SENTUL – Di ruang-ruang pertemuan nasional yang kerap dipenuhi istilah teknokratis dan peta besar pembangunan, Bupati Kutai Timur (Kutim) H Ardiansyah Sulaiman membawa satu keyakinan sederhana, kebijakan baru negara, menemukan maknanya ketika berlabuh di kehidupan rakyat. Keyakinan itulah yang ia tegaskan usai mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia H Prabowo Subianto, dengan tema “Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Implementasi Program Prioritas Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan dipusatkan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026).
Didampingi Wakil Bupati Kutim H Mahyunadi serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ardiansyah menilai Rakornas bukan sebatas agenda seremonial antarpemerintah. Forum itu, menurutnya, adalah ruang penyelarasan arah agar pembangunan nasional tidak berhenti sebagai rumusan kebijakan, melainkan menjelma menjadi keseharian yang lebih layak bagi masyarakat, hingga lapisan paling bawah.

“Apa yang disampaikan Presiden sangat jelas, pembangunan tidak boleh berhenti di atas kertas. Hasilnya harus sampai ke masyarakat, petani, nelayan, buruh, pelaku UMKM, dan generasi muda,” ujar Ardiansyah kepada wartawan.
Pernyataan itu menjadi penegasan sikap Pemkab Kutim dalam menempatkan rakyat sebagai poros pembangunan. Ia menuturkan, arahan Presiden menekankan pentingnya memulai pembangunan dari kebutuhan riil masyarakat. Bukan sekadar mengejar indikator makro yang kerap jauh dari denyut kehidupan sehari-hari.
Menjawab pertanyaan wartawan terkait komitmen daerah, Ardiansyah menyatakan kesiapan Pemkab Kutim untuk menyelaraskan seluruh program pembangunan daerah dengan prioritas nasional. Namun, penyelarasan itu, katanya, tidak akan mengabaikan kondisi objektif dan karakter sosial ekonomi masyarakat Kutim. Pendidikan, kesehatan, serta penguatan ekonomi rakyat menjadi poros utama yang akan terus diperkuat.
Ia memandang visi Indonesia Emas 2045 tak cukup dimaknai sebagai capaian statistik pertumbuhan. Lebih dari itu, visi tersebut harus tercermin dalam kualitas hidup masyarakat yang nyata dan berkeadilan.

“Indonesia Emas bukan hanya soal angka pertumbuhan ekonomi, tapi tentang anak-anak kita bisa sekolah dengan baik, masyarakat sehat, dan rakyat punya penghidupan yang layak,” katanya.
Ketika ditanya program prioritas yang akan segera dirasakan masyarakat Kutim, Ardiansyah menyebut sektor pendidikan, pertanian, dan ekonomi kerakyatan sebagai perhatian utama pemerintah daerah. Menurutnya, pembangunan yang sehat adalah pembangunan yang memberi ruang tumbuh bagi masyarakat agar mandiri dan berdaya, bukan bergantung pada bantuan semata.
“Petani harus semakin sejahtera, UMKM harus naik kelas, dan anak-anak Kutim harus punya masa depan yang cerah. Itulah makna pembangunan yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Ardiansyah juga memastikan bahwa hasil Rakornas tidak akan berhenti sebagai catatan rapat. Pemerintah daerah, ujarnya, akan menindaklanjuti arahan tersebut melalui penyesuaian perencanaan pembangunan daerah agar sejalan dengan kebijakan Pemerintah Pusat. Sinergi menjadi kata kunci, agar setiap program nasional dapat diterjemahkan secara tepat sesuai dengan kebutuhan dan karakter wilayah Kutim.
Ia tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih dihadapi daerah, mulai dari keterbatasan anggaran hingga persoalan infrastruktur. Namun, ia tetap menyimpan optimisme bahwa kendala tersebut dapat diurai secara bertahap melalui kolaborasi yang erat dengan Pemerintah Pusat.
“Sinergi ini pada akhirnya bukan untuk pemerintah, tapi untuk rakyat. Kalau pusat dan daerah berjalan bersama, masyarakatlah yang akan paling merasakan manfaatnya,” pungkas Ardiansyah.
Dengan semangat itulah Pemkab Kutim menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembangunan yang berpihak pada rakyat. Pembangunan yang tidak berjarak dengan kehidupan sehari-hari, dan menjadi bagian dari perjalanan panjang bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (kopi4/kopi3)































