Beranda Kutai Timur STIPER Kutim Siapkan Talenta untuk Industri dan Energi Masa Depan

STIPER Kutim Siapkan Talenta untuk Industri dan Energi Masa Depan

9 views
0

Suasana audiensi Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dengan Ketua dan sejumlah dosen STIPER Kutim. (Vian Pro Kutim)

SANGATTA – Perubahan kebutuhan industri dan arah pengembangan energi menuntut tenaga kerja dengan keterampilan yang semakin spesifik. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur merespons perubahan itu dengan memperkuat pendidikan vokasi dan membuka ruang penelitian di bidang perkebunan, gasifikasi, serta energi berbasis sumber daya terbarukan.

Langkah tersebut dibahas dalam audiensi Ketua STIPER Kutai Timur Fahmi bersama sejumlah dosen dengan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di ruang kerja Bupati, Jumat (25/9/2026).

Pertemuan itu membahas tiga fungsi utama perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiganya diarahkan semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja dan pembangunan daerah.

Fahmi mengatakan STIPER Kutai Timur saat ini memiliki 643 mahasiswa dan 49 dosen. Dari jumlah tersebut, 34 dosen telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan yang berlaku. Ketersediaan sumber daya tersebut menjadi modal bagi STIPER untuk mengembangkan pendidikan yang lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan lapangan kerja.

Salah satu rencana yang tengah dijajaki ialah pembukaan kelas vokasi Diploma Satu melalui kerja sama dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan STIPER Yogyakarta.

Program tersebut diarahkan untuk menghasilkan lulusan dengan keterampilan spesifik dan sertifikasi yang dibutuhkan perusahaan perkebunan kelapa sawit, termasuk perusahaan yang menerapkan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

GIZ merupakan lembaga kerja sama pembangunan internasional Jerman yang salah satu bidang kerjanya berkaitan dengan penguatan keterampilan dan pendidikan vokasi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan pendidikan tinggi dengan kebutuhan nyata industri perkebunan.

Fahmi mengatakan lulusan program vokasi juga berpeluang memperoleh dukungan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Peluang tersebut ditargetkan mulai terbuka paling cepat tahun depan bagi peserta yang memenuhi persyaratan.

Penguatan kompetensi tidak hanya diarahkan pada sektor perkebunan. STIPER Kutai Timur juga didorong melihat peluang pengembangan keilmuan yang berkaitan dengan sektor energi.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman meminta perguruan tinggi tersebut mulai mempersiapkan kompetensi yang relevan dengan perkembangan industri energi di daerah. Menurut dia, perguruan tinggi perlu membaca kebutuhan industri sejak awal agar masyarakat lokal memiliki kesempatan mengambil bagian ketika investasi dan teknologi berkembang.

Salah satu peluang tersebut berada di Bengalon melalui proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC). Proyek tersebut dirancang mengolah batu bara berkalori rendah menjadi metanol untuk kebutuhan industri sekaligus menjadi bagian dari agenda hilirisasi energi.

“STIPER harus menyiapkan orang-orang yang mampu bekerja pada industri yang akan berkembang di Kutai Timur, termasuk gasifikasi dan metanol di Bengalon,” kata Ardiansyah.

Menurut dia, perkembangan sektor energi tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia saat ini. Perguruan tinggi juga perlu memberi ruang bagi penelitian energi alternatif, termasuk bioetanol yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku energi.

Pengembangan bioetanol dapat mempertemukan dua kepentingan sekaligus, yakni meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan menyiapkan sumber energi alternatif. Bagi STIPER, bidang tersebut membuka ruang penelitian mulai dari penyediaan bahan baku, budi daya, teknologi pengolahan hingga pemanfaatannya sebagai bahan bakar.

Ardiansyah menilai pendidikan dan penelitian perlu bergerak lebih awal mengikuti perubahan kebutuhan industri. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menyesuaikan diri setelah industri berkembang, tetapi perlu menyiapkan kompetensi yang dibutuhkan sejak proses pengembangan berlangsung.

Dengan pendekatan tersebut, perkembangan investasi dan teknologi di Kutai Timur diharapkan membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat setempat untuk mengambil bagian melalui kompetensi yang dimiliki.

“Fokus kita mendukung program nasional untuk ketahanan energi,” tegasnya. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini