Jalannya prosesi Pelas Benua Erau Kutim 2026.Foto: Bagus/Pro Kutim
SANGATTA – Suasana khidmat dan penuh nilai budaya menyelimuti Rumah Pore Adat Kutai di Jalan Ring Road pada Sabtu (10/10/2026). Masyarakat bersatu dalam prosesi ritual adat Pelas Benua, yang menjadi salah satu bagian inti dari rangkaian perayaan Erau Adat Kutai Timur (Kutim).
Ritual pusaka ini dihadiri langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin beserta kerabat kesultanan. Turut hadir jajaran pimpinan daerah, di antaranya Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi beserta istri, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, serta para tamu undangan.

Prosesi Pelas Benua bukan sekadar upacara adat seremonial, melainkan sarat akan makna spiritual dan sosial. Upacara ini digelar sebagai bentuk doa bersama memohon keselamatan, kedamaian, serta ketenteraman bagi seluruh masyarakat Kutim. Selain itu, ritual ini bertujuan untuk membersihkan wilayah Kutai dari unsur-unsur buruk serta memohon perlindungan agar terhindar dari musibah, wabah penyakit, dan bencana.
Lebih dari itu, pelaksanaan Pelas Benua menjadi momentum krusial dalam mempererat tali silaturahmi serta persaudaraan antara pihak Kesultanan Kutai Ing Martadipura dengan pemerintah daerah dan masyarakat luas, sekaligus sebagai wujud nyata pelestarian warisan tradisi leluhur suku Kutai.
Di bawah pimpinan pemangku adat dan pemimpin ritual yang menjalankan tata cara adat Kutai, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung khusyuk sejak siang hari.

Prosesi dilanjutkan dengan Betangasan yang dipimpin oleh pemangku adat sesuai prosedur adat Kutai yang berlaku. Setelah itu, dilakukan penyerahan tepong tawar untuk memohon berkah kepada Sultan Kutai Kartanegara selaku pemimpin ritual. Prosesi mentepung tawari pemangku adat dan majelis kemudian dipimpin oleh Pangeran Notonegoro Heriansyah, yang disusul dengan penyerahan tepong tawar dari Sultan kepada para pemangku adat serta majelis adat.

Selanjutnya, pemangku adat menyerahkan peduduk kepada pemimpin ritual, Ahmad Yani, dilanjutkan dengan prosesi menepung tawari para tamu undangan dan pejabat yang hadir. Sebagai tanda bakti dan penghormatan rakyat kepada rajanya, digelar pula prosesi Membasoh Kaki Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan prosesi menepung tawari patung singa, Kantor Bupati Kutim, dan Kantor DPRD oleh Pebelian, Pemangku Adat, serta Majelis. Seluruh rangkaian upacara adat Pelas Benua ini ditutup dengan lancar dan penuh keberkahan.(Rio/Fan/Fj)






























