Teks foto: Ribuan anak TK dan RA mengikuti Pengenalan Ibadah Haji 2026 di halaman Masjid Agung Al-Faruq, Bukit Pelangi, Sangatta, Kutai Timur, Rabu (16/9/2026). Foto: Nasruddin/Pro Kutim. (Nasruddin / Pro Kutim)
SANGATTA – Ribuan anak berbalut pakaian ihram memenuhi halaman Masjid Agung Al-Faruq, Komplek Islamic Center, di Bukit Pelangi, Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Rabu (16/9/2026). Di tempat itu, mereka belajar mengenal ibadah haji bukan melalui lembar bacaan semata, melainkan dengan bergerak, berjalan, mengitari replika Ka’bah, hingga mengikuti rangkaian manasik secara langsung.
Sebanyak 2.521 anak taman kanak-kanak (TK) dan raudhatul athfal (RA) dari Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan mengikuti kegiatan Pengenalan Ibadah Haji 2026. Peserta merupakan anak-anak kelompok B dari 48 lembaga pendidikan, didampingi 180 guru. Bagi anak-anak usia dini, pelaksanaan manasik tersebut menjadi ruang belajar yang berbeda. Mereka diperkenalkan pada sejumlah tahapan ibadah haji melalui peragaan yang disesuaikan dengan dunia mereka. Suasana belajar pun berlangsung dengan riang, tanpa melepaskan pesan keagamaan yang hendak ditanamkan.

Kegiatan edukatif tahunan itu dibuka Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono yang hadir mewakili Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Hadir pula Bunda PAUD Kutim Hj Siti Robiah Ardiansyah, perwakilan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kutim, Kepala Dinas Kesehatan Kutim Yuwana Sri Kurniawati, Camat Sangatta Utara Hasdiah Dohi, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Mulyono mengatakan, pengenalan ibadah haji sejak usia dini merupakan bagian penting dalam menanamkan nilai keagamaan dengan cara sederhana dan menyenangkan.
“Mungkin bagi anak-anak, kegiatan ini terasa seperti bermain dan belajar bersama. Tetapi sesungguhnya, banyak pelajaran baik yang dapat kita ambil dari ibadah haji,” katanya.

Pesan itu kemudian diarahkan pada keseharian anak. Nilai yang diperkenalkan melalui manasik tidak berhenti pada pemahaman tentang rangkaian ibadah, tetapi juga menyentuh perilaku yang dekat dengan kehidupan mereka, baik di sekolah maupun di rumah.
“Kalau di sekolah, anak-anak harus rajin belajar, mendengarkan Bapak dan Ibu Guru, serta menyayangi teman. Di rumah, anak-anak harus menghormati dan menyayangi ayah dan ibu, membantu orang tua, serta menjadi anak yang baik dan rajin beribadah,” ujarnya.
Pengenalan tersebut juga diharapkan menumbuhkan cita-cita anak untuk suatu hari nanti dapat menunaikan ibadah haji secara langsung di Tanah Suci.
“Hari ini kita memang baru belajar dan mengenal ibadah haji. Tetapi Bapak memiliki harapan besar, semoga suatu hari nanti Allah SWT memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk benar-benar pergi ke Tanah Suci dan melaksanakan ibadah haji bersama orang tua,” katanya.

Bunda PAUD Kutim Hj Siti Robiah menilai simulasi manasik haji memiliki arti penting dalam proses pendidikan anak usia dini. Menurut dia, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pendidikan agama sekaligus membentuk karakter.
“Kegiatan ini tidak hanya sekadar seremonial atau melakukan kegiatan yang rutin, tetapi kegiatan ini memang ingin memberikan wawasan kepada anak-anak kita, mengajak anak-anak kita melaksanakan praktik manasik haji dalam rangka memberikan pendidikan agama dan juga pendidikan karakter terbaik,” ujar Siti Robiah.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh anak-anak dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka beranjak dewasa. Nilai kedisiplinan dan kesabaran yang diperkenalkan melalui rangkaian manasik dinilai penting untuk dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak-anak kita sudah diberikan pembekalan tentang manasik haji. Kita berharap anak-anak kita di kemudian hari mampu melaksanakan ibadah haji bersama kedua orang tuanya serta keluarga besar mereka. Semoga Allah SWT mengabulkan,” tutur Siti Robiah.
Ketua Panitia Pengenalan Ibadah Haji 2026, Sri Wiyanti, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana pembelajaran agama yang lebih mudah dipahami anak usia dini.
“Izinkan saya menyampaikan kegiatan pengenalan ibadah haji ini diikuti oleh anak-anak TK kelompok B dan RA yang berjumlah 2.521 siswa dari 48 lembaga, serta didampingi oleh 180 guru pendamping,” ujar Sri Wiyanti.
Dalam kegiatan itu, anak-anak diperkenalkan pada sejumlah tahapan ibadah haji. Mereka belajar mengenakan pakaian ihram, melakukan tawaf, sai, salat, melempar jumrah, hingga tahallul.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan tata cara berhaji, dari memakai baju ihram, melempar jumrah, tawaf, salat, sai, sampai dengan tahallul. Setiap tahapan tersebut dapat menjadi media untuk mengenalkan sikap disiplin, sabar, dan saling membantu kepada anak-anak,” kata Sri Wiyanti.
Selepas pembukaan, ribuan peserta bergerak mengikuti peragaan manasik melalui sejumlah lokasi yang telah disiapkan panitia. Replika Ka’bah menjadi salah satu titik yang didatangi. Anak-anak juga mengikuti rangkaian kegiatan di tempat sai dan area lempar jumrah dengan pendampingan para guru.

Bagi mereka, tahapan demi tahapan itu hadir sebagai pengalaman belajar yang konkret. Apa yang sebelumnya mungkin hanya dikenal melalui cerita atau gambar diperagakan dalam bentuk yang lebih dekat dengan pengalaman anak. Di situlah kegiatan manasik haji menemukan maknanya sebagai pendidikan. Anak-anak tidak hanya diajak mengenali urutan pelaksanaan ibadah, tetapi juga diperkenalkan pada nilai yang menyertainya. Yaitu disiplin mengikuti tahapan, kesabaran dalam menjalani proses, serta kepedulian dan kemauan saling membantu.
Kegiatan Pengenalan Ibadah Haji 2026 pun menjadi bagian dari ikhtiar pendidikan anak usia dini di Kutim untuk mempertautkan pengetahuan keagamaan dengan pembentukan perilaku. Di halaman masjid itu, ribuan anak belajar melalui pengalaman yang sederhana, berjalan, mengikuti arahan, beribadah, dan bersama-sama menyelesaikan rangkaian manasik.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal yang terus tumbuh seiring perjalanan usia mereka, sehingga nilai religius, kedisiplinan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama tidak hanya dikenal dalam kegiatan manasik, tetapi berangsur menjadi bagian dari keseharian. (kopi14/kopi3)



























