Ketua Panitia Gebyar Literasi Kutim 2026 Deden Lukman melaporkan jalannya kegiatan terupdate di malam penutupan. Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Perhelatan pameran buku dan festival literasi bertajuk “Out of the Boox” Gebyar Literasi Kutai Timur (Kutim) 2026 bekerja sama dengan Penerbit Mizan di Aula Ki Hajar Dewantara, YPPSB Munthe resmi ditutup pada Minggu (4/10/2026) malam oleh Bupati Ardiansyah Sulaiman. Acara yang berlangsung meriah ini sukses menyedot perhatian luas dari berbagai kalangan masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana, Deden Lukman, dalam laporan penutupannya menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas antusiasme luar biasa yang ditunjukkan oleh para pengunjung selama sepuluh hari pelaksanaan pameran.
“Berdasarkan data panitia, total kunjungan dan transaksi selama pameran tercatat mencapai 3.692 kunjungan, dengan rata-rata kehadiran sekitar 369 orang per hari. Tidak hanya dari segi kunjungan, transaksi belanja buku juga mencatatkan angka yang impresif. Sebanyak 2.840 transaksi buku berhasil dibukukan selama pendaran berlangsung. Capaian penjualan penerbit bahkan diklaim berhasil menembus angka 175 persen dari target awal yang ditetapkan,” sebutnya.

Ditambahkan Deden, buku anak jadi primadona. Dari data profil pembelian, diketahui bahwa mayoritas pengunjung dan pembeli buku berasal dari kalangan keluarga.
“Buku-buku anak tercatat sebagai segmen yang paling diminati dan paling laku keras di pasaran, dengan porsi mencapai 30 persen dari total buku yang terjual. Menariknya lagi, mayoritas buku anak tersebut berada pada kisaran harga yang sangat terjangkau, yakni antara Rp 3.800 hingga Rp 15.000 saja. Hal ini dinilai sangat membantu masyarakat luas untuk menghadirkan bahan bacaan berkualitas bagi buah hati mereka tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam,” urainya.
Selanjutnya, keterlibatan masyarakat dalam rangkaian Gebyar Literasi 2026 ini tercatat sangat masif. Selain pengunjung pameran umum, acara ini melibatkan lebih dari 2.500 peserta aktif dalam 15 rangkaian kegiatan pendukung.
“Berbagai agenda interaktif sukses digelar, mulai dari mendongeng bersama Bunda Literasi, bincang-bincang (talkshow) seputar AI dan keuangan, workshop penulisan, hingga ajang perlombaan seni dan literasi tingkat kabupaten,” tegasnya.
Keberhasilan penyelenggaraan ini tidak lepas dari kolaborasi apik antara pemerintah daerah, PT KPC, YPPSB, unsur TNI-Polri, para penerbit, serta komunitas pegiat literasi.

“Melalui kesuksesan festival ini, panitia dan pemerintah daerah berharap masyarakat Kutai Timur khususnya generasi muda terus memelihara “kehausan” akan ruang-ruang literasi yang edukatif dan inklusif. Buku dinilai bukan sekadar tumpukan kertas bertinta, melainkan jendela dunia tempat anak-anak merajut asa dan mewujudkan cita-cita di masa depan,” tutup Deden.(kopi13)






























