Beranda Kutai Timur IPK 3,97 Antarkan Dwi Mawar Jadi Lulusan Terbaik STIPER Kutim

IPK 3,97 Antarkan Dwi Mawar Jadi Lulusan Terbaik STIPER Kutim

6 views
0

Dwi Mawar Ningsih, lulusan Program Studi Agroteknologi STIPER Kutai Timur, meraih IPK 3,97 dan predikat cum laude sehingga dinobatkan sebagai lulusan terbaik pada Wisuda Sarjana ke-21 Tahun 2026. Foto: Dewi/Pro Kutim

SANGATTA – Konsistensi akademik mengantarkan Dwi Mawar Ningsih menjadi lulusan terbaik Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur pada Wisuda Sarjana ke-21 Tahun 2026. Mahasiswi Program Studi Agroteknologi itu meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97, menyelesaikan pendidikan dalam waktu 3 tahun 7 bulan, dan memperoleh predikat cum laude. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di antara 65 mahasiswa yang diwisuda STIPER Kutai Timur tahun ini. Prestasi Dwi menunjukkan perpaduan antara pencapaian akademik dan masa studi yang relatif singkat.

“Dwi Mawar Ningsih lahir di Wonogiri pada 23 September 2004. Ia menuntaskan pendidikan melalui proses akademik yang konsisten hingga akhir masa studi. IPK 3,97 menempatkannya sebagai lulusan dengan capaian akademik tertinggi pada wisuda tahun ini,” demikian Sebagian Riwayat Dwi Mawar Ningsih saat dibacakan oleh salah seorang dosen dari podium.

Prestasi akademik juga dicatat lulusan dari program studi lainnya. Masing-masing mencatat capaian melalui IPK, masa studi, dan predikat kelulusan yang diraih selama menjalani pendidikan. Dari Program Studi Kehutanan, Juniati Patangke Parimata menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,78. Ia menyelesaikan pendidikan selama 4 tahun 9 bulan dengan predikat sangat memuaskan. Pada Program Studi Ilmu Kelautan, Ripka Jani Parenget tercatat sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,75. Masa studinya berlangsung selama 3 tahun 10 bulan dengan predikat sangat memuaskan.

Sementara itu, Program Studi Peternakan menempatkan Rosiana Mentari Siahar sebagai lulusan terbaik. Ia meraih IPK 3,83, menyelesaikan pendidikan selama 3 tahun 10 bulan, dan memperoleh predikat cum laude. Untuk Program Studi Agroteknologi konsentrasi Agribisnis, lulusan terbaik diraih Nur Febrianti dengan IPK 3,87. Ia menuntaskan pendidikan dalam waktu 3 tahun 11 bulan dan memperoleh predikat cum laude.

Deretan capaian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya IPK. Kemampuan menyelesaikan pendidikan secara efektif sekaligus mempertahankan prestasi hingga akhir masa studi menjadi bagian dari pencapaian seorang mahasiswa.

Di antara capaian tersebut, prestasi Dwi menjadi yang paling menonjol. IPK 3,97 yang diraihnya, ditambah masa studi 3 tahun 7 bulan dan predikat cum laude, menempatkannya sebagai lulusan dengan capaian akademik tertinggi pada Wisuda Sarjana ke-21 STIPER Kutai Timur.

Prestasi para lulusan tersebut juga menjadi bagian dari tantangan STIPER Kutai Timur dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang pertanian dan sektor terkait. Perguruan tinggi pertanian tidak hanya dituntut menghasilkan sarjana, tetapi juga membekali lulusan dengan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam menghadapi persoalan nyata di lapangan.

Kebutuhan itu relevan bagi Kutai Timur yang memiliki sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan kelautan sebagai bagian dari basis ekonomi daerah. Lulusan dengan kemampuan akademik yang baik diharapkan mampu berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Karena itu, predikat lulusan terbaik tidak berhenti sebagai penghargaan atas capaian akademik. Predikat tersebut menjadi awal dari tanggung jawab setelah mahasiswa meninggalkan kampus, yakni membuktikan bahwa pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Bagi Dwi Mawar Ningsih, predikat lulusan terbaik menjadi penanda atas proses pendidikan yang telah dijalani. Bagi STIPER Kutai Timur, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan daya saing di bidang pertanian serta sektor terkait.

Wisuda Sarjana ke-21 dengan 65 lulusan pada akhirnya bukan hanya menandai berakhirnya masa pendidikan. Momentum tersebut juga menjadi awal bagi para lulusan untuk memasuki dunia kerja dan ruang pengabdian, dengan tantangan mengubah pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah. (kopi15/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini