Beranda Kutai Timur Kunjungan Lapangan Tindak Lanjuti Sosialisasi Peternakan Ayam Terpadu di Sangsel

Kunjungan Lapangan Tindak Lanjuti Sosialisasi Peternakan Ayam Terpadu di Sangsel

22 views
0

Teks foto: Peserta meninjau langsung kandang ternak dan kebun komunitas di RT 5, Sangatta Selatan, sebagai tindak lanjut sosialisasi budidaya maggot BSF dan peternakan terpadu.

SANGATTA SELATAN – Sosialisasi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan peternakan ayam kampung terpadu tidak berhenti pada penyampaian materi. Setelah menerima penjelasan, mahasiswa, peternak, dan masyarakat diajak melihat langsung penerapannya di lapangan sebagai bagian dari tindak lanjut kegiatan. Kunjungan berlangsung di RT 5, Sangatta Selatan (Sangsel), Selasa (22/9/2026), melalui kegiatan yang digelar Sinergi Generasi Produktif (SIGAP) Kutai Timur (Kutim) bersama Himpunan Mahasiswa Peternakan (HIMAPET) STIPER.

Peserta meninjau lokasi budidaya maggot, kandang ternak, hingga kebun komunitas untuk melihat keterkaitan setiap bagian dalam konsep peternakan terpadu. Kegiatan lapangan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menghubungkan materi yang sebelumnya disampaikan dengan praktik yang telah berjalan. Tidak hanya melihat fasilitas, peserta juga mengamati bagaimana bahan organik dimanfaatkan dalam budidaya maggot dan bagaimana hasilnya dapat mendukung usaha peternakan.

Praktisi budidaya maggot BSF, Toni Halimi, mengatakan kunjungan lapangan penting agar peserta memperoleh gambaran yang lebih utuh setelah mengikuti sosialisasi.

“Jadi peserta tidak hanya mendengar teori. Mereka bisa melihat langsung cara budidayanya dan bagaimana maggot itu dimanfaatkan,” ujar Toni.

Di lokasi, peserta melihat tempat budidaya maggot serta proses pemanfaatan bahan organik. Dari sana, mereka diajak memahami hubungan antara budidaya maggot dengan komponen usaha peternakan lainnya.
Peserta kemudian meninjau kandang ayam kampung, memberi pakan bebek, dan mengamati budidaya ikan. Rangkaian kunjungan itu memperlihatkan penerapan konsep peternakan terpadu yang menghubungkan sejumlah kegiatan usaha agar dapat saling mendukung.

“Intinya bagaimana setiap bagian bisa saling terhubung. Maggot bisa menjadi pakan, sementara ayam, bebek dan ikan menjadi bagian dari usaha yang dikembangkan,” kata Toni.

Perwakilan SIGAP Kutim, Qamarul Rafael atau sering disapa Boy, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian penting dari proses setelah sosialisasi. Menurut dia, materi yang diberikan perlu dilanjutkan dengan melihat langsung praktik agar peserta memiliki gambaran mengenai penerapannya.

“Harapan kami, peserta pulang bukan hanya membawa materi, tetapi sudah punya gambaran untuk memulai atau mengembangkan usaha di tempatnya,” ujar Boy.

Menurut dia, tindak lanjut kegiatan juga diarahkan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta yang hadir. SIGAP Kutim menyiapkan kegiatan lanjutan di Sangatta Utara, Teluk Pandan, dan Bengalon untuk memperluas jangkauan pembelajaran sekaligus membuka ruang praktik bagi masyarakat.

“Kami ingin masyarakat bisa mencoba dan mengembangkan sendiri. Jadi bukan hanya datang, belajar, lalu selesai,” katanya.

Kunjungan lapangan juga mempertemukan mahasiswa, praktisi, komunitas peternak, dan masyarakat dalam ruang pembelajaran yang lebih konkret. Peserta dapat melihat langsung pola pengelolaan usaha yang sudah berjalan, sekaligus mendiskusikan kemungkinan penerapannya sesuai kondisi masing-masing.

“Kalau ada yang ingin beternak ayam, bebek atau ikan, konsepnya bisa disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. Yang penting ada kemauan untuk belajar dan mengembangkan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutim serta mendapat dukungan Pemkab. Kehadiran peserta di lokasi menjadi bagian dari upaya memastikan sosialisasi berlanjut ke tahap pemahaman praktik. Dengan melihat langsung proses budidaya dan keterhubungan antarkomponen usaha, masyarakat memiliki referensi sebelum mengembangkan pola serupa di lingkungannya.
Konsep yang diperkenalkan juga tidak semata berkaitan dengan produksi ternak. Pemanfaatan bahan organik untuk budidaya maggot, kemudian menghubungkannya dengan kebutuhan pakan ayam, bebek, dan ikan, menunjukkan bagaimana sumber daya yang tersedia di sekitar dapat dikelola menjadi bagian dari kegiatan usaha.

Bagi SIGAP Kutim, kunjungan tersebut menjadi salah satu tahapan untuk mendorong agar pengetahuan yang diberikan melalui sosialisasi dapat diterjemahkan menjadi praktik. Dari Sangatta Selatan, proses pembelajaran itu selanjutnya diarahkan untuk berkembang melalui kegiatan lanjutan di sejumlah wilayah Kutim. (kopi8/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini