Beranda Kutai Timur Rembuk Budaya Kutim Bangun Haluan Kebudayaan Daerah

Rembuk Budaya Kutim Bangun Haluan Kebudayaan Daerah

11 views
0

Suasana Rembuk Budaya, Harmonisasi, dan Pemaparan Dokumen Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah. Foto: Vian/Pro Kutim

SANGATTA – Upaya membangun arah kebudayaan Kutai Timur memasuki tahap penting melalui Rembuk Budaya, Harmonisasi, dan Pemaparan Dokumen Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kutai Timur. Kegiatan yang dibuka Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, Ilham, mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, itu mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku budaya dan seni, serta lembaga pelestarian kebudayaan.

Forum tersebut tidak sekadar membahas penyempurnaan dokumen PPKD. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serba Guna, Bukit Pelangi, Sangatta Utara, Selasa (6/10/2026), juga diarahkan menjadi titik awal untuk membangun tata kelola kebudayaan Kutai Timur yang memiliki arah, basis data, dan komitmen bersama untuk jangka panjang.

“Kita ingin kebudayaan di Kutai Timur ini punya arah yang jelas. Jangan sampai kita hanya punya banyak budaya, tetapi tidak punya data dan tidak tahu bagaimana menjaganya,” kata Ilham.

Menurutnya, PPKD harus ditempatkan sebagai dokumen yang hidup dan dapat digunakan dalam menentukan kebijakan kebudayaan daerah. Karena itu, proses penyusunannya perlu melibatkan pihak-pihak yang memahami kebudayaan, baik dari kalangan akademisi maupun pelaku yang sehari-hari berada di tengah masyarakat.

“Kita harapkan PPKD ini bukan hanya menjadi dokumen. Ini harus menjadi bank data budaya dan menjadi dasar kita menentukan kebijakan kebudayaan ke depan,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut tim ahli budaya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, para pelaku budaya dan seni, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Utara, Lestari. Kehadiran berbagai unsur tersebut mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman pelaku budaya serta fungsi pelestarian kebudayaan di lapangan.

Gagasan besar rembuk budaya ini adalah menjadikan hasilnya sebagai role model kebudayaan Kutai Timur. Daerah diharapkan memiliki kerangka bersama mengenai bagaimana kebudayaan dipetakan, dilindungi, dikembangkan, diwariskan, dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat tanpa kehilangan nilai serta identitasnya.

PPKD juga diarahkan menjadi bank data kebudayaan Kutai Timur. Kekayaan budaya daerah perlu dihimpun dan didokumentasikan secara sistematis, mulai dari tradisi lisan, bahasa, adat istiadat, seni pertunjukan, permainan tradisional, kuliner, kerajinan, pengetahuan tradisional, situs sejarah, hingga berbagai ekspresi budaya masyarakat.

Bank data tersebut penting karena kebijakan kebudayaan membutuhkan informasi yang jelas mengenai apa yang dimiliki daerah, siapa pelakunya, di mana potensi tersebut berkembang, bagaimana kondisinya, dan kebudayaan mana yang membutuhkan perlindungan lebih serius.

Lebih jauh, forum ini diharapkan menjadi embrio garis-garis besar haluan kebudayaan Kutai Timur. Dengan adanya arah bersama, pembangunan kebudayaan tidak mudah berubah hanya karena bergantinya program atau kepemimpinan. Ada prinsip dan garis besar yang dapat menjadi rujukan pemerintah, komunitas budaya, dunia pendidikan, pelaku seni, generasi muda, dan sektor pariwisata.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan komitmen pelestarian budaya oleh sejumlah pemangku kepentingan kebudayaan. Penandatanganan ini menjadi bentuk kesepahaman bahwa menjaga keberlangsungan budaya merupakan tanggung jawab bersama dan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.

Bagi Ilham, keberlanjutan kebudayaan sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Kebudayaan tidak akan bertahan apabila hanya disimpan dalam dokumen, sementara anak-anak muda semakin jauh dari tradisi yang hidup di lingkungan mereka.

“Yang paling penting adalah bagaimana budaya ini bisa dikenal dan diteruskan anak-anak muda. Mereka jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari pelestarian dan pengembangan budaya,” katanya.

Karena itu, teknologi digital, musik, film, media sosial, desain, dan berbagai bentuk ekonomi kreatif dapat menjadi ruang baru untuk mengenalkan budaya lokal. Inovasi tersebut tetap perlu memiliki akar agar perkembangan zaman tidak membuat nilai budaya kehilangan makna.

Kebudayaan juga memiliki hubungan erat dengan pengembangan pariwisata Kutai Timur. Kekayaan alam memang menjadi modal penting, tetapi identitas sebuah destinasi tidak hanya dibentuk oleh panorama. Cerita, sejarah, tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat memberikan pengalaman yang membuat sebuah destinasi memiliki karakter.

Bank data kebudayaan nantinya dapat menjadi salah satu sumber untuk mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Potensi budaya di desa-desa dapat dipetakan dan dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pemilik dan pelaku kebudayaan.

Namun, pengembangan budaya untuk pariwisata tetap membutuhkan batas yang jelas.

Kebudayaan tidak boleh semata-mata menjadi komoditas. Nilai, sejarah, martabat komunitas, serta hak masyarakat pemilik budaya harus menjadi bagian dari pertimbangan dalam setiap pengembangannya.

Keterlibatan akademisi, pelaku budaya dan seni, serta Balai Pelestarian Kebudayaan menjadi penting untuk memperkaya proses tersebut. Perspektif akademik, pengalaman pelaku di lapangan, dan pendekatan pelestarian dapat dipertemukan untuk menghasilkan dokumen yang tidak hanya lengkap secara administratif, tetapi juga relevan dengan kehidupan masyarakat.

Rembuk budaya akhirnya bukan hanya forum harmonisasi dokumen PPKD. Ia menjadi ruang untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar: apa yang dimiliki Kutai Timur, apa yang harus dilindungi, apa yang dapat dikembangkan, dan kebudayaan seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jika gagasan tersebut diterjemahkan secara konsisten, PPKD tidak akan berhenti sebagai dokumen administratif. Ia dapat menjadi peta kebudayaan, bank data, sekaligus garis-garis besar haluan kebudayaan Kutai Timur.

Menjaga kebudayaan pada akhirnya bukan hanya mempertahankan warisan masa lalu. Ia adalah upaya memastikan Kutai Timur memiliki identitas yang kuat ketika melangkah menuju masa depan. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini