SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu poros utama pembangunan daerah. Indeks Pembangunan Manusia atau IPM Kutim yang mencapai 76,48 pada 2025 ditargetkan meningkat menjadi 77 hingga 77,30 pada 2027. Target tersebut disampaikan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dalam Rapat Paripurna ke-8 Masa Persidangan I DPRD Kutim Tahun Sidang 2026/2027 dalam rangka memperingati HUT ke-27 Kutim di DPRD Kutim, Kamis (8/10/2026). Rapat paripurna dihadiri Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, Ketua DPRD Kutim Jimmi beserta unsur pimpinan dan para anggota DPRD Kutim, Forkopimda, serta para kepala perangkat daerah.
Dalam pidatonya, Ardiansyah mengatakan capaian IPM 76,48 pada 2025 menunjukkan terus meningkatnya kualitas pembangunan manusia dari sisi pendidikan, kesehatan, maupun standar hidup layak. Pemerintah menargetkan IPM berada pada kisaran 76,70 sampai 76,90 dalam Perubahan RKPD 2026. Target itu kembali dinaikkan menjadi 77 sampai 77,30 melalui RKPD 2027.
“Kita ingin pembangunan Kutai Timur tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghasilkan manusia yang semakin sehat, semakin berpendidikan, semakin produktif dan memiliki kualitas hidup yang semakin baik,” kata Ardiansyah.
Di bidang pendidikan, pemerintah menjalankan sejumlah program, antara lain beasiswa Kutim Tuntas dan Kutim Stimulan, beasiswa bagi 1.000 hafiz dan hafizah setiap tahun, serta bantuan buku, seragam, dan sepatu gratis bagi peserta didik dari tingkat PAUD hingga SLTP. Upaya tersebut dibarengi peningkatan Angka Harapan Lama Sekolah. Pada 2024, indikator tersebut berada di angka 13,02 tahun dan meningkat menjadi 13,22 tahun pada 2025.
Sementara pada bidang kesehatan, Angka Harapan Hidup Kutim pada 2025 mencapai 74,87 tahun. Pemerintah melihat peningkatan kualitas manusia sebagai fondasi bagi visi pembangunan Kutim 2025 hingga 2029, yakni “Terwujudnya Kutai Timur Tangguh, Mandiri dan Berdaya Saing”. Visi tersebut, kata Ardiansyah, bukan hanya rangkaian kata, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan melalui kerja nyata.

“Tangguh, berarti Kutai Timur harus mampu bertahan, berkembang, dan menghadapi tantangan yang ada, baik yang berasal dari alam, sosial, politik maupun ekonomi,” ujarnya.
Adapun kemandirian diarahkan pada kemampuan daerah mengoptimalkan potensi, memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya yang terbatas. Sementara daya saing berkaitan dengan kemampuan Kutim berkompetisi secara positif pada tingkat regional, nasional, maupun global dalam ekonomi, kualitas sumber daya manusia, dan infrastruktur.
Pembangunan manusia juga tidak dapat dilepaskan dari agenda pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, pemerintah mempertahankan target penyerapan 50.000 tenaga kerja sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal melalui BLK Mandiri dan kerja sama dengan lembaga pelatihan kerja. Pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan standar hidup layak akhirnya bertemu pada satu tujuan: memastikan kemajuan daerah tidak hanya terbaca dalam angka ekonomi, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam usia 27 tahun, Kutim mencoba menempatkan manusia sebagai ihwal utama pembangunan. Pertumbuhan ekonomi dipandang penting, tetapi kualitas hidup warga menjadi ukuran yang tidak kalah menentukan. (kopi3)































