Teks: Sumarno penerima Satyalencana Karyasatya XXX Tahun
Foto: Miftah/Prokutim
SANGATTA — Tiga dekade lebih pengabdian Sumarno sebagai aparatur sipil negara bukan sekadar catatan masa kerja. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang menyaksikan perubahan Kutai Timur, terutama dalam pelayanan kesehatan yang kini jauh berkembang dibanding ketika ia pertama kali bertugas.
Sumarno merupakan salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalencana Karyasatya yang diserahkan dalam rangkaian peringatan HUT ke-27 Kabupaten Kutai Timur di Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Kamis (8/10/2026).
Ia menerima penghargaan atas pengabdian selama 30 tahun.
Perjalanan itu dimulainya pada 1991 ketika bertugas di Puskesmas Pembantu Kaliorang. Dari sana, ia menjalani berbagai tanggung jawab, mulai dari Kepala Tata Usaha hingga Kepala Puskesmas. Sejak 2023, ia dipercaya mengemban tugas di Dinas Kesehatan Kutai Timur sebagai kepala bidang.

“Alhamdulillah, saya bangga. Sudah lebih dari 30 tahun mengabdi kepada negara,” ungkap Sumarno.
Lebih dari sekadar perjalanan karier, masa pengabdiannya membuat Sumarno melihat perubahan Kutai Timur dari dekat. Ia menyaksikan bagaimana pelayanan kesehatan berkembang, baik melalui peningkatan sumber daya manusia, jumlah tenaga kesehatan maupun sarana dan prasarana pelayanan.
Perubahan itu, menurutnya, memberikan dampak yang semakin nyata bagi masyarakat. Wilayah yang dahulu masih menghadapi keterbatasan pelayanan kesehatan kini memiliki fasilitas dan dukungan tenaga kesehatan yang terus berkembang.
Pengalaman serupa, meski dengan masa pengabdian berbeda, dirasakan Ketut Pilih Kasih. Ia menerima Satyalencana Karyasatya 10 tahun setelah mengawali pengabdiannya sebagai CPNS di Puskesmas Sepaso, Bengalon.
Tiga tahun kemudian, Ketut dimutasi ke Puskesmas Kaliorang dan bertugas sebagai sanitarian atau petugas kesehatan lingkungan. Meski berasal dari Bali, perjalanan pengabdian di Kutai Timur membuat daerah ini menjadi bagian penting dari kehidupannya.

“Senang dan bangga. Tidak terasa sudah 10 tahun,” katanya.
Selama bertugas di Kaliorang, Ketut melihat sendiri bagaimana fasilitas kesehatan berubah. Ia masih mengingat ketika bangunan puskesmas tempatnya bekerja berdiri dengan konstruksi kayu. Kini, bangunan tersebut telah berkembang menjadi fasilitas permanen, meski kebutuhan peningkatan pelayanan masih terus berjalan.

“Dari awal saya masih di bangunan lama, masih kayu, sekarang sudah beton. Lumayan berproses peningkatannya, meskipun fasilitas masih terus kami lengkapi,” ujarnya.
Sementara itu, Irma Yuwinda, yang kini menjabat Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, menerima Satyalencana Karyasatya 20 tahun. Baginya, penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan pengabdiannya.
Irma mengawali karier sebagai PNS pada 2005 dari golongan II. Dua dekade kemudian, berbagai tahapan pengabdian membawanya dipercaya mengemban sejumlah jabatan di lingkungan pemerintahan.
“Yang pasti ini menjadi kesyukuran dan juga refleksi diri terhadap apa yang sudah kita kontribusikan kepada daerah tercinta Kutai Timur selama 20 tahun,” tuturnya.

Memasuki usia ke-27, Irma melihat perjalanan Kutai Timur tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para aparatur yang bekerja di berbagai bidang. Mereka hadir di ruang pelayanan, fasilitas kesehatan, perkantoran hingga sektor-sektor pembangunan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, ia berharap semangat pengabdian tidak berhenti pada penghargaan, tetapi terus diterjemahkan dalam kerja dan inovasi untuk memperkuat daerah.
“Bagaimana kita menumbuhkan kekuatan Kutai Timur. Ending-nya tentu bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kisah Sumarno, Ketut dan Irma menunjukkan bahwa Satyalencana Karyasatya menyimpan cerita yang lebih panjang daripada sekadar angka 10, 20 atau 30 tahun masa pengabdian. Di baliknya ada perjalanan manusia, perubahan tempat kerja, perkembangan pelayanan, sekaligus kesaksian terhadap tumbuhnya Kutai Timur.
Pada usia ke-27 tahun, perjalanan para aparatur tersebut menjadi bagian dari cerita besar pembangunan daerah. Pengabdian mereka menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya lahir dari kebijakan dan program, tetapi juga dari orang-orang yang setiap hari menjalankan pelayanan dan menjaga roda pemerintahan tetap berjalan.
Penghargaan itu akhirnya menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah membutuhkan konsistensi. Sebab, kemajuan Kutai Timur tidak hanya diukur dari apa yang dibangun, tetapi juga dari seberapa jauh pembangunan itu mampu menghadirkan pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan semangat “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama”, perjalanan pengabdian tersebut diharapkan terus dilanjutkan oleh generasi aparatur berikutnya dengan profesionalisme, integritas dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat. (Kopi12/kopi4/kopi3)






























