Beranda Kutai Timur Dua Nikmat Kala Perempuan Sangatta Merawat Literasi dan Jiwa

Dua Nikmat Kala Perempuan Sangatta Merawat Literasi dan Jiwa

29 views
0

Jalannya bedah buku gelaran Hijabers Kutim di Rujab Wakil Bupati. Foto: Bahtiar/Pro Kutim

SANGATTA — Suasana di Rumah Jabatan Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) di Bukit Pelangi, Selasa (14/7/2026), terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada ketegangan rapat birokrasi atau hiruk-pikuk kedinasan yang kaku. Pagi itu, ruangan dipenuhi warna-warni jilbab dan gemerisik lembaran kertas. Puluhan perempuan yang tergabung dalam Hijaber Community Kutim berkumpul, melingkar, dan larut dalam lembar demi lembar gagasan.

Mereka sedang merawat sesuatu yang mulai langka di era digital: tradisi membaca dan membedah buku. Di tengah gempuran informasi instan lewat gawai, ruang-ruang diskusi fisik seperti ini menjadi oase. Kehadiran Wakil Bupati Kutim Mahyunadi di tengah-tengah mereka menegaskan dukungan atas gerakan literasi yang dimotori oleh kaum perempuan dan generasi muda di daerah tersebut.

Bagi Mahyunadi, berkumpulnya komunitas ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia memandangnya sebagai sebuah berkah yang sering kali luput dari rasa syukur manusia.

“Ini merupakan dua nikmat yang bisa kita rasakan hari ini, yaitu nikmat sehat dan nikmat sempat,” ujar Mahyunadi di hadapan para peserta.

Kalimat itu diucapkannya bukan tanpa alasan. Di tengah kesibukan yang padat, meluangkan waktu untuk menuntut ilmu adalah sebuah kemewahan spiritual. Menurut dia, banyak orang yang diberikan kesehatan, namun tidak memiliki waktu luang. Sebaliknya, banyak yang memiliki waktu luang, tetapi fisiknya tak lagi mampu merajut produktivitas.

Dalam jeda bicaranya, Mahyunadi menyelipkan sebuah pesan reflektif tentang bagaimana menyikapi dinamika kehidupan.

“Ada banyak kejadian yang bisa kita ambil hikmah dalam hidup. Tips kalau mau nikmat hidup lancar, perbanyaklah ibadah dan bersedekah,” tuturnya. Pesan spiritual ini seketika memberi kedalaman emosional pada acara yang sejatinya bertema literasi tersebut.
Diskusi kemudian mengalir hangat saat penulis dan narasumber mulai mengupas isi buku. Lembar demi lembar gagasan dibedah, memicu dialog interaktif yang hidup. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari para peserta, menunjukkan bahwa minat kritis masyarakat Sangatta, khususnya kaum perempuan, masih menyala.

Mahyunadi menekankan bahwa peran perempuan terutama seorang ibu sangat strategis dalam membangun peradaban kecil di dalam rumah. Perempuan adalah madrasah pertama. Di tangan merekalah budaya membaca, mencintai ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter generasi masa depan Kutim dipertaruhkan.

Komunitas seperti Hijaber Community diharapkan tidak berhenti sampai di sini. Mereka ditantang untuk terus menjadi motor penggerak yang menggulirkan bola salju literasi ke lingkup yang lebih luas.

Ketika matahari mulai meninggi, acara tersebut ditutup dengan sesi foto bersama. Senyum merekah dari para peserta yang membawa pulang bukan hanya pengetahuan baru dari bedah buku, melainkan juga pengingat tentang pentingnya menjaga kesehatan, memanfaatkan waktu luang, dan merawat jiwa melalui berbagi.
Di Sangatta, sebuah gerakan kecil untuk memajukan budaya membaca baru saja ditegaskan kembali. Gerakan yang diharapkan mampu menciptakan generasi Kutim yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga memiliki kedalaman karakter.(kopi7/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini