Beranda Kutai Timur Gasing dan Belogo, dari Tradisi Menuju Wisata

Gasing dan Belogo, dari Tradisi Menuju Wisata

4 views
0

SANGATTA – Permainan gasing dan belogo bukan sekadar olahraga tradisional untuk menguji keterampilan dan ketepatan. Keduanya menyimpan warisan budaya yang perlu dijaga agar tetap hidup di tengah masyarakat, sekaligus berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Nilai tersebut dihadirkan melalui lomba gasing dan belogo dalam rangkaian Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 di Rumah Lamin Adat, Jalan Ringroad, Kecamatan Sangatta Utara. Sebanyak 80 peserta ambil bagian, masing-masing 40 orang pada setiap cabang. Perlombaan berlangsung hingga Senin (12/10/2026).

Ketua Panitia Lomba Tradisional Gasing dan Belogo, Iwan, mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menjaga agar permainan tradisional tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Menurutnya, masyarakat, terutama generasi muda, perlu diberi kesempatan untuk mengenal dan memainkan kembali olahraga warisan leluhur tersebut.

Melalui perlombaan ini, gasing dan belogo tidak hanya diperkenalkan sebagai bagian dari tradisi masa lalu, tetapi juga dihidupkan sebagai kegiatan budaya yang dapat dinikmati masyarakat lintas generasi.

Keterlibatan puluhan peserta menunjukkan bahwa permainan tradisional masih memiliki ruang untuk berkembang. Selain mengasah keterampilan, perlombaan ini menjadi tempat bertemunya para penggiat permainan tradisional untuk berbagi pengalaman, mempererat hubungan, dan menjaga keberlanjutan tradisi.

Gasing dimainkan dengan teknik memutar agar tetap berputar selama mungkin, sedangkan belogo mengandalkan ketepatan dalam mengarahkan kepingan permainan menuju sasaran menggunakan alat pemukul. Keduanya membutuhkan konsentrasi, ketelitian, dan penguasaan teknik yang diperoleh melalui latihan.

Di balik kesederhanaan alat dan cara bermainnya, kedua permainan tersebut menyimpan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, pelestariannya tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan lomba sesekali, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan kesempatan bagi generasi muda untuk mempelajarinya secara langsung.

Lebih jauh, permainan tradisional seperti gasing dan belogo berpeluang dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata budaya Kutim. Jika dikemas secara berkelanjutan dalam agenda festival, kegiatan komunitas, maupun pertunjukan interaktif bagi pengunjung, permainan ini dapat memberikan pengalaman budaya yang khas dan membedakan Kutim dari daerah lain.

Pengembangan tersebut juga berpotensi membuka ruang bagi pelaku usaha lokal, mulai dari penjual makanan dan minuman hingga perajin alat permainan tradisional. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya menggerakkan ekonomi masyarakat.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa Erau Adat Pelas Benua merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan adat istiadat dan budaya Kutai. Penyelenggaraan kegiatan budaya diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi turut memperkuat kecintaan masyarakat terhadap identitas daerahnya.

Rumah Lamin Adat sebagai lokasi perlombaan juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan secara langsung praktik budaya yang masih bertahan. Kehadiran olahraga tradisional dalam rangkaian Erau memperkaya kegiatan tersebut, sehingga tidak hanya menjadi perayaan adat, tetapi juga sarana pembelajaran budaya bagi masyarakat dan pengunjung.

Tantangannya adalah memastikan permainan gasing dan belogo tetap dimainkan setelah perayaan berakhir. Pembinaan kelompok penggiat, pengenalan di lingkungan pendidikan, serta penyelenggaraan lomba secara rutin dapat menjadi langkah untuk menjaga agar keterampilan dan pengetahuan tentang permainan tersebut terus diwariskan.

Lomba gasing dan belogo dalam Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 pun membawa pesan lebih luas daripada sekadar kompetisi. Menjaga permainan tradisional berarti merawat ingatan kolektif masyarakat, memperkuat identitas budaya, dan membuka peluang agar warisan leluhur menjadi bagian dari daya tarik wisata serta pengembangan ekonomi lokal Kutim.
(kopi10/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini