Pembentukan AGUMI Digagas, Literasi Kutim Dipacu Lampaui Kebiasaan Membaca

WhatsApp Image 2026 10 20 at 12.16.48

Teks foto: FGD membahas rencana pembentukan Asosiasi Guru Motivator Literasi di Kutai Timur. Foto: Istimewa.

SANGATTA - Membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan mengajak anak membaca buku. Kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mengolah pengetahuan, dan menggunakannya untuk mengambil keputusan merupakan bagian penting dari literasi yang perlu ditanamkan sejak bangku sekolah. Kesadaran inilah yang melandasi gagasan pembentukan Asosiasi Guru Motivator Literasi (AGUMI) Kabupaten Kutai Timur.

Gagasan pembentukan AGUMI dibahas melalui diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion (FGD) di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur, Selasa (20/10/2026). Forum ini menjadi ruang diskusi bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat peran guru sebagai penggerak budaya literasi di sekolah dan masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur Mulyono hadir mewakili Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman sekaligus membuka kegiatan. Turut hadir Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kutai Timur Ayub serta Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur Ismail Fahmy Almadi.

WhatsApp Image 2026 10 20 at 12.16.48 (1)

Dalam sambutannya, Mulyono menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan literasi di Kutai Timur. Ia berharap FGD tersebut menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi peningkatan literasi dan kualitas pendidikan daerah.

“Terima kasih kepada semua pihak yang punya kepedulian dan niat baik untuk memajukan literasi di Kutai Timur. Mudah-mudahan diskusi hari ini membawa manfaat bagi kemajuan literasi dan pendidikan kita,” ujar Mulyono.

Ia juga mengungkapkan bahwa capaian literasi di Kutai Timur masih perlu mendapat perhatian. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama agar upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam memperoleh dan memahami pengetahuan.

“Kalau kita melihat kondisi sekarang, literasi di Kutai Timur masih perlu ditingkatkan. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama supaya pendidikan semakin maju dan masyarakat semakin baik dalam memahami informasi,” katanya.

Literasi Melampaui Kebiasaan Membaca

Rencana pembentukan AGUMI menjadi relevan karena tantangan literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan buku atau kemampuan membaca teks. Di tengah derasnya arus informasi digital, peserta didik juga perlu memiliki kemampuan membedakan fakta dan opini, mengenali informasi menyesatkan, memahami konteks, serta menyusun pendapat berdasarkan alasan dan bukti.

Seseorang bisa membaca banyak informasi, tetapi belum tentu memahami isinya secara mendalam. Demikian pula, kemampuan menggunakan perangkat digital tidak otomatis membuat seseorang mampu menilai kebenaran informasi yang diterimanya.

Karena itu, budaya literasi harus dibangun melalui kebiasaan membaca yang disertai pemahaman, penalaran, diskusi, dan penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Di lingkungan sekolah, guru memiliki posisi strategis untuk menumbuhkan kebiasaan tersebut. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga dapat menjadi teladan dalam membaca, mendorong siswa mengajukan pertanyaan, membiasakan diskusi, serta melatih mereka menyampaikan gagasan secara runtut.

WhatsApp Image 2026 10 20 at 12.16.47

Dalam konteks itu, AGUMI diharapkan menjadi wadah bagi para guru untuk berbagi pengalaman, mengembangkan metode pembelajaran yang menarik, dan menyusun program literasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Kehadiran unsur perpustakaan dan perguruan tinggi juga penting untuk memperkuat dukungan terhadap gerakan literasi, mulai dari akses bahan bacaan hingga pengembangan pengetahuan.

Pembentukan AGUMI perlu diikuti dengan program kerja yang jelas dan terukur. Beberapa langkah yang dapat dikembangkan antara lain membiasakan kegiatan membaca di sekolah, memperkuat kemampuan memahami bacaan, mendorong siswa menulis dan berdiskusi, serta memperluas akses terhadap bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka.

Kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dapat membantu memperluas akses terhadap buku dan sumber pengetahuan. Sementara itu, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pengembangan metode, pendampingan, dan kegiatan yang menumbuhkan budaya berpikir kritis di kalangan pelajar.

Tantangan berikutnya adalah memastikan AGUMI berkembang menjadi organisasi yang aktif, memiliki program berkelanjutan, dan mampu mendorong perubahan nyata dalam budaya belajar di sekolah maupun masyarakat. (Yus/Fj)

5330
Yus
Memuat tombol bagikan...
Memuat komentar...