Penampilan band rock Slank tampil sebagai guest star di Konser Rameramein Fest di Lapangan Panahan GOR Kudungga.Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Lapangan Panahan GOR Kudungga bertransformasi menjadi lautan manusia yang bergemuruh, Sabtu (3/10/2026) malam. Ribuan pasang mata menatap satu titik yang sama ke panggung megah yang dibangun dari kolaborasi apik Sunic ID Project bersama Sangatta Fiesta dan Elpro Production sebagai mitra penyedia vendor lapangan. Di sanalah sejarah kecil tertulis ketika band rock terakbar negeri ini asal Gang Potlot Duren Tiga, Jakarta Selatan, Slank menginjakkan kaki dan membakar semangat para penonton setianya.
Bagi para Slankers di Kutai Timur (Kutim), malam itu bukan sekadar konser akhir pekan. Ini adalah pelampiasan kerinduan yang telah lama membuncah. Salah satunya dirasakan oleh Iwan, seorang Slankers asal Sangatta yang mengaku sudah menanti kehadiran Kaka alias Akhadi Wira Satriaji dan kawan-kawan manggung secara langsung. Setelah penantian panjangnya terbayar tuntas lewat dentuman distorsi gitar dan koor massal yang mengguncang sudut kota, ia mengungkapkan rasa puasnya yang mendalam.
“Rasanya luar biasa dan benar-benar terobati setelah menunggu lama Slank bisa manggung langsung di Sangatta. Energi mereka malam ini luar biasa, semua lagu yang dibawakan sukses bikin kami bernyanyi bersama dari awal sampai akhir,” ungkap Iwan usai menyaksikan konser.

Slank hadir dengan amunisi paling mematikan dengan formasi lengkap sang legenda. Di balik drum, Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim tetap menjadi metronom yang menjaga ritme jantung ribuan penonton. Di depan, sang frontman kharismatik Kaka tampil beringas menyapa penonton, didukung dentuman bass beralur tebal dari Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka). Tak ketinggalan, magis petikan gitar dari dua maestro, Abdi Negara Nurdin (Abdee) dan Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho), menyayat udara malam Sangatta dengan nada-nada blues-rock yang khas.
Tata panggung yang megah, ditunjang sistem pencahayaan dramatis serta sound system berteknologi tinggi hasil garapan Elpro Production, membuat setiap nomor yang dibawakan terasa begitu megah. Kamera siaran langsung (live cam) yang sigap menangkap ekspresi histeris penonton turut memperkuat magis panggung malam itu.

Tanpa banyak basa-basi, Slank langsung menghantam telinga penonton lewat nomor-nomor yang akrab di telinga lintas generasi. Setlist malam itu bagaikan arsip perjalanan hidup kaum marjinal hingga pencinta cinta romantis. Dari nomor bertempo cepat hingga balada sendu, Kaka sukses memimpin paduan suara raksasa di Lapangan Panahan GOR Kudungga.
Mulai dari I Miss U But I Hate U, Gara-Gara Kamu, hingga tembang kritik sosial tajam seperti Seperti Para Koruptor dan Mars Pekerja bergema bersahutan. Suasana semakin personal ketika nomor-nomor nostalgia masa lalu seperti Poppies Lane Memory, Mawar Merah, dan Bang Bang Tut dibawakan tanpa cela. Para penonton tak henti-hentinya bernyanyi bersama, melompati batas usia dan latar belakang.

Energi penonton kian meluap tatkala intro lagu-lagu ikonik lainnya mengudara. Sebut saja Kupu Kupu Liarku, Tong Kosong Nyaring Bunyinya, Bimbim Jangan Menangis, Maafkanlah Aku, hingga anthem legendaris Terlalu Manis, Orkes Sakit Hati, dan Virus. Sangat sulit mencari satu orang pun di area konser yang tidak ikut bernyanyi. Puncak kehebohan pecah saat Ku Tak Bisa dan Kamu Harus Pulang didendangkan sebagai penutup malam yang emosional.
Rameramein Fest di Sangatta malam itu membuktikan bahwa magis Slank belum pernah luntur. Di tanah Kutim, di bawah langit Sangatta, rock and roll bukan sekadar musik ia adalah bahasa persatuan yang menyatukan ribuan jiwa dalam satu degup jantung yang sama.(kopi13/kopi3)






























