Beranda Kutai Timur Kader PMO TB Kutim Diperkuat, Pendampingan Pasien Didorong Lebih Humanis

Kader PMO TB Kutim Diperkuat, Pendampingan Pasien Didorong Lebih Humanis

19 views
0

Teks foto: Kader Pengawas Menelan Obat (PMO) Tuberkulosis (TB) mengikuti workshop pembekalan yang digelar PT Kaltim Prima Coal di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur, Sangatta, Kamis (24/9/2026).

SANGATTA – Pendampingan pasien tuberkulosis (TB) tidak berhenti pada mengingatkan jadwal minum obat. Di balik proses pengobatan yang panjang, ada komunikasi, ketekunan, serta hubungan antarmanusia yang turut menentukan keberlanjutan pendampingan. Hal itu menjadi perhatian dalam workshop pembekalan kader Pengawas Menelan Obat (PMO) TB yang digelar PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur (Kutim), Kamis (24/9/2026) lalu. Kegiatan tersebut diikuti kader PMO TB dari wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.

Workshop menghadirkan Superintendent Community Health and Education KPC Febriana Kurniasari, Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati, serta Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkuloaos Indonesia (PPTI) Kutim Siti Robiah. Siti Robiah hadir sekaligus membuka kegiatan.

Pembekalan diarahkan untuk memperkaya kecakapan kader ketika berhadapan langsung dengan masyarakat dan pasien. Bagi kader, kemampuan menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang tepat menjadi bagian penting dari tugas pendampingan. Materi pertama bertajuk Teknik Berkomunikasi dalam Melakukan Penyuluhan disampaikan Fathkullah Khasabi Algifari, Owner Ziza Gift. Materi ini membekali kader dengan cara berkomunikasi secara efektif, baik ketika memberikan penyuluhan maupun saat menghadapi pasien.

Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan pembaruan pengetahuan diperlukan agar kader mampu mengikuti kebutuhan komunikasi ketika mendampingi pasien TB. Menurut dia, komunikasi yang baik dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi pasien selama menjalani pengobatan.

“Ilmunya harus di-update (diperbarui) lagi, sehingga komunikasi juga lebih update lagi. Dengan begitu, kita bisa mendampingi dan mengajak para pasien TB untuk berobat dengan rasa yang nyaman,” ujarnya.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa tugas kader bukan hanya berada pada ranah teknis. Mereka juga berhadapan dengan manusia yang membutuhkan pendampingan, penguatan, dan komunikasi yang mudah diterima.

Setelah penyampaian materi dan kuis, kegiatan beralih ke Focus Group Discussion (FGD) melalui sesi problem mapping dan problem solving. Dalam sesi tersebut, para kader dibagi menjadi enam kelompok. Masing-masing kelompok memperoleh pokok persoalan yang ditemui selama menjalankan tugas di lapangan. Mereka kemudian melakukan rolling ke kelompok lain untuk mencermati persoalan berbeda sekaligus memberikan solusi berdasarkan pengalaman masing-masing.

Pola diskusi semacam itu membuat pengalaman lapangan menjadi bahan pembelajaran bersama. Persoalan yang dihadapi seorang kader dapat menjadi pengetahuan bagi kader lainnya, sementara alternatif penyelesaian dibahas berdasarkan situasi yang mereka temui dalam menjalankan pendampingan.

Febriana Kurniasari mengatakan keberadaan kader PMO memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat. Karena itu, keberlanjutan kaderisasi juga perlu diperhatikan, terutama mengingat adanya perubahan anggota dari tahun ke tahun.

“Kader setiap tahun ada perubahan, sehingga regenerasi itu perlu kita tetap bina, tetap kita dampingi. Ini juga sebagai bentuk perhatian dan reward kepada ibu-ibu sekalian agar mereka tetap semangat dalam melakukan program P2P di komunitas,” jelas Febri.

Menurut dia, pembinaan kader tidak berhenti pada peningkatan kemampuan individu. Regenerasi menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan program P2P di komunitas.

Ketua PPTI Kutim Siti Robiah saat membuka acara menekankan pentingnya kekompakan antarkader. Pengalaman kader senior, menurut dia, perlu ditularkan kepada kader baru agar proses pendampingan berjalan dalam irama yang sama.

“Yang senior mendampingi, yang senior merangkul yang baru supaya kita terjadi akselerasi, supaya kita mempunyai frekuensi yang sama. Kita semua mempunyai tujuan yaitu eliminasi TB pada 2030,” tuturnya.

Pesan tersebut menempatkan kaderisasi sebagai bagian dari mata rantai pendampingan masyarakat. Kader yang lebih berpengalaman diharapkan dapat menjadi pengayom bagi kader baru, sementara kader baru memperoleh ruang untuk belajar dari pengalaman yang telah ditempuh sebelumnya.

Suasana workshop tidak seluruhnya berlangsung dalam format penyampaian materi dan diskusi. Panitia juga menyisipkan ice breaking dan outbound games secara berkelompok. Rangkaian kegiatan itu menjadi ruang untuk membangun keakraban di antara kader sekaligus menjaga semangat kebersamaan. Dalam pekerjaan pendampingan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, jejaring dan kekompakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberlanjutan kegiatan.

Melalui workshop tersebut, KPC berharap kader PMO TB dapat terus menjalankan perannya sebagai pendamping masyarakat sekaligus penghubung antara masyarakat, pemerintah, pihak swasta, dan tenaga kesehatan. Peran itu menjadi penting karena pendampingan berlangsung pada ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Kader berada di antara kebutuhan pasien, pesan kesehatan, dan dukungan berbagai pihak. Karena itu, penguatan kapasitas kader diharapkan dapat membantu menciptakan pendampingan yang lebih komunikatif, berkesinambungan, dan memberi rasa nyaman kepada pasien selama menjalani pengobatan TB. (*/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini