SANGATTA — Ribuan tabuhan rebana dan bedug menggema di kawasan Polder Ilham Maulana, Jumat (30/10/2026) malam. Sebanyak 5.000 rebana dan bedug berpadu mengiringi lantunan selawat dalam kegiatan Santri Kutim Berselawat IV, sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah dengan dihadiri Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kutim Susmanto, perwakilan Forkopimda, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Basuki Isnawan, para santriwan dan santriwati, serta masyarakat yang memadati kawasan kegiatan.

Hadir pula penceramah asal Bojonegoro, Ustaz Ridwan Asyfi, yang tidak hanya menyampaikan tausiah, tetapi juga memimpin lantunan selawat bersama jemaah. Selawat tersebut diiringi Majelis Selawat Al-Alawi Sangatta dan ribuan peserta parade rebana serta bedug.
Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi PCNU Kutim yang telah menyelenggarakan peringatan Hari Santri Nasional melalui kegiatan yang melibatkan banyak elemen masyarakat tersebut.
Menurutnya, Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang sejarah perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat untuk terus menguatkan negeri melalui kontribusi nyata.

“Peringatan Hari Santri Nasional 2026 merupakan sesuatu yang memberikan semangat kepada kita, terutama tentang sejarah perjuangan para ulama merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari ini kita bukan hanya sekadar mengenang, tetapi menguatkan negeri kita Indonesia,” ujarnya.
Ardiansyah juga menyoroti penampilan ribuan peserta rebana yang menurutnya membutuhkan kekompakan dan kepemimpinan agar menghasilkan irama yang harmonis. Ia mengibaratkan peran pemimpin dalam pertunjukan musik seperti seorang konduktor yang memberikan arahan kepada setiap pemain.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada tahun mendatang. Bahkan, Ardiansyah menyebut kegiatan Kutai TImur Berselawat sebagai salah satu agenda yang akan terus dilaksanakan setiap peringatan hari ulang tahun daerah.

Sementara itu, Ketua PCNU Kutim Susmanto menyampaikan bahwa parade rebana yang digelar merupakan hasil pengembangan kegiatan Hari Santri sejak dua tahun sebelumnya. Pada 2024, parade rebana mulai diperkenalkan sebagai bagian dari perayaan, kemudian terus dievaluasi dan dikembangkan hingga pelaksanaan tahun ini.
Menurutnya, tradisi rebana menjadi salah satu bentuk dakwah Islam yang tumbuh melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.
“Yang penting adalah bagaimana melestarikan tradisi nasional ini. Inilah yang menjadi kebanggaan kita bersama,” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan mendatang dapat dikembangkan dengan menambahkan unsur kesenian tradisional lainnya, sehingga perayaan Hari Santri semakin dinamis tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan.
Sebelumnya, Wakil Ketua Panitia Hari Santri Nasional 2026 yang mewakili Ketua Panitia AKP Purn Suparmin melaporkan, kegiatan tersebut diselenggarakan PCNU Kutim dengan dukungan Polres Kutim.
Dalam laporannya, panitia menyebutkan kegiatan mengusung semangat mengenang dan meneladani perjuangan ulama serta santri, khususnya melalui momentum Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945.
Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan swadaya masyarakat. Panitia berhasil menghimpun donasi sebesar Rp135.830.000, serta dukungan konsumsi berupa 4.315 nasi kotak dari 51 majelis taklim, ditambah ratusan makanan ringan dan air mineral dari sejumlah lembaga.
Melalui peringatan Hari Santri Nasional tahun ini, kegiatan Santri Kutim Berselawat IV diharapkan tidak hanya menjadi ruang mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan, kecintaan terhadap selawat, serta pelestarian tradisi keagamaan dan budaya di Kutai Timur.(Lin/Fan/Fj









