Beranda Kutai Timur Program Kolaborasi, Dana CSR Rp319 Juta Menyasar Akar Stunting di Kutai Timur

Program Kolaborasi, Dana CSR Rp319 Juta Menyasar Akar Stunting di Kutai Timur

29 views
0

Teks foto: Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi menghadiri Forum Koordinasi CSR PT KPC dan Kontraktor dalam penanganan risiko stunting. (Vian/Pro Kutim)

SANGATTA – Upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak lagi berhenti pada persoalan asupan makanan bagi anak. Pemerintah daerah mulai mendorong penanganan yang menyentuh hulu persoalan. Yakni keluarga, air bersih, sanitasi, pola asuh, hingga pengetahuan orang tua mengenai kebutuhan gizi. Langkah itu mengemuka dalam Forum Komunikasi CSR PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan kontraktor dalam penanganan risiko stunting di Ruang Recall Wisma Rayah PT KPC, Sangatta, Selasa, (1/9/2026).

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi hadir dalam forum tersebut untuk memperkuat kerja bersama antara pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat. Target yang hendak dikejar cukup terjal. Pemkab Kutim menargetkan prevalensi stunting turun dari 26,9 persen pada 2024 menjadi 19 persen pada 2027. Mahyunadi mengatakan angka tersebut tidak mungkin ditekan hanya melalui satu program atau satu institusi. Penanganan harus dilakukan secara beriringan dengan memahami keadaan keluarga yang berisiko sebelum gangguan pertumbuhan terjadi pada anak.

“Kalau kita mau angka stunting turun, kita harus kerjakan bersama-sama. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Ada perusahaan, tenaga kesehatan, kader dan masyarakat. Semua harus ikut ambil bagian,” kata Mahyunadi.

Menurut dia, keluarga berisiko stunting perlu mendapat perhatian sejak dini. Pencegahan, kata Mahyunadi, lebih penting daripada menunggu anak mengalami gangguan pertumbuhan.

“Pencegahan itu dimulai dari keluarga. Kita harus terus memberikan pemahaman tentang gizi, kesehatan ibu dan anak, pola asuh, air bersih dan lingkungan yang sehat,” ujarnya di hadapan seluruh yang hadir.

Persoalan itu pula yang membuat Mahyunadi mengapresiasi keterlibatan perusahaan dalam upaya penanganan stunting. Salah satu inisiatif yang mendapat perhatian ialah program BERSAMA, akronim dari Bersatu Atasi Stunting Terpadu, yang digagas PT KPC bersama 34 perusahaan kontraktor. Program tersebut menyasar keluarga berisiko stunting di wilayah ring satu Kecamatan Sangatta Utara. Pendekatannya tidak hanya bertumpu pada pemberian nutrisi, tetapi juga berusaha menyentuh sejumlah kondisi yang dapat berkelindan dengan risiko stunting.

“Ini yang bagus. Jangan hanya kasih makanan, setelah itu selesai. Kita juga harus lihat penyebabnya. Apakah keluarganya punya air bersih, bagaimana kondisi jambannya dan apakah orang tuanya sudah memahami kebutuhan gizi anak,” katanya.

Bagi pemerintah daerah, pola semacam itu menjadi penting karena persoalan pertumbuhan anak tidak berdiri sendiri. Asupan gizi berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat keluarga tinggal, ketersediaan air bersih, sanitasi, serta kemampuan orang tua memahami kebutuhan anak. Karena itu, Mahyunadi berharap program BERSAMA tidak berhenti sebagai kegiatan perusahaan di satu kawasan. Ia ingin inisiatif tersebut menjadi pionir yang dapat mengilhami perusahaan lain untuk mengambil peran serupa berdasarkan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

“Kalau program seperti ini bisa berjalan di Sangatta Utara, saya berharap ini bisa menjadi pionir. Perusahaan di wilayah lain juga bisa melakukan hal yang sama sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di sekitar mereka,” harapnya.

Pemerintah daerah, menurut Mahyunadi, akan terus memperkuat edukasi masyarakat, pelayanan kesehatan, Posyandu, serta pendampingan keluarga melalui kader dan tenaga kesehatan. Seluruh unsur itu diharapkan menjadi mata rantai yang saling menguatkan dalam pencegahan stunting.

“Yang penting kita jangan berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah punya program, perusahaan punya kepedulian dan masyarakat juga harus ikut terlibat. Kalau semuanya bergerak bersama, saya yakin target ini bisa kita kejar,” tegas Mahyunadi.

Kemudian, kolaborasi dunia usaha itu tidak berhenti pada komitmen. Ketua Pelaksana Program BERSAMA, Febriana Kurniasari, melaporkan PT KPC bersama 34 perusahaan kontraktor berhasil menghimpun dana Rp319 juta.

“Dari hasil kolaborasi dan partisipasi 34 perusahaan kontraktor PT KPC, kami berhasil menghimpun dana sebesar Rp319 juta. Dana ini kami salurkan melalui empat program utama sebagai bentuk dukungan bersama dalam upaya penanganan dan pencegahan stunting,” ujar Febriana.

Dana tersebut dibagi ke dalam empat program dengan sasaran yang berbeda. Bantuan pertama berupa pemberian nutrisi tambahan bagi anak di bawah dua tahun (Baduta) di Rumah Rehat Gizi (RRG) Kecamatan Sangatta Utara senilai Rp150 juta. Program kedua menyentuh kebutuhan dasar keluarga, yakni penyediaan air bersih senilai Rp24,305 juta melalui kerja sama dengan Perumdam Tirta Tuah Benua. Air bersih ditempatkan sebagai bagian dari intervensi karena kondisi lingkungan menjadi salah satu unsur yang turut diperhatikan dalam pencegahan risiko stunting.

Selanjutnya, Rp136,336 juta dialokasikan untuk bantuan jamban sehat melalui kerja sama dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kutai Timur. Adapun Rp8,358 juta digunakan untuk bantuan edukasi dan penyuluhan keluarga berencana. Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa penanganan yang dibangun melalui program BERSAMA tidak hanya bertumpu pada satu bentuk bantuan. Nutrisi, air bersih, sanitasi, dan edukasi keluarga ditempatkan dalam satu rangkaian ikhtiar.

“Melalui empat program ini, kami ingin ikut mendukung penanganan stunting secara lebih menyeluruh. Bukan hanya dari sisi nutrisi, tetapi juga air bersih, sanitasi dan edukasi keluarga,” jelasnya.

Febriana berharap intervensi tersebut dapat dirasakan langsung oleh keluarga yang menjadi sasaran. Pada saat yang sama, program itu diharapkan menjadi penopang bagi langkah pemerintah daerah dalam mencegah munculnya risiko stunting baru.

“Harapannya, apa yang kami lakukan bersama ini bisa memberikan manfaat langsung bagi keluarga yang berisiko stunting dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk mencegah munculnya risiko stunting baru,” katanya.

Bagi keluarga, manfaat program itu berada pada perkara yang paling dekat dengan keseharian: makanan bergizi bagi anak, air yang layak digunakan, jamban sehat, serta pengetahuan untuk merawat dan memenuhi kebutuhan keluarga. Di titik inilah penanganan stunting bergeser dari urusan angka menjadi ikhtiar memperbaiki kualitas hidup.

Dengan dukungan dunia usaha, penguatan kader dan tenaga pendamping, pelayanan kesehatan, serta edukasi hingga ke tingkat keluarga, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berharap sasaran penurunan stunting menjadi 19 persen pada 2027 dapat dikejar melalui kerja bersama. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini