SANGATTA - Langit di sejumlah kawasan Sangatta tampak memerah pada Rabu (14/10/2026) siang menjelang sore. Asap menyebar hingga ke sekitar rumah warga di Jalan Abdullah, Jalan Assadiyah, Jalan APT Pranoto, dan sekitarnya. Di lokasi kejadian, petugas pemadam masih berjibaku menangani api agar tidak meluas dan membahayakan permukiman.

Lokasi kebakaran berada di Jalan Guru Besar, Perumahan Puri Kencana, Batota. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Kutai Timur Sugiyo merespons kejadian tersebut dengan mengerahkan armada dan personel. Lima unit pemadam diturunkan, disertai tambahan unit pompa untuk mendukung penanganan di lapangan.
Personel yang terlibat berasal dari wilayah utara, selatan, dan markas komando atau mako. Pengerahan tersebut memusatkan tenaga serta peralatan pada upaya mengendalikan kobaran. Saat informasi ini dihimpun, api masih ditangani agar tidak semakin melebar.
Di tengah pemadaman, kebutuhan air membuat armada harus berulang kali meninggalkan lokasi untuk mengisi ulang persediaan. Masing-masing unit dilaporkan telah tiga kali kembali mengisi air di Mako Pendidikan. Perjalanan berulang itu menjadi bagian dari usaha menjaga pasokan air selama petugas menghadapi api.
"Masing masing sudah tiga kali balik mengisi air di Mako di Jalan Abdul Wahab Syahnarie," sebut Sugiyo.

Sementara penanganan berlangsung di titik kebakaran, asap telah menjangkau kawasan lain. Warga di sekitar Jalan Abdullah, Jalan Asadiyah, dan Jalan APT Pranoto menghadapi kepungan asap yang beredar hingga ke dekat hunian mereka. Dampak kejadian ini pun dirasakan melampaui lokasi tempat petugas bekerja.
Bagi masyarakat, ancamannya mencakup dua hal yang bertaut. Asap membawa risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, sedangkan api yang terus melebar dikhawatirkan dapat menjangkau rumah warga. Pengendalian kebakaran menjadi penting untuk melindungi keselamatan penduduk sekaligus mencegah kerugian yang lebih luas.
Sugiyo meminta dengan tegas agar warga turut mengantisipasi bahaya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Ia mengingatkan masyarakat untuk segera melaporkan kepada aparat berwenang apabila menemukan orang yang melakukan pembakaran lahan.

Pesan tersebut menempatkan kewaspadaan warga sebagai bagian dari pencegahan. Pembakaran lahan dapat menimbulkan bahaya bagi lingkungan sekitarnya ketika api semakin membesar. Karena itu, laporan kepada aparat diperlukan agar tindakan yang membahayakan tersebut tidak berlarut dan merugikan penduduk lain.
Dalam arahannya, Sugiyo menekankan bahwa bahaya kebakaran menyangkut kepentingan bersama. Api yang tidak terkendali dapat mengancam hunian, sementara asap menyebar ke kawasan tempat masyarakat beraktivitas dan tinggal. Warga diminta ikut menjaga lingkungan melalui kewaspadaan terhadap tindakan pembakaran lahan.
Penanganan di tempat kejadian perkara masih berlangsung ketika asap beredar ke berbagai arah. Belum ada keterangan dalam informasi yang diterima mengenai luas lahan terbakar, penyebab kejadian, maupun kerugian. Ancaman terhadap rumah warga masih berupa kekhawatiran yang harus dicegah melalui pengendalian api.

Di lokasi kejadian, lima unit pemadam, tambahan pompa, serta personel dari tiga wilayah terus diarahkan untuk membatasi perluasan kebakaran. Di kawasan terdampak, keselamatan warga menjadi kepentingan utama di tengah asap yang telah mendekati rumah mereka. Upaya pemadaman dan kewaspadaan masyarakat bertemu pada tujuan yang sama, menjaga agar bahaya tidak semakin meluas. (Fj)










