Bupati Ardiansyah Sulaiman saat menghadiri wisuda UNY. Foto: Nasruddin/Nami Pro Kutim
YOGYAKARTA – Sebanyak 297 tenaga pendidik asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menyelesaikan pendidikan magister (S2) Pendidikan Inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka merupakan penerima Beasiswa Indonesia Emas Daerah (BIMED) yang digagas Pemerintah Kabupaten Kutim.
Kelulusan tersebut ditandai dengan keikutsertaan peserta wisudawan-wisudawati para guru Kutim dalam Wisuda UNY Periode I Tahun Akademik 2026/2027 yang berlangsung di GOR UNY Jalan Colombo No 1 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (23/8/2026). Momen ini menjadi bagian dari upaya Pemkab Kutim meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga pendidik.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman didampingi istri Siti Robiah turut menghadiri prosesi wisuda tersebut. Kehadiran Bupati menjadi bentuk dukungan sekaligus apresiasi Pemkab Kutim terhadap para guru yang telah menyelesaikan pendidikan magister di bidang pendidikan inklusi.
Pada kesempatan tersebut, Ardiansyah menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan asal Kutim. Ia mengapresiasi perjuangan para tenaga pendidik yang telah menyelesaikan pendidikan dan diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di lingkungan sekolah masing-masing.

“Selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati dari Kutim. Semoga ilmu yang diperoleh selama mengikuti pendidikan di UNY dapat memberikan manfaat dan semakin memperkuat kualitas pendidikan di Kutim” kata Ardiansyah.
Menurut dia, Program Beasiswa Indonesia Emas Daerah merupakan bentuk komitmen Pemkab Kutim dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Penguatan kompetensi tenaga pendidik menjadi salah satu bagian penting karena guru memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas pembelajaran dan layanan pendidikan.
Ardiansyah berharap peningkatan kapasitas guru di bidang pendidikan inklusi dapat berdampak langsung terhadap pelayanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah diharapkan semakin mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik, potensi, serta kebutuhan masing-masing peserta didik.

“Kita berharap kualitas layanan pendidikan inklusif di Kutim terus meningkat. Anak-anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan layanan pendidikan yang semakin baik, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono mengatakan, 297 guru yang diwisuda merupakan peserta angkatan kedua program kerja sama Pemkab Kutim dengan UNY melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
“Alhamdulillah, pada tahun 2026 ini kembali dilaksanakan wisuda untuk program Beasiswa Indonesia Emas Daerah, khususnya terkait dengan Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL program S2 Inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta,” kata Mulyono.
Mulyono menjelaskan, program tersebut telah berjalan sejak 2024. Pada angkatan pertama, Pemkab Kutim mengirimkan 191 guru untuk mengikuti pendidikan S2 Pendidikan Inklusi di UNY. Seluruh peserta angkatan pertama berhasil menyelesaikan pendidikan dan diwisuda pada 2025.
“Angkatan pertama yang kita mulai sejak tahun 2024 itu kita kuliahkan sebanyak 191 orang dan alhamdulillah semuanya lulus 100 persen di tahun 2025,” ujarnya.

Program pengembangan kompetensi tersebut kemudian dilanjutkan pada 2025 dengan mengirimkan 300 tenaga pendidik. Namun, dari jumlah tersebut terdapat tiga peserta yang tidak dapat mengikuti wisuda karena tidak menyelesaikan pendidikan. Mulyono menyebut satu peserta meninggal dunia, satu peserta terkendala kondisi kesehatan, sedangkan satu peserta lainnya menghadapi persoalan yang menyebabkan tidak dapat menyelesaikan studi.
“Jadi ada tiga orang yang tidak ikut wisuda, sehingga yang diwisuda hari ini sebanyak 297 orang,” katanya.

Dengan kelulusan tersebut, Pemkab Kutim kini memiliki tambahan tenaga pendidik yang memiliki kualifikasi akademik di bidang pendidikan inklusi. Pemerintah daerah berharap peningkatan jumlah guru berkualifikasi tersebut dapat memperkuat kesiapan sekolah dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, baik di sekolah umum maupun sekolah negeri. Ke depan, kompetensi para lulusan diharapkan dapat diterapkan secara optimal untuk mewujudkan layanan pendidikan yang lebih inklusif, merata, dan sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik di Kutim.(kopi14/kopi13)



























