SANGATTA - Ketua Panitia Persatuan Aneuk Nanggroe Aceh Bansigom (PANA-BK) Kutai Timur (Kutim) Akmal Abu Bakar yang mewakili Ketua PANA-BK Iskandar Hasyem, menyoroti pentingnya menjaga persatuan umat dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di kawasan Perumahan GPL Munthe Jalan Tiung, Minggu (18/10/2026).
Acara ini menjadi momen penting bagi masyarakat perantau Aceh di Kutai Timur untuk mempererat silaturahmi sekaligus menegaskan komitmen organisasi terhadap pembangunan daerah.

Dalam sambutannya, Akmal mengungkapkan rencana pengurus untuk segera mendaftarkan PANA-BK ke Pemerintah Daerah Kutai Timur melalui Badan Kesbangpol.
"Kami berharap pendaftaran ini akan membuka jalan bagi PANA-BK untuk dapat berpartisipasi dan berkontribusi secara resmi dalam berbagai acara kebudayaan di Kutai Timur pada masa mendatang. Saat ini, organisasi tersebut telah mendata sekitar 60 kepala keluarga yang tergabung, meskipun faktor geografis yang berjauhan menjadi tantangan bagi anggota lainnya untuk hadir," terangnya.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur dan memohon maaf atas keterbatasan tempat serta kondisi cuaca panas yang dipengaruhi oleh kabut asap selama acara berlangsung.

Sementara itu, Wakil Bupati Mahyunadi dalam sambutannya bahwa antusiasme memperingati Maulid Nabi sangat kental bagi masyarakat Aceh.
"Perayaan tersebut tidak hanya berhenti pada tanggal 12 Rabiul Awal, melainkan terus berlanjut secara bergantian hingga bulan Rabiul Akhir dan Jumadil Awal sebagai wujud kegembiraan umat Islam atas kelahiran Nabi," tegasnya.
Ia juga menyambut baik keragaman tradisi peringatan Maulid di Kutai Timur yang diwarnai oleh berbagai budaya Nusantara, seperti lantunan syair Habsyi dan Barzanji.
Lebih lanjut, Mahyunadi mengingatkan bahwa Sangatta Utara kini telah berkembang pesat menjadi kota metropolis baru dengan populasi lebih dari 464 ribu jiwa yang terdiri dari berbagai macam suku.

Di tengah kemajemukan tersebut, ia mengimbau masyarakat untuk berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak mudah terpecah belah. Mahyunadi secara khusus menyoroti ancaman dari peredaran informasi yang tidak terkendali di media sosial, yang kerap digunakan untuk menyebar opini tanpa penyaringan.
Menurutnya, perpecahan di dalam negeri sering kali dimanfaatkan oleh kepentingan asing yang tidak ingin melihat kemandirian bangsa Indonesia, agar negara ini terus bergantung pada produk-produk luar negeri dan terjebak sebagai negara berkembang.

"Kekompakan dan persatuan mutlak dijaga agar bangsa Indonesia dapat terus maju," tambahnya.
Kegiatan ditutup dengan tausiah dari Penceramah Ustaz Ruslan Lambari mengatakan Aceh menjalani perjalanan tiga tradisi maulid nabi dan sejarah nabi dilahirkan dan pribadi nabi.(Fan/Fj)









