Jangan Tunggu Lowongan, Pemuda Kutim Diajak Ciptakan Lapangan Kerja

Jangan Tunggu Lowongan, Pemuda Kutim Diajak Ciptakan Lapangan Kerja

Suasana talk show interaktif karier 2026 yang diselenggarakan Alumni HIPMA-KT. Foto: Alvian/Pro Kutim 

SANGATTA - Masa depan pekerjaan tidak selalu bermula dari selembar pengumuman lowongan. Bagi generasi muda Kutai Timur, pilihan selepas sekolah dapat terbentang lebih lebar. Memasuki dunia industri, melanjutkan pendidikan, atau merintis usaha yang kelak membuka kesempatan bagi orang lain.

Gagasan itu mengemuka dalam Talk Show Peluang Kerja yang diselenggarakan Alumni Himpunan Mahasiswa Kutai Timur (HIPMA-KT) di Ruang Tempudau, Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Selasa, 8 September 2026. Para pelajar dari sejumlah SMA dan SMK di Kecamatan Sangatta Utara hadir untuk mengenali lebih dekat perubahan dunia kerja, kebutuhan industri, penguatan kompetensi, hingga peluang membangun usaha secara mandiri.

Di tengah bentang ekonomi Kutai Timur (Kutim) yang masih ditopang sektor pertambangan dan perkebunan, persoalan ketenagakerjaan tidak berhenti pada tersedia atau tidaknya pekerjaan. Ada perkara yang lebih mendasar: apakah tenaga kerja lokal memiliki kecakapan yang dibutuhkan perusahaan.

Wabup Kutim, Mahyunadi, mengatakan perusahaan memiliki peran penting dalam mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kesiapan tenaga kerja lokal. Penyerapan pekerja setempat, menurut dia, harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi masyarakat.

"Perusahaan harus ikut menjembatani link and match. Kalau kita ingin menyerap 80 persen tenaga kerja lokal, maka kebutuhan perusahaan harus disampaikan dengan jelas dan masyarakat juga harus dipersiapkan sesuai kebutuhan itu. Dengan begitu, tenaga kerja lokal tidak hanya menjadi prioritas secara aturan, tetapi benar-benar mampu memenuhi standar yang dibutuhkan perusahaan," kata Mahyunadi mewakili Bupati Kutim.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan ketenagakerjaan pada dua sisi yang saling bertaut. Di satu sisi, ada kebutuhan perusahaan terhadap pekerja dengan keterampilan tertentu. Di sisi lain, terdapat masyarakat lokal yang memerlukan akses terhadap kesempatan kerja. Jembatan di antara keduanya adalah kompetensi.

Pemerintah daerah, kata Mahyunadi, akan terus mendorong kolaborasi antara perusahaan, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, dan masyarakat. Tujuannya agar kesempatan kerja yang tersedia dapat diisi tenaga kerja lokal yang memiliki kemampuan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kutim, Sulisman, mengatakan pertambangan dan perkebunan masih menjadi sektor dominan di daerah tersebut. Dominasi itu menghadirkan peluang kerja, tetapi sekaligus menuntut kesiapan masyarakat agar tidak datang ke pasar kerja dengan bekal yang timpang.

Pemerintah daerah telah memiliki regulasi sebagai pijakan untuk memperkuat kesempatan kerja bagi masyarakat lokal, salah satunya melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2022.

"Perda Nomor 1 Tahun 2022 ini sudah ada dan bagaimana bisa diterapkan dengan baik. Kami sudah melakukan komunikasi dengan perusahaan, mulai dari level manajer. Pendekatannya tentu dengan mempertimbangkan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan," kata Sulisman.

Peraturan daerah tersebut menjadi landasan kebijakan komposisi tenaga kerja dengan mendorong penyerapan 80 persen pekerja lokal dan 20 persen pekerja dari luar daerah. Sepanjang tenaga kerja lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Di titik inilah pendidikan dan pelatihan memperoleh peran penting. Sulisman mengatakan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja siap memfasilitasi peningkatan kompetensi masyarakat, antara lain melalui pelatihan dan pemagangan.

Sejumlah keterampilan memiliki peluang di sektor industri, seperti operator alat berat dan welder (juru las). Namun, menurut Sulisman, keterampilan tersebut harus dipertautkan dengan kebutuhan konkret perusahaan. Tanpa pertautan itu, sertifikat atau kemampuan yang dimiliki calon pekerja belum tentu menjawab kebutuhan lapangan.

"Operator alat berat, welder dan berbagai keterampilan lainnya. Ada link and match antara kebutuhan perusahaan dan calon pekerja. Dinas Tenaga Kerja siap memfasilitasi agar kompetensi yang dimiliki masyarakat benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja," ujarnya.

General Manager Human Resources PT Kaltim Prima Coal (KPC), Iffan Fanani, membawa perspektif lain ke hadapan para pelajar. Dunia kerja, menurut dia, bergerak dengan perubahan yang cepat. Keterampilan teknis tetap diperlukan, tetapi tidak selamanya menjadi bekal yang memadai.

"Skill yang sifatnya teknikal makin pendek. Karena itu, jangan hanya mengandalkan skill teknis," kata Iffan.

Berikutnya yang semakin penting justru kemampuan manusia untuk berhubungan dengan manusia lain. Komunikasi, empati, etika, kasih sayang, dan kepemimpinan menjadi kecakapan yang tidak mudah digantikan oleh perubahan teknologi maupun tuntutan pekerjaan.

"Empati, komunikasi, kasih sayang, etika dan kepemimpinan menjadi pintu masuk. Itu yang membedakan kita dengan yang lain. Humanistik itu penting," ujarnya.

Pesan itu terdengar sederhana, tetapi memiliki makna panjang bagi pelajar yang tengah berdiri di ambang pilihan. Sekolah memberikan pengetahuan; pelatihan mengasah kecakapan; pengalaman mempertemukan keduanya dengan kenyataan. Dalam proses tersebut, kemampuan bernegosiasi, mendengarkan, memahami orang lain, dan bekerja bersama menjadi bagian dari bekal yang tidak kalah bernilai.

Iffan juga mendorong generasi muda aktif berorganisasi. Menurut dia, organisasi dapat menjadi ruang untuk berlatih berinteraksi, bernegosiasi, sekaligus mengenali kemampuan diri.

"Jangan perlu khawatir. Ikut organisasi, belajar bernegosiasi, belajar berempati dengan orang lain. Dari situ kita bisa menciptakan sebuah peluang," katanya.

Menurut Iffan, pengembangan generasi muda tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Dibutuhkan ekosistem yang mempertemukan dunia pendidikan, dunia usaha, lembaga pengembangan bisnis, dan bursa kerja khusus. Masing-masing memiliki peran dalam mempertemukan kebutuhan industri dengan potensi anak muda.

"Harus ada lembaga pengembangan bisnis, dunia pendidikan, bursa kerja khusus dan berbagai pihak yang bisa mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan generasi muda. Jadi bukan hanya bagaimana mencari pekerjaan, tetapi bagaimana menciptakan sebuah peluang," jelas Iffan.

Bagi para pelajar, percakapan dalam forum itu membuka cakrawala yang sebelumnya mungkin hanya dilihat dari satu arah. Nirwan, siswa SMK Negeri 2 Sangatta Utara, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pandangan baru mengenai pilihan setelah menyelesaikan pendidikan.

"Saya jadi tahu kalau setelah lulus sekolah tidak harus hanya mencari kerja. Kita juga bisa mencoba membuat usaha sendiri. Yang penting mau belajar dan berani mencoba," kata Nirwan.

Ia mengaku semakin terdorong mempersiapkan diri sejak masih duduk di bangku sekolah. Bekerja tetap menjadi salah satu tujuan, tetapi bukan satu-satunya jalan yang dibayangkan.

"Saya ingin punya pekerjaan yang baik. Tapi kalau ada kesempatan, saya juga ingin punya usaha sendiri. Kalau usaha itu berkembang, mungkin kita juga bisa membuka pekerjaan untuk orang lain," ujarnya.

Di situlah percakapan tentang lapangan kerja memperoleh makna yang lebih luas. Pekerjaan tidak melulu dipandang sebagai sesuatu yang dicari, melainkan sesuatu yang dalam keadaan tertentu dapat diciptakan. Kemandirian ekonomi tidak lahir dalam semalam. Ia bertumbuh dari keberanian belajar, kemampuan membaca peluang, kecakapan yang relevan, serta kemauan untuk terus menyesuaikan diri.

Talk Show Peluang Kerja Alumni HIPMA-KT pun menjadi ruang temu bagi para pelajar untuk melihat berbagai kemungkinan selepas pendidikan: melanjutkan studi, memasuki dunia industri, ataupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Bagi Kutai Timur, sektor pertambangan dan perkebunan tetap menjadi bagian penting dalam perekonomian daerah. Namun, masa depan generasi mudanya tidak harus berhenti pada satu pilihan. Semakin beragam kompetensi yang dimiliki, semakin luas pula kemungkinan bagi mereka untuk mengambil peran dalam perekonomian daerah. Bukan hanya sebagai pencari kerja, melainkan juga sebagai orang yang kelak menciptakan kesempatan bagi sesamanya. (kopi4/kopi3) 

00
Yus
Memuat tombol bagikan...
Memuat komentar...