Beranda Kutai Timur Demi Kesejahteraan Nelayan, Diskan Kutim Bangun Ekosistem Perikanan 

Demi Kesejahteraan Nelayan, Diskan Kutim Bangun Ekosistem Perikanan 

31 views
0

Kepala Dinas Perikanan Kutai Timur, Yuliansyah, menyampaikan beberapa program untuk peningkatan produksi dan kesejahteraan nelayan. Foto: Alvian/Pro Kutim

SANGATTA – Meningkatkan produksi perikanan bukan perkara menambah jumlah ikan yang ditangkap atau dipanen. Di balik hasil laut, sungai, pesisir, dan tambak, terdapat mata rantai panjang yang menentukan apakah peningkatan produksi benar-benar berujung pada kesejahteraan nelayan dan pembudidaya. Sarana melaut, ketersediaan bahan bakar, mutu hasil tangkapan, akses pemasaran, harga jual, hingga biaya produksi menjadi bagian yang saling bertaut. Jika salah satu simpul tersendat, hasil produksi yang meningkat belum tentu mendongkrak pendapatan masyarakat.

Persoalan itulah yang kini menjadi perhatian Dinas Perikanan (Diskan) Kutai Timur (Kutim). Pemerintah daerah membangun ekosistem perikanan yang mencakup sektor tangkap dan budi daya, dengan dukungan yang tidak berhenti pada pemberian bantuan sarana produksi. Program tersebut mencakup peningkatan keterampilan, penguatan kelompok, pembenahan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, penyediaan sarana produksi, hingga perbaikan tata niaga hasil perikanan.

Kepala Diskan Kutim Yuliansyah mengatakan dukungan tersebut diarahkan agar nelayan dan pembudidaya bukan hanya mampu menghasilkan lebih banyak, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik dari usaha mereka.

“Kami tidak hanya memberikan bantuan sarana, tetapi bagaimana nelayan dan pembudidaya bisa meningkatkan produksinya. Nelayan dibantu dengan mesin kapal, alat tangkap dan cool box, sementara pembudidaya didukung melalui benih unggul, pakan, sarana budidaya dan pelatihan. Harapannya, usaha mereka semakin berkembang dan pendapatannya juga meningkat,” ujar Yuliansyah disampaikannya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, (27/8/2026).

Di sektor perikanan tangkap, bantuan sarana tersebut berjalan beriringan dengan pelatihan teknik penangkapan yang lebih efektif, keselamatan melaut, penanganan ikan setelah ditangkap, hingga pengolahan hasil. Salah satu sarana yang mendapat perhatian adalah cool box. Peralatan ini berperan menjaga kesegaran ikan sejak hasil tangkapan diangkat dari laut hingga tiba di pasar. Mutu yang terpelihara menjadi penting karena berhubungan langsung dengan nilai jual komoditas perikanan.

Namun, persoalan nelayan tidak berhenti di laut. Hasil tangkapan yang melimpah tetap dapat kehilangan sebagian nilai ekonominya apabila harus melewati rantai distribusi yang panjang sebelum sampai ke konsumen. Karena itu, Diskan Kutim juga memperkuat kelompok nelayan sekaligus mendorong pembenahan akses pemasaran. Pemerintah daerah berupaya memangkas jalur distribusi agar perbedaan harga antara tingkat nelayan dan konsumen tidak terlalu lebar.

“Kami juga akan berupaya memangkas jalur distribusi ikan. Harapannya, selisih harga yang diterima nelayan dengan harga di pasar tidak terlalu besar. Nelayan mendapatkan harga yang lebih baik, sementara masyarakat juga bisa memperoleh ikan dengan harga yang terjangkau,” kata pria yang memiliki tiga putri tersebut.

Langkah itu memperlihatkan bahwa pembangunan perikanan tidak hanya diukur dari banyaknya ikan yang diproduksi. Ada persoalan tata niaga yang turut menentukan manfaat ekonomi yang diterima masyarakat. Dengan rantai pemasaran yang lebih efisien, nelayan memiliki peluang memperoleh harga yang lebih layak, sedangkan konsumen tetap dapat membeli ikan dengan harga terjangkau.

Di sektor budi daya, perhatian Diskan Kutim diarahkan pada sejumlah kebutuhan mendasar pembudidaya. Benih unggul dan berkualitas, pakan mandiri, mesin pakan, serta pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari upaya menekan biaya produksi. Dukungan juga mencakup kolam, tambak, keramba jaring apung, pompa, dan peralatan produksi. Semuanya disertai pelatihan teknik budi daya dan penerapan sistem yang ramah lingkungan.

Salah satu pekerjaan yang terus dilakukan ialah revitalisasi tambak. Pada 2025, Diskan Kutim merevitalisasi 115,9 hektare tambak masyarakat di Muara Bengalon. Program itu berlanjut pada 2026 melalui revitalisasi sekitar 20 hektare tambak. Langkah serupa dilakukan terhadap Balai Benih Ikan Kecamatan Kaubun. Revitalisasi fasilitas tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan benih berkualitas bagi para pembudidaya.

“Kami ingin tambak-tambak yang selama ini belum optimal bisa kembali produktif dan memberikan hasil yang lebih baik bagi masyarakat,” jelas mantan Sekretaris Dinas Perkim itu.

Revitalisasi menjadi penting karena lahan budi daya yang tidak berfungsi secara optimal pada akhirnya kehilangan nilai produktifnya. Dengan pembenahan sarana dan dukungan input produksi, tambak diharapkan kembali menjadi ruang usaha yang memberikan hasil bagi masyarakat. Peningkatan produksi juga membutuhkan prasarana yang mampu menghubungkan sentra perikanan dengan pasar. Dalam konteks itu, Diskan Kutim melakukan optimalisasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Pelabuhan Kenyamukan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki kewenangan di bidang kelautan.

Sementara itu, pembangunan TPI di Bual-Bual sedang berlangsung melalui dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Ganda Alam Makmur. Di Pelabuhan Kenyamukan, dukungan bagi nelayan juga akan diperkuat melalui fasilitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) khusus nelayan. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai berfungsi pada Oktober 2026. Kehadiran fasilitas itu diharapkan memudahkan nelayan memperoleh bahan bakar sekaligus membantu menekan biaya operasional melaut. Bagi nelayan, kemudahan memperoleh BBM merupakan bagian penting dari keberlangsungan aktivitas penangkapan.

Pembangunan infrastruktur tersebut tidak berhenti pada 2026. Pada 2027, Diskan Kutim merencanakan kerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur untuk melakukan pengerukan pelabuhan. Pengerukan itu diharapkan memungkinkan kapal dengan tonase lebih besar memasuki kawasan pelabuhan. Dengan akses tersebut, pendaratan dan distribusi hasil tangkapan diharapkan semakin lancar sekaligus membuka peluang peningkatan produksi nelayan.

Rangkaian program itu menjadi bagian dari dukungan terhadap 50 program Bupati Kutim, terutama yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi masyarakat, penguatan sektor produktif, dan pemanfaatan potensi daerah. Bagi Kutim, sektor perikanan memiliki ruang pengembangan yang tidak hanya bertumpu pada hasil tangkapan. Potensi laut, pesisir, sungai, dan budi daya dapat menjadi sumber penghidupan apabila dikelola dengan dukungan sarana, keterampilan, teknologi, infrastruktur, serta tata niaga yang memadai. Karena itu, Diskan Kutim menempatkan pembangunan perikanan dalam satu ekosistem. Nelayan didorong meningkatkan produktivitas, pembudidaya dibantu menekan ongkos produksi, mutu hasil tangkapan dijaga, fasilitas pemasaran diperkuat, dan jalur distribusi dipersingkat.

Ujung dari seluruh ikhtiar tersebut bukan semata-mata angka produksi. Yang lebih penting ialah memastikan hasil perikanan memberi nilai tambah bagi orang-orang yang menggantungkan penghidupan dari sektor tersebut. Dengan produksi yang semakin kuat dan mata rantai pemasaran yang lebih tertata, Kutim diharapkan mampu memenuhi kebutuhan ikan melalui produksi sendiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini