Beranda Kutai Timur Kunci Sukses Literasi Kutim, Wajib Baca 12 Buku hingga Pelatihan Menulis Anak

Kunci Sukses Literasi Kutim, Wajib Baca 12 Buku hingga Pelatihan Menulis Anak

2 views
0

Direktur YPPSSB Endah Wulandari di malam penutupan pameran buku dan festival literasi “Out of the Boox” Gebyar Literasi Kutim 2026.Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA – Pameran buku dan festival literasi “Out of the Boox” Gebyar Literasi Kutai Timur (Kutim) 2026 yang dihelat di Aula Ki Hajar Dewantara, YPPSB Munthe, Minggu (4/10/2026) malam menyisakan banyak cerita inspiratif. Di balik suksesnya perhelatan akbar tersebut, Direktur YPPSB, Endah Wulandari, memaparkan pandangan mendalam mengenai urgensi budaya membaca dan arah pengembangan literasi ke depan.

Dalam sambutannya, Endah menyoroti perbandingan tingkat literasi Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, hingga Vietnam yang saat ini posisinya sudah berada di atas Indonesia. Salah satu kebijakan fundamental yang diterapkan di negara-negara tersebut dan patut dicontoh adalah kewajiban bagi anak-anak untuk membaca 5 hingga 12 buku di luar buku pelajaran sekolah dalam satu tahun.

“Saat ini, kita belum memiliki program untuk mewajibkan buku-buku apa yang seharusnya bisa memberikan pengetahuan dan wawasan, serta meningkatkan kemampuan dan minat baca anak,” ungkap Endah.

Ia menegaskan, untuk mengejar ketertinggalan di bidang literasi, seluruh elemen masyarakat harus bersemangat dan bersinergi. Pameran buku ini, menurutnya, bukan sekadar ajang belanja atau pameran biasa, melainkan instrumen nyata untuk memaksa dan membukakan akses seluas-luasnya bagi masyarakat agar mudah memperoleh buku-buku berkualitas.

Lebih lanjut, Endah mengungkapkan fenomena menarik yang terjadi selama pameran. Tanpa perlu dipaksa, animo masyarakat khususnya para orang tua dan anak-anak tercatat sangat tinggi. Target penjualan yang semula dipatok tinggi bahkan terlampaui dengan sukses.

Namun, lebih dari sekadar transaksi ekonomi, pameran ini berhasil membangun ruang interaksi sosial yang hangat. Selama acara berlangsung, tampak pemandangan harmonis tatkala para ayah dan ibu mendampingi, mengajak, serta berkomunikasi intensif dengan anak-anak mereka di sela-sela kesibukan bekerja. Hal ini membuktikan bahwa festival literasi turut mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Sebagai langkah konkret keberlanjutan, Endah menyampaikan permohonan khusus kepada Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman agar pada tahun depan, program literasi dapat diperluas melalui pelatihan menulis khusus bagi anak-anak usia 6 hingga 12 tahun. Harapannya, karya-karya kecil dari anak-anak Kutim nantinya dapat dikurasi, dibimbing, dan diterbitkan langsung oleh Mizan.

“Kami meminta pelatihan nanti yang kemarin harus ada anak Kutai Timur. Mengapa? Kami tidak mau Kutai Timur ini hanya dikenal karena tambangnya. Suatu saat nanti tambang bisa jadi habis, apa yang mau kita perlihatkan? Ternyata salah satunya adalah kita akan bergerak, Kutai Timur bisa dibanggakan dari SDM-nya,” tegas Endah disambut gemuruh tepuk tangan.

Pihaknya berharap dukungan penuh dari pemerintah daerah, instansi, dunia usaha, serta seluruh komunitas terus mengalir agar ruang-ruang literasi yang edukatif dan inklusif di Kutim dapat terus dirawat, menjadikan buku sebagai jendela utama bagi anak-anak merajut cita-cita di masa depan.(kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini