Infografik hasil pemantauan kualitas udara Dinas Kesehatan Kutai Timur, Kamis (8/10/2026)
SANGATTA – Di balik keputusan pemulihan pembelajaran, data Dinas Kesehatan Kutim memperlihatkan gambaran pencemaran udara yang masih memerlukan kewaspadaan. Hasil pengawasan pada Kamis (8/10/2026), pukul 08.00–10.00 WITA, menunjukkan sebagian besar lokasi pengukuran di fasilitas pelayanan kesehatan mencatat konsentrasi partikel pencemar melebihi baku mutu.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, melalui data pengawasan kualitas udara instansinya, menyampaikan gambaran kondisi lingkungan berdasarkan pengukuran yang dilakukan di sejumlah puskesmas.
Dari 19 puskesmas yang memiliki hasil pengukuran, sebanyak 17 fasilitas kesehatan atau 89,5 persen mencatat konsentrasi PM2,5 di dalam ruangan melampaui baku mutu sebesar 25 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, 15 puskesmas atau 78,9 persen menunjukkan konsentrasi PM10 dalam ruangan melebihi ambang 70 mikrogram per meter kubik.

Kondisi udara di luar bangunan juga belum sepenuhnya memenuhi standar. Sebanyak tujuh puskesmas atau 36,8 persen mencatat kadar PM2,5 luar ruangan melampaui batas 55 mikrogram per meter kubik. Adapun 13 puskesmas atau 68,4 persen menunjukkan konsentrasi PM10 luar ruangan melebihi ambang 75 mikrogram per meter kubik.
Dua puskesmas, yakni Rantau Pulung dan Muara Ancalong, belum memiliki hasil pengukuran dalam laporan pagi tersebut. PM2,5 merupakan partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sedangkan PM10 mencakup partikel berdiameter hingga 10 mikrometer. Partikel tersebut menjadi perhatian dalam pengawasan kualitas udara karena dapat terhirup dan berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan.
Berdasarkan rekomendasi Dinas Kesehatan, lokasi dengan konsentrasi pencemar sangat tinggi perlu menjalani verifikasi dan pengukuran ulang. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi lingkungan sekaligus menjadi dasar penanganan yang sesuai. Pengawasan juga diarahkan pada identifikasi sumber pencemaran, pengendalian debu, peningkatan ventilasi, serta pemantauan kualitas udara secara berkala.
Data itu sekaligus memperlihatkan bahwa berada di dalam bangunan belum tentu menjamin seseorang terbebas dari paparan partikel pencemar. Kondisi ruangan, ventilasi, dan sumber polutan di sekitarnya tetap perlu diperhatikan.

Hasil pemantauan Dinas Kesehatan menunjukkan perbedaan konsentrasi pencemar yang cukup mencolok antarlokasi. Puskesmas Wahau II mencatat kadar PM2,5 dalam ruangan sebesar 109 mikrogram per meter kubik dan PM10 mencapai 251 mikrogram per meter kubik. Keduanya menjadi hasil pengukuran tertinggi untuk parameter udara di dalam ruangan.
Di Puskesmas Busang, konsentrasi PM2,5 dalam ruangan juga mencapai 109 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM10 tercatat 243 mikrogram per meter kubik. Keadaan lebih mencolok ditemukan pada pengukuran luar ruangan di Puskesmas Long Mesangat. Konsentrasi PM2,5 mencapai 362 mikrogram per meter kubik, sementara PM10 menyentuh 540 mikrogram per meter kubik. Kedua angka tersebut merupakan yang tertinggi untuk parameter udara luar ruangan dalam laporan pengawasan pagi itu.
Di Muara Bengkal, konsentrasi PM2,5 luar ruangan mencapai 160 mikrogram per meter kubik dan PM10 sebesar 371 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, Puskesmas Wahau I mencatat PM2,5 dalam ruangan sebesar 98 mikrogram per meter kubik dan PM10 mencapai 205 mikrogram per meter kubik.
Berdasarkan hasil pengawasan, Dinas Kesehatan menempatkan Wahau II, Busang, Telen, dan Long Mesangat sebagai lokasi prioritas pertama yang memerlukan investigasi segera. Adapun Kaliorang, Muara Bengkal, Sangatta Selatan, Teluk Pandan, dan Sepaso masuk kelompok prioritas kedua, dengan penekanan pada pengendalian dan pemantauan intensif. Penetapan tersebut menjadi landasan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar dalam pengawasan kesehatan lingkungan.
“Sementara dari pemantauan Puskesmas Sangatta Utara, Teluk Lingga, Tepian Baru, Sandaran, Karangan, Kombeng serta Batu Ampar sudah masuk prioritas 3 atai pemantauan berkala. Bisa dikatakan aman,” jelas Yuwana yang pernah menjabat Kepala Puskesmas Teluk Lingga. (kopi3)





























