SURAKARTA — Gemerlap kebudayaan Nusantara menghiasi malam di Bale Pangenggar, Taman Balekambang pada Rabu (21/10/2026) malam. Di bawah semilir angin malam taman bersejarah tersebut, ajang bergengsi Grand Final Duta Budaya Indonesia (DBI) Nusantara Berwastra sukses digelar. Sebanyak 22 finalis yang mewakili 10 provinsi mempresentasikan keindahan dan filosofi wastra (kain tradisional) kebanggaan daerah masing-masing.
Acara yang menjadi panggung pelestarian budaya ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Kota Surakarta. Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang hadir secara langsung membuka dan menyaksikan malam puncak tersebut, menyampaikan rasa bangga dan harunya melihat antusiasme generasi muda dalam merawat warisan leluhur nusantara.

"Selamat datang di Kota Surakarta, kota yang senantiasa bernapas dengan budaya. Malam ini, di Bale Pangenggar Taman Balekambang yang sarat akan nilai sejarah, kita tengah menyaksikan sebuah miniatur Indonesia. Kehadiran 22 finalis dari berbagai penjuru negeri ini membuktikan bahwa wastra Nusantara tidak hanya sekadar lembaran kain, melainkan identitas yang hidup dan perekat persatuan bangsa," ungkap Astrid Widayani dalam sambutannya yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Ke-22 finalis tersebut merupakan putra-putri terbaik yang telah melalui seleksi ketat dari 10 provinsi, yakni Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Dalam pandangannya, Astrid menekankan bahwa generasi muda memiliki peran krusial sebagai agen diplomasi budaya di era modernisasi.
"Melihat anak-anak muda ini dengan bangga mengenakan dan menarasikan kisah di balik tenun, batik, songket, hingga ulap doyo, memberikan harapan besar bagi kita semua. Duta Budaya Indonesia Nusantara Berwastra bukan sekadar ajang unjuk pesona, melainkan wujud nyata regenerasi pelestari kebudayaan," tutur Wakil Wali Kota yang dikenal menaruh perhatian besar pada ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif Solo ini.

Malam grand final tersebut terasa semakin semarak dan istimewa dengan hadirnya pimpinan daerah lain, salah satunya adalah Bupati Kutai Timur, Ardiansyah. Kehadirannya secara khusus ditujukan untuk memberikan dukungan moral dan suntikan semangat kepada para perwakilan daerahnya. Ardiansyah menyampaikan apresiasi yang mendalam karena kedua orang peserta asal Kabupaten Kutai Timur mewakili Kalimantan Timur berhasil lolos menyisihkan peserta lain hingga menembus tahap grand final.

"Ini adalah sebuah kebanggaan besar bagi Kutai Timur mewakili Kalimantan Timur. Dua anak muda kita mampu bersaing di kancah nasional, membawa nama baik daerah, dan mempromosikan pesona wastra khas Kalimantan Timur di jantung peradaban Jawa, Surakarta. Saya berharap mereka tidak hanya meraih hasil terbaik malam ini, tetapi terus konsisten membumikan kekayaan budaya kita," ujar Ardiansyah dengan penuh optimisme.
Bagi Kota Surakarta, terpilihnya Taman Balekambang sebagai titik temu budaya nasional ini semakin mengukuhkan citra Solo sebagai kota inklusif yang menghargai keberagaman.

Momen ini pun membuka ruang-ruang publik untuk merayakan kebhinekaan menjadikan wastra Nusantara bukan hanya sebagai warisan masa lalu, melainkan tren gaya hidup masa depan yang diakui dunia. Malam Grand Final itu pun menjadi saksi lahirnya para duta baru yang siap merajut harmoni Indonesia lewat selembar wastra.(Fan/Fj)








