Beranda Kutai Timur Singa Gembara Angkat Dapur Stunting dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik

Singa Gembara Angkat Dapur Stunting dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik

4 views
0

Kepala Desa Singa Gembara Hamriani Kassa saat memaparkan Dapur Stunting dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik P3S Kaltim. Foto: Nasruddin/Pro Kutim

SANGATTA – Desa Singa Gembara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mewakili Kutim dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S) 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Penilaian tersebut menjadi kesempatan bagi Desa Singa Gembara untuk menunjukkan berbagai inovasi yang telah dijalankan dalam upaya meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat sekaligus menekan angka stunting.

Pemaparan kinerja dan inovasi desa disampaikan Kepala Desa Singa Gembara Hamriani Kassa melalui pertemuan daring menggunakan Zoom Meeting dari Ruang Rapat Kantor Diskominfo Staper Kutim, Senin (24/8/2026).

Presentasi tersebut disaksikan dan dinilai langsung oleh tim penilai Pemerintah Provinsi Kaltim. Salah satu inovasi yang menjadi unggulan Desa Singa Gembara adalah program Dapur Stunting. Hamriani mengatakan, Dapur Stunting tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyiapkan makanan tambahan bagi balita sasaran. Program tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi keluarga mengenai pemenuhan gizi dan pola asuh anak.

“Inovasi Dapur Stunting kami lahir dari semangat bersama untuk memberikan penanganan gizi yang komprehensif. Melalui wadah ini, kami tidak hanya memasak makanan tambahan, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar terjadi perubahan pola asuh gizi di tingkat keluarga,” ujar Hamriani.

Menurut dia, pembentukan Dapur Stunting diawali melalui musyawarah di tingkat dusun dan RT. Proses tersebut melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pengurus RT, hingga tokoh masyarakat untuk menentukan langkah bersama dalam menangani persoalan stunting.

Untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan, Pemerintah Desa Singa Gembara juga menerbitkan Surat Keputusan (SK) Penunjukan Pengelola Dapur Stunting. Kebijakan itu menjadi dasar hukum bagi tim dalam menjalankan program.

“Kami menerbitkan SK Penunjukan Pengelola Dapur Stunting agar tim memiliki payung hukum yang jelas. Hal ini menjadi bentuk komitmen dan kepastian dalam pengelolaan program secara berkelanjutan di desa kami,” kata Hamriani.

Operasional dapur tersebut melibatkan lima kader dengan pembagian tugas, mulai dari pengolahan bahan makanan hingga pendistribusian. Makanan tambahan kemudian diantarkan langsung ke rumah warga sasaran untuk memastikan bantuan diterima dan dikonsumsi sesuai peruntukan.

Hamriani menambahkan, penyusunan menu harian dilakukan berdasarkan pedoman ahli gizi Puskesmas Teluk Lingga. Bahan makanan juga memanfaatkan potensi lokal, termasuk hasil Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan kegiatan Dasawisma.

Program tersebut turut diperkuat melalui kolaborasi dengan dunia usaha. Pemerintah Desa Singa Gembara menggandeng PT Pama Persada Nusantara dan PT United Tractors (UT) melalui dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), terutama untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu.

Dari sisi pembiayaan, intervensi penanganan stunting didukung melalui APBDes 2025 dan 2026 pada bidang kesehatan dan pendidikan. Pemerintah desa juga mengalokasikan Dana RT sebesar Rp 250 juta per tahun dengan ketentuan minimal 1 persen diarahkan untuk RT yang memiliki warga sasaran stunting.

Upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Data Desa Singa Gembara mencatat prevalensi stunting turun dari 26,45 persen pada Juli menjadi 16,69 persen pada akhir Desember. Jumlah anak stunting juga tercatat menurun dari 35 anak pada September menjadi 21 anak pada Oktober, 22 anak pada November, dan 16 anak pada Desember 2025.

“Melihat tren penurunan yang sangat positif ini, kami optimis dan berkomitmen penuh untuk terus melanjutkan intervensi konvergensi P3S secara berkesinambungan hingga mewujudkan target zero stunting di Desa Singa Gembara pada 2027 mendatang,” tutur Hamriani.

Ia berharap inovasi yang dijalankan tidak berhenti pada penurunan angka stunting, tetapi juga mampu membangun kesadaran keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi anak secara berkelanjutan. Keikutsertaan Desa Singa Gembara dalam penilaian tingkat Provinsi Kaltim diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dan memperluas dampak program pencegahan stunting di tingkat desa.(kopi14/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini