Bupati Kutim Kejar Pemerataan dan Keadilan Pembangunan

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyampaikan sambutan pada peringatan HUT ke-27 Kutim, Senin (12/10/2026).

1001288322

SANGATTA - Bagi warga, kemajuan daerah menemukan artinya pada jalan yang dapat dilalui, sekolah yang terjangkau, layanan kesehatan yang tersedia, dan kesempatan memperoleh penghasilan. Ukuran itulah yang mengemuka dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur, Senin (12/10/2026). Kekayaan alam dan pertumbuhan ekonomi perlu menghadirkan manfaat yang menjangkau seluruh wilayah serta lapisan masyarakat.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengajak seluruh elemen daerah meninjau kembali perjalanan pembangunan. Hari jadi menjadi kesempatan untuk melihat capaian sekaligus menelaah pekerjaan yang belum tuntas. Bertambahnya usia kabupaten, menurut arah sambutannya, perlu diikuti komitmen untuk memperluas kesempatan warga menikmati kemajuan.

1001288323
1001288323

“Karena itu, Hari Ulang Tahun Kabupaten Kutai Timur bukan semata-mata momentum untuk mengenang apa yang telah kita capai. Lebih dari itu, hari ini adalah momentum untuk merefleksikan perjalanan pembangunan sekaligus meneguhkan arah Kutai Timur menuju masa depan yang lebih maju,” kata Ardiansyah dalam sambutannya.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama.” Di dalamnya terkandung dua tuntutan pembangunan yang saling bertaut: memperkuat kemampuan masyarakat dan memastikan hasil kemajuan terdistribusi secara adil.

1001288321
1001288321

Berdaya berarti warga memiliki kemampuan mengelola potensi, meningkatkan kualitas diri, dan membangun kemandirian ekonomi. Adapun tumbuh bersama menghendaki kesempatan berkembang yang menjangkau penduduk perkotaan hingga desa-desa yang jauh dari pusat pemerintahan. Tema tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat pembangunan.

Luas wilayah, keragaman potensi, dan perbedaan kebutuhan antarkawasan membuat pemerataan menjadi pekerjaan penting bagi Kutim. Pembangunan jalan dan jembatan perlu berjalan seiring dengan penyediaan pendidikan, kesehatan, air bersih, serta penguatan ekonomi warga. Kebutuhan setiap kawasan menjadi dasar untuk menentukan layanan dan sarana yang harus didahulukan.

Dengan demikian, pemerataan menyangkut akses yang layak terhadap pelayanan publik dan peluang memperbaiki taraf hidup. Perencanaan anggaran perlu menjawab kebutuhan tersebut, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur serta layanan dasar. Hasil program pun perlu dievaluasi berdasarkan perubahan yang dirasakan masyarakat.

Besarnya sumber daya alam Kutim membawa tanggung jawab untuk mengubah potensi menjadi kesejahteraan yang berkelanjutan. Pertambangan berperan dalam perekonomian daerah, sementara pengembangan sektor produktif lainnya diperlukan untuk memperluas sumber pertumbuhan.

Pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan industri pengolahan menjadi bagian dari arah penguatan ekonomi tersebut. Pengembangannya mencakup peningkatan produksi, pengolahan hasil, pembukaan lapangan kerja, serta penguatan usaha lokal. Rangkaian kegiatan itu diharapkan memperbesar nilai tambah dan pendapatan masyarakat.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan memiliki potensi untuk mendukung investasi dan industri yang terhubung dengan produksi lokal. Pertumbuhan kawasan perlu disertai keterlibatan pelaku usaha daerah, penyerapan tenaga kerja, dan terbukanya pasar bagi produk masyarakat.

Inovasi juga dibutuhkan agar hasil pertanian dan perkebunan memperoleh nilai tambah melalui pengolahan. Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, bersama peningkatan keterampilan tenaga kerja, menjadi bagian dari ikhtiar (usaha sungguh-sungguh) memperkuat ekonomi keluarga.

Perhatian terhadap masa depan Kutim turut hadir melalui deklarasi antinarkoba yang melibatkan sekitar 60 ribu pelajar se-Kutai Timur. Deklarasi menggunakan bahasa Kutai tersebut disebut masuk dalam catatan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Pelibatan puluhan ribu pelajar membawa pesan mengenai pentingnya perlindungan generasi muda. Pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang aman, dan kesempatan mengembangkan kemampuan merupakan bagian dari kebutuhan mereka. Pencegahan narkotika memerlukan keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, serta pemerintah secara berkesinambungan.

Penggunaan bahasa Kutai menghadirkan pendekatan budaya dalam penyampaian pesan antinarkoba. Bahasa daerah menjadi sarana untuk mendekatkan pesan kepada identitas masyarakat, sekaligus mempertemukan pelestarian budaya dengan pembentukan karakter generasi penerus.

Peringatan HUT ke-27 juga dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin serta dua mantan Bupati Kutim, Mahyuddin dan Isran Noor. Kehadiran mereka mengingatkan bahwa pembangunan berlangsung lintas kepemimpinan. Capaian yang telah dirintis perlu dijaga, sedangkan persoalan yang belum terselesaikan menjadi bahan evaluasi.

Pada usia ke-27, tantangan Kutim terletak pada kemampuan menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan kebutuhan sehari-hari penduduknya. Semangat “Berdaya, Tumbuh Bersama” memperoleh makna ketika desa memiliki kesempatan berkembang, usaha warga menguat, layanan dasar semakin terjangkau, dan pelajar dapat menyiapkan masa depan dalam lingkungan yang aman. Di situlah pemerataan menjadi uk

uran kemajuan daerah. (Yus/Fj)

Vian Pro kutim
Memuat tombol bagikan...