Beranda Kutai Timur Brong Api Menyala, Erau Kutim Dimulai

Brong Api Menyala, Erau Kutim Dimulai

51 views
0

Penyalaan brong api dalam pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA – Suasana sakral begitu pekat menyelimuti pembukaan Erau Adat Pelaa Benua Kutim di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai Jalan Ring Road, Minggu (11/10/2026). Diiringi tabuhan rancak kelentangan dan alunan musik tradisional tingkilan yang mengalun membelah angin, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman didampingi Sultan Kukar Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin dan Wakil Bupati Mahyunadi melangkah dengan penuh wibawa.

Dalam balutan busana adat kebesaran Kutai yang sarat makna, tangannya menggenggam erat sebuah suluh. Dengan tenang, ia mengarahkan suluh tersebut pada “Brong”, sebuah obor raksasa yang menjadi penanda utama dimulainya perhelatan akbar Erau Adat Pelas Benua.

Seketika, nyala api berkobar membumbung tinggi, menerangi wajah-wajah antusias ribuan masyarakat yang tumpah ruah merayakan warisan leluhur mereka. Tepuk tangan dan sorak-sorai pun pecah, memecah kesunyian malam di tanah Tuah Bumi Untung Benua.

Penyalaan Brong Api ini bukan sekadar seremonial pembuka acara, melainkan denyut nadi dari kebudayaan Kutai yang masih terus dijaga nyalanya. Erau Adat Pelas Benua merupakan tradisi leluhur yang mengandung filosofi kehidupan yang teramat dalam. Secara harfiah, “Pelas” bermakna menyucikan atau membersihkan, sedangkan “Benua” adalah wilayah, kampung, atau tanah air.

Melalui serangkaian ritual ini, masyarakat adat memanjatkan rasa syukur tak terhingga atas limpahan hasil bumi, keharmonisan alam, dan kedamaian yang selama ini dinikmati. Lebih dari itu, ritual ini adalah sebentuk doa tolak bala, memohon perlindungan kepada Sang Pencipta agar Kabupaten Kutim senantiasa dijauhkan dari segala marabahaya, paceklik, dan perpecahan.

Bagi Bupati Ardiansyah Sulaiman, menyalakan Brong Api adalah sebuah kehormatan sekaligus pengingat tentang pentingnya merawat jangkar identitas daerah. Di tengah pesatnya laju modernisasi, industrialisasi, dan pembangunan infrastruktur di Kutim, akar budaya lokal tidak boleh tercerabut.

“Kobaran api Brong ini merepresentasikan semangat kita yang tidak boleh padam. Ini adalah simbol penerangan, pembersihan diri, sekaligus semangat untuk terus menjaga harmoni persaudaraan. Kutim ini kaya akan keberagaman, dan lewat panggung adat budaya seperti inilah kita disatukan tanpa sekat,” pesannya.

Kehadiran tradisi Erau ini laksana oase bagi warga yang merindukan kemeriahan pesta rakyat yang otentik. Di sekitar area perayaan, aroma sakral dari ritual berpadu harmonis dengan harum kuliner khas yang dijajakan para pelaku UMKM lokal. Generasi muda hingga tetua adat membaur menjadi satu.

Erau Adat Pelas Benua kini bermetamorfosis dengan apik dari sebuah ritual sakral komunal menjadi magnet pelestarian budaya yang sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan.

Ketika Brong Api akhirnya menyala dengan sempurna malam itu, ia tidak hanya sekadar menerangi langit Kutim yang pekat. Lewat tangan Ardiansyah Sulaiman, obor tersebut menyalakan kembali kebanggaan di dalam dada setiap warga. Sebuah pesan budaya yang tegas tersampaikan bahwa sekeras apapun arus zaman menerpa, ruh dan muruah budaya Kutai akan terus berkobar, abadi melintasi generasi.(Fan/Fj)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini