Pangeran Heriansyah saat membacakan sambutan Sultan Kukar Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin. Foto. Bagus Pro Kutim
SANGATTA – Pelaksanaan puncak Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur (Kutim) 2026 yang dipusatkan di Balai Adat Besar Kutai (Rumah Adat Kutim) pada Minggu (11/10/2026) tidak hanya menjadi momentum pelestarian tradisi leluhur, tetapi juga mengusung misi besar dalam membangun ekosistem pariwisata budaya yang berkelanjutan dan berdaya saing luas.
Event akbar yang bertepatan dengan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutim ini dipandang memiliki prospek cerah untuk mengangkat potensi daerah ke kancah nasional maupun internasional.
Dalam pengembangan pariwisata modern, pelestarian tradisi harus mampu memberikan nilai tambah bagi para pelancong. Pangeran Hario Noto Negoro (Heriansyah), yang hadir mewakili Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, mengungkapkan bahwa wisatawan masa kini baik nusantara maupun mancanegara tidak hanya mencari tontonan, tetapi menginginkan experience atau pengalaman autentik secara langsung.
“Para wisatawan sekarang, wisman maupun wisnus, mereka inginnya ada experience, ada pengalaman yang mereka dapat. Bagaimana kita mengolah acara itu sehingga ini benar-benar punya daya tarik dan mereka punya pengalaman untuk kembali lagi dan membawa teman-temannya,” ujar Heriansyah.

Dengan pengelolaan event yang matang, tradisi budaya lokal diyakini mampu memikat minat kunjungan wisata secara masif, seperti halnya kesuksesan destinasi budaya unggulan di berbagai daerah lain.
Lebih dari sekadar perayaan seni dan budaya, Erau Adat Pelas Benua dirancang untuk mengalirkan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat. Kebudayaan terbukti menjadi daya tarik pariwisata yang kuat sekaligus motor penggerak ekonomi daerah.
Melalui penyelenggaraan event ini, berbagai sektor pendukung pariwisata turut hidup dan berkembang, di antaranya pemberdayaan UMKM lokal dengan membuka peluang pasar bagi para pedagang kuliner tradisional dan pelaku ekonomi kreatif. Sektor jasa dan akomodasi dengan meningkatkan okupansi penginapan, hotel, serta permintaan layanan transportasi. Kesejahteraan masyarakat dengan menghidupkan sektor pertanian, perkebunan, dan kerajinan tangan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang terintegrasi.

Potensi besar yang dimiliki oleh ragam budaya Kutim membuka peluang besar untuk mengintegrasikannya ke dalam agenda pariwisata nasional. Mengaca pada kesuksesan event serupa yang telah masuk dalam program strategis nasional seperti Karisma Event Nusantara (KEN) serta terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, promosi pariwisata budaya Kutim dapat diperluas melalui kanal-kanal resmi Kementerian Pariwisata.
Kendati demikian, penguatan infrastruktur pendukung, konektivitas transportasi, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat terus dioptimalkan agar standarisasi pelayanan wisata semakin prima.
Dengan terbangunnya sinergi yang kuat antara pelestarian adat, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola pariwisata yang profesional, Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 diharapkan mampu menjadi tonggak kokoh dalam mewujudkan kemandirian daerah berbasis kearifan lokal.(Rio/Fan/Fj)































