Tari Ganjar Ganjur Semarakkan Erau Adat Pelas Benua Kutim

Tari Ganjar Ganjur Semarakkan Erau Adat Pelas Benua Kutim

Penampilan Tari Ganjar Ganjur di Pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026. Foto: Bagus/Pro Kutim

SANGATTA - Ragam seni tari tradisional mewarnai pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur (Kutim) 2026 di Lapangan Rumah Pore Adat Besar Kutai, Minggu (11/10/2026). Penampilan para penari dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kutai kepada masyarakat luas.

Mengusung tema “Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya”, kegiatan yang berlangsung pada 9–13 Oktober 2026 ini menjadi ruang untuk merawat warisan leluhur, memperkuat identitas daerah, serta mempererat hubungan masyarakat dengan adat dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah Tari Ganjar Ganjur, tarian yang melambangkan keperkasaan, keharmonisan, dan kedamaian. Tarian tersebut merupakan tari persembahan yang biasa ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, mulai dari upacara pemberian gelar hingga penyambutan tamu.

Tari Ganjar Ganjur dibawakan oleh kelompok kesenian Cahaya Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di bawah pimpinan Hajah Aji Emelda Firtina bergelar Aji Putri Indra Prabu Ningrat.

Selain itu, penonton juga disuguhkan Tari Kesatria Memanah yang menggambarkan keberanian para kesatria dalam menjaga kedaulatan dan kedamaian kerajaan. Gerakan para penari dengan properti panah menjadi simbol pengabdian dan kesiapan para kesatria dalam menjaga negeri.

Kedua tarian tersebut menghadirkan nuansa adat yang kental dalam pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim tahun ini.

Salah satu penari Tari Ganjar Ganjur, Vera, mengaku senang bisa menjadi bagian dari kegiatan budaya tersebut. Baginya, kesempatan tampil dalam Erau Adat Pelas Benua di Kutim menjadi pengalaman yang membanggakan, terlebih kegiatan ini menjadi salah satu wadah untuk memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat.

“Semoga tahun depan dan seterusnya akan ada terus, jadi budaya di Kutim semakin dikenal banyak orang,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sehingga kesenian tradisional tetap mendapat ruang untuk berkembang dan semakin dikenal oleh generasi muda maupun masyarakat dari luar daerah.

Melalui penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua, tradisi tidak hanya menjadi bagian dari perayaan, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.(Lin/Fan/Fj)

Kopi 17
Memuat tombol bagikan...