Teks foto:
Empat olahraga tradisional, yakni gasing, sumpit, belogo, dan ketapel, akan diperlombakan dalam Festival Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026. Kegiatan menjadi ruang pengenalan kembali permainan tradisional kepada masyarakat, pelajar, dan komunitas olahraga tradisional. Foto: Dok. Dispora Kutim untuk Pro Kutim.
SANGATTA – Gasing berputar, sumpit membidik sasaran, belogo menguji kecermatan, sementara ketapel menuntut ketenangan tangan. Empat permainan tradisional itu akan kembali mengambil tempat di tengah masyarakat Kutai Timur melalui Festival Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026.
Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur memasukkan gasing, sumpit, belogo, dan ketapel sebagai bagian dari rangkaian festival yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-27 Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan berlangsung pada 9-12 Oktober 2026 di area Rumah Adat Kutai, Jalan Poros Ringroad 1, Sangatta.
Perlombaan tersebut terbuka bagi komunitas olahraga tradisional, pelajar, serta masyarakat umum di wilayah Kutai Timur. Kehadirannya bukan hanya untuk mengisi panggung perayaan, melainkan menjadi ikhtiar mengenalkan kembali permainan yang dahulu lekat dengan kehidupan masyarakat.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kutim, Anisia Astuti, yang mewakili Kepala Dispora Kutim Basuki Isnawan, mengatakan olahraga tradisional memiliki hubungan dengan perjalanan kehidupan masyarakat dari masa ke masa.
“Olahraga tradisional itu kita lombakan di masyarakat. Kita kembangkan dan kita perkenalkan kembali olahraga tradisional, karena ini merupakan olahraga nenek moyang kita dulu,” ujar Anisia kepada Prokutim, Rabu (7/10/2026).

Empat cabang yang diperlombakan membawa watak permainan yang berlainan. Gasing bertumpu pada keseimbangan dan keterampilan memutar. Sumpit menuntut ketepatan membidik sasaran. Belogo mengandalkan kecermatan sekaligus teknik, sedangkan ketapel menguji kemampuan mengarahkan bidikan.
Di balik bentuknya yang sederhana, permainan tersebut menyimpan pelbagai keterampilan. Peserta dituntut memiliki konsentrasi, koordinasi gerak, ketepatan, strategi, serta kecakapan yang tidak serta-merta terbentuk tanpa latihan.
Karena itu, olahraga tradisional dapat menjadi ruang perjumpaan antara aktivitas fisik dan warisan kebudayaan. Permainan yang lahir dari keseharian masyarakat terdahulu itu memperoleh kesempatan untuk kembali dimainkan, dipelajari, dan dikenal oleh generasi yang tumbuh dalam lanskap kehidupan yang berbeda.
Anisia menilai pengenalan kembali olahraga tradisional semakin penting seiring perubahan kebiasaan bermain anak-anak dan remaja. Perangkat digital telah menjadi bagian dari keseharian, sehingga aktivitas fisik berbasis permainan tradisional perlu kembali diberi ruang.
“Sekarang olahraga tradisional sudah mulai diminati. Kenapa? Supaya anak-anak kita tidak cuma bermain game saja. Jadi kita kembangkan dan kita perkenalkan olahraga tradisional ini,” katanya.
Menurut Anisia, manfaat olahraga tradisional tidak berhenti pada pelestarian permainan lama. Aktivitas tersebut juga memiliki unsur kesehatan dan keterampilan. Setiap cabang mempunyai tingkat kesulitan masing-masing sehingga peserta membutuhkan kemampuan khusus untuk menguasainya.
“Olahraga tradisional sebenarnya sehat juga. Butuh keterampilan, butuh imajinasi dan skill yang tinggi. Karena tidak semua orang bisa di olahraga tradisional ini,” jelasnya.
Agar perlombaan berlangsung sesuai ketentuan, Dispora Kutim menyiapkan proses penjurian dengan melibatkan wasit atau juri yang memahami karakter masing-masing cabang olahraga. Selain dari unsur Dispora, tenaga dari luar yang memiliki kemampuan dan sertifikasi di bidang olahraga tradisional juga dapat dilibatkan.
Pendaftaran peserta telah dibuka sejak Selasa (6/10/2026) dan dijadwalkan ditutup pada Jumat (9/10/2026) pukul 07.30 Wita.
Masyarakat Kutai Timur yang ingin mengikuti perlombaan maupun mengembangkan kemampuan dalam olahraga tradisional mendapat kesempatan untuk ambil bagian.
Dalam konteks Festival Erau Adat Pelas Benua, perlombaan tersebut mempertautkan olahraga dengan kebudayaan. Permainan yang diwariskan dari generasi terdahulu tidak dibiarkan menjadi kenangan yang hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi dihadirkan kembali sebagai aktivitas yang dapat dimainkan, dipertandingkan, sekaligus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Bagi masyarakat, ruang seperti ini memberi pilihan kegiatan yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga mengandung aktivitas fisik dan keterampilan. Bagi kebudayaan, permainan tradisional menjadi bagian dari warisan yang memperoleh ruang untuk terus hidup melalui keterlibatan masyarakat. Anisia berharap masyarakat Kutai Timur semakin mengenal berbagai jenis olahraga tradisional dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
“Harapan kami, masyarakat Kutai Timur semakin mengenal olahraga tradisional. Selain menyehatkan, olahraga tradisional juga merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu terus kita lestarikan dan kembangkan,” pungkas Anisia. (kopi8/kopi4/kopi3)






























