SANGATTA - Perbedaan peran bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Ketika setiap orang menjalankan tanggung jawab dan saling menghargai, harmoni dapat tercipta. Pesan kebangsaan itu disampaikan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dengan mengambil perumpamaan dari parade 5.000 rebana dan bedug dalam kegiatan Santri Kutim Berselawat IV di Folder Ilham Maulana, Sangatta, Jumat (30/10/2026).
Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Nasional 2026 tersebut, Ardiansyah mengibaratkan permainan ribuan alat musik sebagai gambaran kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap pemain memiliki tugas berbeda. Ada yang memainkan bas, menabuh bedug, atau memukul rebana, sementara konduktor memandu irama. Seluruhnya perlu mengikuti arahan dan saling menyesuaikan untuk menghasilkan alunan yang selaras.

Menurutnya, gambaran itu juga berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap orang mempunyai latar belakang, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing. Keragaman tersebut perlu menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan, bukan sumber perpecahan.
Pesan itu sekaligus menjadi refleksi dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut mengingatkan bahwa pembangunan bangsa membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk santri yang berperan dalam memperkuat pendidikan, moral, kehidupan sosial, dan persatuan.
Ardiansyah mengatakan, Hari Santri juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meneruskan semangat perjuangan para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Hari Santri mengingatkan kita untuk mengikuti semangat juang para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan. Mari kita terus berjuang untuk kemaslahatan bangsa Indonesia,” ujar Ardiansyah.
Semangat perjuangan tersebut berakar pada peristiwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dicetuskan para ulama, dengan Kyai Haji Hasyim Asy’ari sebagai salah satu tokoh pentingnya. Seruan itu menggerakkan umat Islam, termasuk para santri, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan. Semangat tersebut turut menjadi bagian penting dalam rangkaian perlawanan rakyat menjelang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Pemerintah kemudian menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan ini merupakan bentuk penghargaan terhadap kontribusi ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan, pendidikan, serta pembangunan bangsa.

Di Kutai Timur, peringatan tahun ini dikemas melalui Santri Kutim Berselawat IV dengan parade sekitar 5.000 rebana dan bedug. Selain Ardiansyah, acara tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sejumlah pimpinan perangkat daerah, serta Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kutai Timur Dr Sismanto HS.
Panitia juga menghadirkan Ustaz Ridwan Asyfi dari Bojonegoro, Jawa Timur, sebagai penceramah. Lantunan selawat dengan iringan tabuhan rebana dan bedug menjadi bagian dari rangkaian acara yang mempertemukan santri, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Perumpamaan yang disampaikan Ardiansyah menempatkan tanggung jawab setiap orang sebagai bagian penting dalam menjaga persatuan. Sebagaimana para pemain rebana dan bedug menghasilkan irama yang harmonis, masyarakat dengan beragam peran perlu saling menyesuaikan dan memelihara keselarasan tujuan. Pesan kebangsaan itu mengiringi peringatan Hari Santri di Kutai Timur, merawat kebersamaan dan melanjutkan semangat perjuangan untuk kemaslahatan bangsa. (Yus/Fj)









