Mewakili Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Plt Asisten Administrasi Umum Pemprov Kaltim, Muhaimin sampaikan sambutan. Foto Bagus/Pro Kutim
TENGGARONG – Perhelatan Pesta Adat dan Budaya Erau 2026 yang berlangsung pada 20 hingga 27 September 2026 di Tanah Kutai tidak hanya menjadi panggung pelestarian warisan leluhur, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang kebersamaan serta hubungan harmonis antara pimpinan dan masyarakat di Kalimantan Timur (Kaltim).
Mengangkat tema “Menebal Manunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya”, perhelatan adat tahun ini sarat akan nilai falsafah kepemimpinan Nusantara yang bersumber dari Undang-Undang Panji Selaten Pasal 11. Falsafah ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dan kekuasaan pada hakikatnya mengandung tanggung jawab pelayanan serta kebersamaan tanpa membedakan pangkat maupun kedudukan.

Hadir mewakili Gubernur Kaltim, Plt Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim, Muhaimin, menyampaikan bahwa tema perhelatan tahun ini memiliki pesan moral yang sangat kuat bagi seluruh elemen masyarakat.
“Tema tahun ini, ‘Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya’, tentu memiliki makna yang sangat kuat. Ada pesan tentang kebersamaan, kedekatan, dan hubungan yang harmonis. Nilai inilah yang membuat sebuah tradisi tetap hidup, karena budaya tidak hanya berada di lingkungan keraton atau dalam upacara, tetapi hidup bersama masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Muhaimin saat mewakili menyampaikan sambutan resmi.
Selain penyampaian pesan kebersamaan, momentum Erau 2026 juga menjadi ruang pengingat akan pentingnya menjaga warisan peradaban Nusantara di tengah tantangan zaman, termasuk kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan daerah. Muhaimin kembali mengajak seluruh masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menjaga nilai-nilai luhur tersebut.

“Di sinilah kita melihat bahwa menjaga adat dan budaya bukan hanya tugas pemerintah atau para pemangku adat. Pelestarian budaya adalah tanggung jawab kita bersama, seluruh masyarakat, agar warisan yang kita terima dari para leluhur tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Kalau bukan kita yang menjaga budaya kita, lalu siapa lagi?” tegas Muhaimin.
Melalui pelaksanaan ritual sakral hingga tradisi Belimbur yang membawa pesan penyucian diri dan persaudaraan, perhelatan Erau 2026 diharapkan dapat terus memperkuat tali silaturahmi serta menjaga martabat kelestarian budaya di Kaltim.(kopi5/kopi13/kopi3)






























