Beranda Kutai Timur Merajut Tradisi dan Kebersamaan di Erau Adat Pelas Benua 2026

Merajut Tradisi dan Kebersamaan di Erau Adat Pelas Benua 2026

7 views
0

Jalannya prosesi beluluh di Erau Adat Pelas Benua 2026 dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA – Suasana Rumah Pore Adat Kutai di Jalan Ring Road, Sabtu (10/10/2026) tampak berbeda dari biasanya. Alunan tabuhan gendang dan suara belian yang bergemerincing bersahutan menyambut kedatangan para tamu undangan. Hari itu, Kutai Timur (Kutim) menggelar salah satu agenda budaya paling sakral dan dinanti-nanti, yaitu Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 mengambil tema Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya” yang turut menyemarakkan HUT ke-27 Kutim.

Acara yang sarat akan nilai historis dan spiritual leluhur ini resmi dibuka dan dihadiri langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman didampingi Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Wakil Bupati Mahyunadi, hingga jajaran Forkopimda dan undangan yang hadir. Kehadiran orang nomor satu di Kutim tersebut tidak hanya menjadi simbol dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya, tetapi juga wujud nyata komitmen menjaga identitas lokal di tengah arus modernisasi yang kian deras.

Begitu memasuki halaman Rumah Pore Adat Kutai, aroma dupa harum langsung menyeruak di udara. Para pemangku adat mengenakan busana kebesaran berwarna kuning cerah, warna khas Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Nama Beluluh berasal dari gabungan kata buluh, yang berarti batang bambu, dan luluh yang berarti musnah atau hancur. Nama ini merujuk pada balai bambu yang menjadi tempat prosesi Beluluh dilakukan. Melalui proses ini, diharapkan berbagai unsur buruk bisa luluh atau musnah. Beluluh juga tidak hanya dilakukan saat Erau saja. Dalam berbagai kesempatan penting seperti perkawinan adat, penyambutan tamu, dan kegiatan kesultanan lainnya juga bisa menampilkan prosesi Beluluh.

Hal yang menarik dari Beluluh adalah balai bambu bertingkat tiga yang menjadi tempat duduk sultan selama ritual berlangsung. Balai itu dibuat dari bambu kuning dengan 41 kaki atau tiang, makanya dikenal sebagai Balai 41. Balai tempat duduk raja juga dilengkapi berbagai unsur adat. Ada daun beringin atau rendu, kain kuning kirab tuhing, dan batu pijakan yang akan diinjak sultan saat menaiki balai.

Bupati Ardiansyah Sulaiman dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi mendalam kepada para tokoh adat, panitia penyelenggara, serta seluruh masyarakat yang terus konsisten merawat tradisi leluhur.

“Erau bukan sekadar ritual seremonial tahunan, melainkan momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus memperkuat fondasi kebudayaan masyarakat Kutai Timur,” tegasnya.

Selanjutnya, Erau Adat Pelas Benua ini adalah warisan luhur yang mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Melalui ritual pelas benua atau pembersihan negeri, kita berharap Kutai Timur senantiasa dilimpahi keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan,” tambahnya.

Puncak kehangatan acara terlihat ketika prosesi adat sakral dilaksanakan. Para tetua adat memimpin jalannya ritual dengan penuh khidmat. Warga yang hadir tampak antusias, mengabadikan setiap momen langka tersebut menggunakan ponsel pintar mereka, menciptakan perpaduan menarik antara tradisi masa lalu dan teknologi masa kini.

Salah satu momen yang paling menyedot perhatian masyarakat adalah pelaksanaan prosesi sakral beluluh. Warga tampak berjubel memadati area sekitar balai adat demi menyaksikan langsung ritual pensucian diri dengan menggunakan air tua dan sarana adat lainnya.

“Kami sengaja datang dari pagi demi bisa melihat langsung prosesi beluluh ini. Rasanya luar biasa dan merinding melihat sakralnya tradisi leluhur yang masih dijaga dengan baik di tengah kota,” ujar Siti Aminah (34), salah seorang warga Sangatta Utara yang hadir menyaksikan jalannya acara.

Senada dengan Siti, Rahmat (41) warga lainnya mengaku bangga bisa menjadi bagian dari kemeriahan tradisi ini.

“Ini tontonan sekaligus tuntunan buat anak-anak muda kita agar tidak lupa akar budaya asalnya,” urainya.

Tidak hanya ritual keagamaan dan kebudayaan, kemeriahan Erau 2026 juga diramaikan dengan pameran produk UMKM lokal, kuliner tradisional khas Kutai, serta pentas seni dan olahraga lintas etnis. Hal ini menunjukkan bahwa Erau telah bertransformasi menjadi ruang inklusif yang merangkul seluruh elemen masyarakat multikultural di Kutim, tanpa meninggalkan akar budaya aslinya.

Di tengah gempuran budaya luar, perhelatan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 di Rumah Pore Adat Kutai Jalan Ring Road ini memberikan pesan kuat bahwa kearifan lokal tidak boleh lekang oleh zaman. Dengan sinergi yang kokoh antara pemerintah daerah dan masyarakat adat, denyut nadi budaya Kutai akan terus hidup, berdetak kencang, dan menjadi kebanggaan abadi bagi generasi masa depan di Tuah Bumi Untung Benua.(Fan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini