Beranda Entertainment Erau Kutim Satukan Pelestarian Adat dan Ekonomi Warga

Erau Kutim Satukan Pelestarian Adat dan Ekonomi Warga

44 views
0

Momen pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026. Foto: Dewi/Pro Kutim

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi membuka Erau Adat Pelas Benua Kutim Tahun 2026 di Lapangan Rumah Pore Adat Besar Kutai, Minggu (11/10/2026). Kegiatan yang berlangsung dari 9 hingga 13 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim sekaligus momentum penting dalam pelestarian adat istiadat, penguatan identitas daerah, dan pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis kebudayaan.

Mengusung tema “Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya”, pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua untuk pertama kalinya dalam perjalanan 27 tahun Kabupaten Kutim ini menegaskan komitmen pemerintah daerah bersama lembaga adat dan masyarakat untuk menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.

Pembukaan kegiatan dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama Wakil Bupati Mahyunadi, Sultan Kukar Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin beserta permaisuri dan kerabat Kesultanan, Sekdakab Rizali Hadi, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan DPRD yang diwakili Wakil Ketua II Prayunita Utami, pemangku adat, tokoh masyarakat, kepala perangkat daerah, pelaku usaha, insan pers, serta masyarakat.

Rangkaian pembukaan turut diwarnai kirab budaya yang melibatkan pemangku adat istiadat Kutai di Kabupaten Kutim. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan tradisi Kutai sekaligus memperkuat penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Ketua panitia pelaksana yang juga Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Trisno, dalam laporannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 merupakan momen bersejarah bagi daerah.

“Selama 27 tahun berdiri, Kutim terus melaksanakan pembangunan di berbagai bidang, mulai dari infrastruktur jalan dan jembatan hingga pengembangan desa, kawasan permukiman, serta pusat perkotaan. Melalui penyelenggaraan Erau, pemerintah daerah juga ingin memperkuat pembangunan yang berakar pada kebudayaan, kebanggaan, martabat, dan jati diri masyarakat,” sebutnya.

Ditambahkan Trisno, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh kelimpahan sumber daya alam dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga serta menghormati akar budayanya.

“Erau Adat Pelas Benua pun dirancang sebagai bagian integral dari program pembangunan daerah, terutama dalam pengembangan sektor kebudayaan, pariwisata, dan penguatan ekonomi kerakyatan,” paparnya.

Selama lima hari pelaksanaan, kegiatan dipusatkan di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai dengan rangkaian prosesi adat, pertunjukan seni budaya, olahraga tradisional, serta bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Sejumlah prosesi adat yang dilaksanakan antara lain ziarah makam, haul jamak, Titi Gending, ngatur dahar, belulu merangit, dan pelas benua. Rangkaian kegiatan juga mencakup pembacaan Sabda Pandita Ratu serta penyalaan lima brong sebagai bagian dari prosesi adat.

Sementara itu, penutupan dijadwalkan melalui prosesi basepak dan belimbur yang pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi serta kesiapan masyarakat di Kutim.

Trisno mengakui bahwa sebagai penyelenggaraan perdana, kegiatan tersebut masih memiliki sejumlah kekurangan. Namun, evaluasi akan menjadi bahan perbaikan agar pelaksanaan pada tahun-tahun berikutnya semakin tertata, khidmat, dan meriah.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Bupati dan Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, DPRD, Forkopimda, perangkat daerah, pemangku adat, aparat keamanan, relawan, pelaku seni, serta seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan.

Mewakili Sultan Kukar, Pangeran Haji Heriansyah bergelar Pangeran Notonegoro, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026.

Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber pembelajaran untuk menentukan warisan yang akan ditinggalkan bagi generasi mendatang.

Menurutnya, meskipun Kutim telah berkembang sebagai daerah otonom, keterkaitan dengan tradisi dan wilayah adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya yang perlu dihormati dan dilestarikan.

“Penyelenggaraan Erau memiliki arti strategis karena memberikan ruang bagi perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan adat istiadat serta kebudayaan daerah,” tegasnya.

Selain menjadi wadah pelestarian tradisi, kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi pelaku seni, pengrajin, pedagang kuliner, UMKM, dan pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya serta produk mereka kepada masyarakat.

Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memperkuat daya tarik pariwisata Kutim.

Pihak Kesultanan berharap pemerintah daerah terus meningkatkan upaya pemajuan kebudayaan melalui kerja sama dengan majelis adat, pemangku adat, lembaga kebudayaan, dan masyarakat.

Pelestarian adat, menurutnya, membutuhkan keterlibatan semua pihak agar nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tetap dipahami, dihormati, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa Erau Adat Pelas Benua bukan sekadar kegiatan seremonial atau pesta rakyat, melainkan perayaan yang mengandung nilai sejarah, penghormatan terhadap leluhur, dan tanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan.

“Kutai Timur memiliki kekayaan adat, seni, tradisi, bahasa, dan kearifan lokal yang menjadi modal penting dalam membangun karakter masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah,” terangnya.

Ia mengajak masyarakat untuk memaknai tema “Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya” sebagai pesan agar kemajuan daerah tetap berpijak pada nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.

“Adat lestari berarti tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dijaga, dipahami, dan dihidupkan oleh generasi penerus. Sementara itu, tuah benua mengandung harapan akan keberkahan bagi tanah dan masyarakat Kutai Timur, yang dianugerahi kekayaan alam berupa pertambangan, perkebunan, dan pertanian,” jelasnya.

Adapun Etam Berjaya mencerminkan semangat bersama untuk memajukan daerah dengan tetap berpegang pada sejarah, budaya, dan jati diri masyarakat.

Bupati juga menjelaskan bahwa istilah “benua” dalam bahasa Kutai memiliki makna daerah, tanah, atau wilayah. Pengertian tersebut berbeda dengan penggunaan kata benua dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada hamparan daratan berskala sangat luas.

Pemahaman terhadap istilah dan nilai budaya lokal tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan sejarah dan lingkungan sosial tempat mereka tumbuh.

“Pembangunan dan pelestarian budaya harus berjalan beriringan. Kita ingin Kutai Timur maju secara ekonomi, tetapi pada saat yang sama karakter, adat istiadat, dan kearifan lokal masyarakat tetap terjaga,” demikian pesan yang ditekankan dalam sambutan Bupati.(Dw/Fan/Fj)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini