Sekretaris Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026, Heriansyah saat diwawancara Pro Kutim. Foto: Miftah/Pro Kutim
SANGATTA — Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali bersiap menggelar salah satu agenda budaya yang menjadi ruang pelestarian adat dan tradisi daerah. Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026 tahun ini mengusung tema “Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya” dan akan berlangsung pada 9-12 Oktober 2026 di area Rumah Adat Kutai, Jalan Poros Ringroad 1 menyemarakkan HUT ke-27 Kutim.
Memasuki H-2 pelaksanaan, persiapan kegiatan telah mencapai sekitar 97 persen. Sejumlah kebutuhan teknis dan rangkaian acara terus dimatangkan oleh panitia bersama perangkat daerah terkait.
Sekretaris Panitia Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026, Heriansyah, mengatakan secara umum seluruh persiapan telah berjalan sesuai rencana. Salah satu hal yang masih menjadi perhatian panitia yakni distribusi undangan kepada sejumlah pihak yang akan terlibat dalam perhelatan budaya tersebut.
“Alhamdulillah persiapan sudah 97 persen. Yang agak urgensi sekarang ini terkait undangan, karena informasi dari protokol baru dicetak kemarin. Harapannya, meskipun fisik menyusul, PDF-nya bisa segera diedarkan,” kata Heriansyah saat ditemui tim Pro Kutim, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, undangan juga berkaitan dengan kehadiran kerabat Kesultanan Kutai serta perwakilan dari sejumlah daerah lain. Hingga saat ini, pihak panitia telah mendapat informasi bahwa kerabat kesultanan akan hadir dalam jumlah sekitar 40 orang.
Selain itu, rombongan penari dari Cahaya Keraton diperkirakan datang dengan jumlah sekitar 28 orang menggunakan bus. Kehadiran peserta dari luar daerah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat nuansa budaya dalam pelaksanaan Erau.
“Insyaallah hadir. Dari kerabat kesultanan itu mungkin lebih kurang 40 orang. Kemudian penari sekitar 28 orang dari Cahaya Keraton, mereka naik bus sendiri,” ujarnya.
Heriansyah menambahkan, sejumlah pihak lain juga berpotensi hadir, termasuk perwakilan dari daerah sekitar. Panitia masih melakukan koordinasi terkait kedatangan masing-masing rombongan.
Dari sisi teknis kegiatan, pelaksanaan Erau juga melibatkan sejumlah perangkat daerah dengan tugas masing-masing. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim berperan dalam pelaksanaan berbagai lomba olahraga tradisional, sementara Dinas Pariwisata menangani sejumlah perlombaan budaya dan kreativitas, seperti kuliner Kutai, seni tingkilan, serta vlog bertema budaya.
Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim berkaitan dengan rangkaian acara adat dan sakral, di antaranya Beluluh dan Titi Bende.
Heriansyah menjelaskan, Titi Bende memiliki fungsi sebagai sarana menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai pelaksanaan kegiatan. Di era digital, penyampaian tersebut turut diperkuat melalui media sosial, spanduk, hingga videotron.
“Alhamdulillah sudah tayang, sudah publik. Di media sosial melalui Facebook, TikTok, Instagram, dan YouTube, kunjungannya juga lumayan banyak,” jelasnya.
Selain rangkaian perlombaan dan prosesi adat, Erau tahun ini juga menghadirkan kirab budaya yang melibatkan unsur masyarakat dari sejumlah kecamatan. Kirab tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus persembahan hasil bumi kepada pihak kesultanan.
Hasil bumi yang dibawa dalam kirab nantinya akan dikumpulkan, diolah, kemudian disantap bersama. Tradisi tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan dan ungkapan syukur atas hasil bumi yang diberikan.
“Kirab budaya itu semacam persembahan hasil bumi untuk Sultan. Nanti dikumpulkan, dimasak, lalu dimakan bersama. Itu sebagai bentuk rasa syukur,” terang Heriansyah.
Ia menegaskan, pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua bukan sekadar agenda tahunan, melainkan amanah untuk menjaga warisan luhur yang telah diwariskan para leluhur.
Hal itu sejalan dengan tema “Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya”, yang menurutnya mengandung harapan agar adat dan budaya terus hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari kemajuan Kutim.
“Kita menjalankan amanah ini sebagai warisan luhur yang harus kita lestarikan. Mudah-mudahan semuanya dimudahkan dan dilancarkan. Benua ini bertuah, Etam berjaya sesuai dengan temanya,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi pemerintah daerah, kesultanan, pemangku adat, perangkat daerah, serta seluruh elemen masyarakat, Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026 diharapkan mampu menjadi ruang untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai adat kepada generasi masa kini dan mendatang.(kopi17/kopi13/kopi3)



























