal ini menjadi salah satu kepentingan Kutai Timur dalam Mahakam Investment Forum (MIF) 2026 yang digelar di Hotel Fugo, Samarinda, Rabu (21/10/2026).
Pemkab Kutai Timur, mewakili Bupati adalah Asisten Sekretaris Daerah Kutai Timur Bidang Perekonomian dan Pembangunan Noviari Noor serta Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Novian Pranata. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari upaya memperkuat promosi potensi daerah dan membuka peluang kemitraan dengan calon investor.

Forum bertema “Investment and Industry, Enhancing East Kalimantan Economic Transformation” tersebut mempertemukan pemerintah, investor, pelaku usaha, perbankan, dan perwakilan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk mendorong investasi serta transformasi ekonomi Kalimantan Timur.
Salah satu peluang strategis Kutai Timur yang mengemuka ialah pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan. Kawasan ini berpotensi menjadi penggerak hilirisasi kelapa sawit dan komoditas unggulan lainnya, sekaligus memperkuat rantai pasok industri di daerah.
Pengembangan Maloy menjadi penting agar potensi sumber daya alam Kutai Timur tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Investasi industri pengolahan diharapkan mampu menciptakan nilai tambah di daerah, membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan usaha lokal.

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan bahwa transformasi ekonomi perlu diarahkan pada penguatan industri pengolahan, pertanian, ekonomi biru, ekonomi hijau, dan sektor jasa. Langkah tersebut diperlukan karena sektor pertambangan dan penggalian masih menyumbang 34,49 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim pada triwulan II 2026.
Arah kebijakan ini relevan bagi Kutai Timur dalam memperluas sumber pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif. Tantangannya adalah memastikan investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun industri lanjutan dan keterkaitan usaha dengan masyarakat setempat.
Dalam forum tersebut, Pemprov Kaltim memperkenalkan 11 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang telah disiapkan untuk ditawarkan kepada investor melalui Regional Investment Relations Unit (RIRU). Forum ini juga memfasilitasi penjajakan bisnis dan promosi ekspor produk unggulan daerah, termasuk produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Peluang tersebut dapat dimanfaatkan Kutai Timur untuk memperkenalkan potensi investasi, memperluas akses pasar produk lokal, serta menjajaki kemitraan di sektor industri, perdagangan, logistik, dan jasa pendukung.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Jajang Hermawan menyampaikan bahwa ekonomi Kaltim tumbuh 3,35 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Penyaluran kredit perbankan mencapai Rp239,56 triliun, yang menjadi salah satu modal pembiayaan bagi pengembangan usaha dan investasi.
Namun, promosi saja belum cukup. Sepanjang 2025, enam forum investasi domestik dan internasional di Kaltim menghasilkan 117 pertemuan bisnis, 16 surat pernyataan minat (letter of intent), dua nota kesepahaman, dan satu proyek yang memasuki tahap konstruksi. Capaian ini menegaskan pentingnya tindak lanjut agar minat investor benar-benar menjadi proyek nyata.

Langkah selanjutnya bagi Kutai Timur ialah memperkuat kesiapan proyek, kemudahan perizinan, kepastian berusaha, serta infrastruktur pendukung. Keterlibatan pelaku usaha lokal dan kesiapan tenaga kerja juga penting agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas.
Melalui MIF 2026, Kutai Timur memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai bagian dari pusat pertumbuhan industri di Kalimantan Timur. Ukuran keberhasilannya terletak pada terwujudnya investasi yang mengolah potensi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian daerah. (Dw/Yus/Fj)









