Bupati Ardiansyah Sulaiman dalam momen pembukaan Erau Adat Pelas Benua 2026. Foto: Dewi/Bagus Pro Kutim
SANGATTA – Di tengah derasnya arus modernisasi, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmen kuatnya dalam menjaga kelestarian warisan budaya lokal. Hal tersebut disoroti secara mendalam oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, yang menekankan bahwa bahasa daerah memiliki peran krusial sebagai unsur utama kebudayaan yang harus dirawat bersama.
Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Pemkab Kutim telah resmi menetapkan bahasa Kutai sebagai muatan lokal dalam kurikulum pembelajaran tingkat sekolah dasar dan menengah pertama. Kebijakan ini dihadirkan agar para peserta didik dapat mengenal dan mencintai bahasa, tradisi, serta nilai budaya daerahnya sejak usia dini. Tidak hanya di ruang kelas, Bupati bahkan menggagas rencana penggunaan bahasa Kutai dalam deklarasi antinarkoba bagi pelajar, masyarakat, hingga peserta upacara peringatan HUT ke-27 Kabupaten Kutim.
Menurut Ardiansyah, upaya pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau lembaga adat semata.
“Diperlukan kolaborasi erat yang melibatkan keluarga, lingkungan sekolah, berbagai komunitas, hingga generasi muda. Generasi penerus bangsa ini perlu diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi kebudayaan melalui pendekatan kreatif, termasuk memanfaatkan teknologi digital agar budaya lokal kian dikenal luas tanpa kehilangan nilai keasliannya,” tegasnya di sela-sela sambutan pembukaan Erau Adat Pelas Benua di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai, Minggu (11/10/2026).

Lebih lanjut, ia juga memandang bahwa kebudayaan menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi baru dan daya tarik pariwisata daerah. Pertunjukan seni tradisional, ritual adat yang sakral, kerajinan tangan, hingga kuliner khas dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem pariwisata yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara langsung. Kehadiran bazar UMKM dan pementasan seni dalam perhelatan Erau Adat Pelas Benua menjadi bukti nyata pertemuan antara kekayaan budaya dan denyut nadi ekonomi kerakyatan.
Kendati demikian, Ardiansyah mengingatkan agar pengembangan ekonomi berbasis budaya ini tetap dilakukan secara bijaksana.
“Nilai sakral, makna filosofis, serta keaslian tradisi wajib dihormati agar esensi luhurnya tidak luntur saat diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, perhelatan Erau Adat Pelas Benua turut dimeriahkan oleh penampilan seni tradisional yang memukau, salah satunya Tari Ganjur yang dibawakan oleh Kesenian Cahaya Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di bawah pimpinan Haja Aji Emilda Firdina, bergelar Aji Putri Indrap Prabu Ningrat. Penampilan ini merefleksikan bagaimana adat istiadat terus hidup menjadi bagian dari tata kehidupan masyarakat lintas generasi.

Menutup rangkaian arahannya, Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, para majelis adat, pemangku kepentingan, panitia pelaksana, hingga seluruh masyarakat yang telah berkontribusi menyukseskan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026. Dengan mengucapkan doa dan harapan agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar serta khidmat, Bupati secara resmi membuka perhelatan budaya tersebut.
Pemerintah daerah berharap kemajuan fisik dan pertumbuhan ekonomi yang dicapai Kutim harus selalu berjalan selaras dengan penguatan karakter masyarakat yang berbudaya, rukun, dan berdaya saing tanpa kehilangan jati diri asalnya.(Dw/Fan/Fj)































