Beranda Kutai Timur Dwi Mawar, Perantau Ukir Prestasi di STIPER Kutim

Dwi Mawar, Perantau Ukir Prestasi di STIPER Kutim

13 views
0

Teks foto
Dwi Mawar Ningsih, lulusan terbaik STIPER Kutai Timur dengan IPK 3,97, saat diwawancarai Pro Kutim usai mengikuti Wisuda Sarjana ke-21 Tahun 2026. Foto Bagus Pro Kutim.

SANGATTA – Rasa haru dan bangga tak dapat disembunyikan Dwi Mawar Ningsih saat namanya diumumkan sebagai lulusan terbaik Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur (Kutim) pada Wisuda Sarjana ke-21 Tahun 2026. Mahasiswi Program Studi Agroteknologi kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 23 September 2004 itu meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 dengan predikat cum laude. Di balik capaian akademik tersebut tersimpan cerita perjuangan seorang anak perantau yang mengukir sejarah baru di keluarganya.

“Alhamdulillah, senang sekali. Apalagi saya kan dari luar Kalimantan. Ini jadi kebanggaan tersendiri buat orang tua saya, di mana saya adalah anak pertama di keluarga yang berhasil punya gelar sarjana,” ungkap Dwi saat ditemui usai prosesi wisuda di Gedung Serba Guna, Komplek Pusat Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kutai Timur di Bukit Pelangi, Sangatta Utara, Rabu (7/10/2026).

Keberhasilan akademik Dwi berakar dari kepeduliannya terhadap persoalan nyata di sektor pertanian lokal. Untuk tugas akhir, ia memilih penelitian uji varietas mentimun, sebuah topik yang terinspirasi dari interaksinya dengan para petani di Sangatta.

“Di Sangatta varietas mentimun yang beredar sangat banyak. Waktu saya turun langsung ke lapangan dan berdialog dengan petani, ternyata banyak yang mengeluhkan kebingungan dalam menentukan mana varietas yang paling cocok dan unggul. Dari permasalahan itu saya tergerak untuk meneliti,” ujar Dwi.

Merantau ke Kutim bersama ayah dan ibunya memberi dinamika tersendiri bagi Dwi. Berlatar belakang suku Jawa, ia mengaku tantangan terbesarnya pada awal masa kuliah adalah beradaptasi dengan lingkungan kampus yang sangat beragam.

“Tantangan pertama tentu penyesuaian diri. Di kampus itu terdiri dari berbagai macam suku. Tapi dari sana kita dilatih untuk saling memahami dan beradaptasi. Kami berjuang bersama dari nol sampai lulus bareng, jadi ikatan kekeluargaannya sangat terasa. Saya bangga dengan teman-teman semua,” tuturnya.

Bagi rekan-rekan mahasiswa yang masih berjuang di bangku kuliah, Dwi menitipkan pesan agar tetap menjaga optimisme di tengah berbagai persoalan yang dihadapi.

“Untuk teman-teman yang masih studi, tetap semangat terus. Apa pun rintangan di depan, tetap dijalani, pasti ada jalannya. Tetap berdoa dan terus mencoba,” pesannya.

Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Pertanian (S.P.), Dwi mengaku tidak ingin berpuas diri. Ia telah menyiapkan langkah berikutnya untuk mengembangkan diri dan membangun karier.

“Rencana ke depan, saya mau mencoba berburu beasiswa untuk lanjut studi sekaligus mulai mencari pekerjaan,” pungkasnya. (kopi5/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini