Kepala Disdukcapil Kutim Jumeah.Foto: Dewi/Nasruddin Pro Kutim
SANGATTA – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat pelayanan administrasi kependudukan (adminduk) melalui program jemput bola. Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama warga yang memiliki keterbatasan untuk datang langsung ke kantor Dukcapil.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Kutim, Jumeah, menjelaskan program jemput bola dilaksanakan dengan mendatangi masyarakat yang membutuhkan pelayanan administrasi kependudukan secara langsung.
Hal itu disampaikan Jumeah saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/8/2026). Menurutnya, jemput bola tidak semata-mata berarti mendatangi masyarakat secara rutin, tetapi menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan dan kondisi warga.
“Jemput bola itu kita mendatangi masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.

Ia menyebutkan salah satu bentuk pelayanan tersebut diberikan kepada masyarakat penyandang disabilitas. Selain itu, Dukcapil juga memberikan pelayanan secara insidentil untuk kondisi tertentu, termasuk warga yang berada di rumah sakit dan membutuhkan pelayanan administrasi kependudukan.
Untuk pelayanan yang bersifat insidentil, petugas dapat turun ketika terdapat kebutuhan mendesak. Salah satu contohnya adalah warga penyandang disabilitas yang berada di rumah sakit dan sebelumnya telah memiliki KTP.
Di sisi lain, program jemput bola juga dilaksanakan secara terencana. Pelayanan dapat dilakukan dengan turun langsung ke kecamatan maupun desa berdasarkan permohonan dari pemerintah desa.
Pelayanan tersebut antara lain mencakup pengurusan akta perkawinan, akta perceraian, dan dokumen perkawinan bagi penduduk non-Muslim. Selain itu, jenis layanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, seperti pembuatan akta kelahiran, akta kematian, serta pelayanan pindah datang.
Jumeah menegaskan program tersebut tidak memiliki target persentase tertentu. Sebab, kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan adminduk bersifat dinamis dan tidak dapat diprediksi secara pasti.

“Tidak ada target persentasenya, karena kebutuhan masyarakat itu tidak bisa diprediksi,” ujarnya.
Menurut dia, pola pelayanan tersebut justru membuat Dukcapil lebih fleksibel dalam merespons kebutuhan masyarakat. Ketika terdapat permintaan pelayanan dari desa atau kecamatan, petugas dapat menyesuaikan agenda untuk turun memberikan pelayanan.
Untuk memastikan masyarakat mengetahui keberadaan dan jadwal pelayanan, Dukcapil juga memanfaatkan berbagai saluran informasi. Jadwal jemput bola disosialisasikan melalui media sosial, termasuk Instagram dan situs web, serta melalui grup WhatsApp.
Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat mengetahui kapan dan di mana pelayanan akan dilaksanakan. Dengan demikian, warga dapat mempersiapkan dokumen yang diperlukan sebelum petugas tiba di lokasi.
Program jemput bola sendiri telah berjalan hampir empat tahun. Dalam kurun waktu tersebut, hampir seluruh kecamatan di Kutim telah menjadi lokasi pelayanan.
Jumeah mengatakan pelayanan langsung ke lapangan merupakan bagian dari upaya Dukcapil memastikan administrasi kependudukan dapat dijangkau masyarakat secara lebih luas.
Pelayanan publik, kata dia, tidak semestinya hanya menunggu masyarakat datang ke kantor pemerintah. Dalam kondisi tertentu, pemerintah perlu bergerak mendekati masyarakat agar hak warga atas dokumen kependudukan dapat terpenuhi.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Dengan mendatangi warga yang membutuhkan, Dukcapil berupaya menjadikan pelayanan adminduk lebih dekat, responsif, dan sesuai dengan kondisi di lapangan.(kopi15/kopi13/kopi3)

































