Beranda Kutai Timur Saat Ketulusan Merawat Pancasila Mengalahkan Dinginnya Air Hujan di Kutim

Saat Ketulusan Merawat Pancasila Mengalahkan Dinginnya Air Hujan di Kutim

4 views
0

Momen Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memimpin jalannya Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026. Foto: Bahtiar/Pro Kutim

SANGATTA – Mendung hitam di Langit Sangatta, Kamis (1/10/2026) pagi, mendadak kelabu. Air hujan perlahan tumpah, membasahi pelataran Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) di kawasan Bukit Pelangi. Namun, guyuran air dari langit itu seolah tak berdaya melawan keteguhan ratusan pasang mata yang berdiri tegak di lapangan.

Barisan aparatur sipil negara (ASN), unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan tamu undangan bergeming di tempatnya masing-masing. Jas hujan transparan dan payung yang terbuka seketika mewarnai lapangan upacara pemandangan yang tidak biasa, tetapi sarat makna.

Di tengah rintik yang kian rapat, upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 tetap berlangsung khidmat. Bertindak sebagai inspektur upacara, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memimpin jalannya barisan dengan langkah tegap, mengabaikan basah yang merayap di pakaian dinasnya. Turut hadir Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, Ketua DPRD Kutim Jimmi dan undangan lainnya.

Tahun ini, tema yang diusung terasa begitu relevan dengan dinamika zaman yakni “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”. Dan pagi itu, tema tersebut tidak hanya berhenti sebagai slogan di baliho-baliho, melainkan hidup dalam tindakan nyata para peserta upacara yang enggan beranjak.

Bagi Ardiansyah, cuaca ekstrem bukanlah halangan untuk meresapi kembali nilai-nilai sejarah yang diperjuangkan para pendiri bangsa. Di hadapan para peserta upacara yang basah kuyup, ia mengingatkan bahwa Pancasila adalah jangkar terkuat bangsa Indonesia di tengah gelombang keberagaman.

“Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan komitmen hidup berbangsa dan bernegara. Semangat kebersamaan inilah yang harus terus kita rawat, termasuk dalam mengawal pembangunan di Kutai Timur tercinta,” tegas Ardiansyah di sela-sela kegiatan.

Suasana hening sempat tercipta tatkala seluruh peserta menundukkan kepala, mengenang jasa para pahlawan revolusi yang gugur demi mempertahankan ideologi negara. Suara rintik hujan yang jatuh di atap tenda dan pelataran seolah menjadi latar suara alam yang mengiringi jalannya doa bersama menambah kekhusyukan detik-detik upacara.

Bagi sebagian peserta, basahnya air hujan hari itu justru menghadirkan refleksi tersendiri. Perjuangan para pahlawan di masa lalu tentu jauh lebih berat ketimbang berdiri di bawah guyuran air hujan selama satu jam. Semangat kedisiplinan dan ketulusan yang ditunjukkan jajaran Pemkab Kutim pagi itu menjadi potret kecil dari sebuah keteguhan bahwa komitmen menjaga keutuhan bangsa tidak boleh luntur, terlepas apa pun rintangannya bahkan ketika langit pun ikut menangis.

Upacara pun ditutup dengan saling bersalaman di bawah payung dan koridor gedung kantor bupati. Senyum hangat dan gelak tawa kecil mencairkan suasana basah, meninggalkan pesan mendalam bahwa di balik gerimis Sangatta, napas persatuan Indonesia tetap bersemi subur di tanah Kutim.(kopi7/kopi13/kopi3) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini