SANGATTA – Mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan akhir kehidupan yang husnul khotimah menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Ustaz Das’ad Latif dalam Tabligh Akbar di pelataran indoor Masjid Agung Al-Faruq, Minggu (1/11/2026) pagi.
Di tengah rintik hujan yang menambah suasana khidmat, tausiah yang disampaikan dengan gaya khas Ustaz Das’ad Latif tersebut mengajak jemaah untuk kembali merenungkan tujuan hidup serta mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal menjemput. Sesekali, gaya penyampaiannya yang lugas dan diselingi humor mengundang tawa para jamaah.

Dalam ceramahnya, Ustaz Das’ad Latif mengingatkan bahwa setiap manusia tentu mengharapkan akhir kehidupan yang baik.
"Namun, husnul khotimah bukan sekadar harapan, melainkan sesuatu yang perlu dipersiapkan melalui keimanan, amal kebaikan, serta ketaatan kepada Allah SWT selama menjalani kehidupan," sebutnya.
Ia kemudian mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW, menjelang akhir hayatnya, masih memikirkan nasib umat yang dicintainya. Bahkan, perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya menjadi gambaran betapa besar kasih sayang dan kepedulian beliau kepada umat Islam.

Dalam kisah tersebut, disampaikan pula pesan tentang pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup. Dengan berpegang teguh pada keduanya, umat Nabi Muhammad SAW memiliki tuntunan untuk menjalani kehidupan di jalan yang benar.
“Kalau kita ingin selamat, berpegang teguhlah pada Al-Qur’an dan sunnah,” menjadi pesan yang ditekankan dalam tausiah tersebut," tegasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Das’ad Latif mengajak jamaah untuk menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, tidak hanya melalui pengakuan, tetapi juga dengan mengamalkan ajaran dan meneladani akhlak beliau.
Salah satu bentuk kecintaan tersebut adalah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat menjadi wujud penghormatan sekaligus ungkapan cinta umat kepada Rasulullah.

Melalui tausiah tersebut, jamaah diajak untuk tidak hanya sibuk menjalani urusan dunia, tetapi juga senantiasa mengingat kehidupan akhirat. Sebab, pada akhirnya, kehidupan manusia akan berakhir dan yang menjadi bekal adalah iman serta amal kebaikan yang telah dilakukan.
Pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering nama beliau disebut, tetapi juga sejauh mana ajarannya dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.(Put/Fan/Fj)










