Penutupan Lokakarya FORMIKA Kutim. Foto: Istimewa
SAMARINDA – Rangkaian lokakarya Rencana Aksi Forum Masyarakat Madani Kutai Timur (FORMIKA) Kutim Hebat 2045 resmi ditutup di Ruang Batara II Hotel Fugo pada Kamis (24/9/2026). Mengusung tema “Sinergi, Kolaborasi, dan Aksi Nyata untuk Pembangunan Kutai Timur yang Berkelanjutan”, forum ini menghasilkan komitmen bersama untuk menerjemahkan gagasan strategis menjadi langkah konkret di lapangan.
Kegiatan penutupan tersebut dihadiri oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum (Admum) Kutim Idham Cholid. Kehadiran perwakilan pemerintah daerah ini menandai kuatnya komitmen kolaborasi antara pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pembangunan jangka panjang daerah.
Dalam arahannya, Idham Cholid mengapresiasi pelaksanaan lokakarya yang dinilai mampu menghasilkan rumusan rencana aksi yang terstruktur dan berorientasi pada hasil nyata.

“Rencana aksi yang baik itu adalah yang terukur berdasarkan data yang sudah disiapkan dengan baik,” ujar Idham di hadapan para peserta.
Ia juga menekankan pentingnya agar seluruh rancangan aksi yang disusun dapat diselaraskan dengan program prioritas kepala daerah.
“Seperti penyelarasan program dengan rencana aksi harus mendukung penuh program prioritas Bupati dan Wakil Bupati Kutim yakni mewujudkan Kutim Hebat, Kota Hebat, dan Desa Hebat. Kemudian fokus isu strategis lewat diskusi mendalam mencakup penguatan infrastruktur dasar, pemerataan akses jalan, ketersediaan listrik, serta suplai air bersih bagi masyarakat dan kolaborasi multipihak dengan keterlibatan aktif pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, dan lembaga pembangunan dinilai krusial agar pembangunan berjalan terintegrasi,” tegasnya.

Lokakarya ini sendiri merupakan buah kolaborasi antara GIZ Indonesia melalui program GIZ SASCIT bersama Konsorsium Sustain Kutim. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat partisipasi multipihak dalam mengawal pembangunan Kutim menuju visi besar tahun 2045.
Dengan berakhirnya lokakarya ini, tantangan selanjutnya adalah memastikan seluruh rekomendasi dan rumusan tidak berhenti sebagai dokumen diskusi belaka, melainkan menjelma menjadi aksi nyata yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas di Kutim.(kopi7/kopi13/kopi3)






























