Beranda Entertainment Lom Plai, Tantangan Swasembada Pangan dan Semangat Pariwisata Wehea

Lom Plai, Tantangan Swasembada Pangan dan Semangat Pariwisata Wehea

104 views
0

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi memberikan arahan dalam puncak Lom Plai 2026. Foto: Irfan

MUARA WAHAU – Puncak ritual adat Embob Jengea dalam rangkaian pesta adat Lom Plai suku Dayak Wehea kembali digelar di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Rabu (22/4/2026). Di balik kemeriahan pesta panen tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyoroti pergeseran komoditas lahan dan tantangan besar dalam mewujudkan kedaulatan pangan lokal.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi yang hadir mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan catatan krusial mengenai esensi Lom Plai sebagai syukur atas panen padi. Ia mengamati adanya kontradiksi visual antara narasi syukur panen dengan realitas vegetasi di lapangan.

“Tadi saya mendengar narasi bahwa Lom Plai ini adalah syukur atas panen padi. Namun, saya tidak melihat padinya ada di mana. Mungkin sekarang padi telah berubah menjadi sawit,” ujar Mahyunadi di hadapan warga yang memadati Lapangan Sepak Bola Desa Nehas Liah Bing.

Menurut Mahyunadi, pergeseran minat masyarakat dari menanam padi ke perkebunan sawit menjadi kendala utama dalam program ekstensifikasi pertanian. Padahal, Kementerian Pertanian saat ini tengah membuka peluang besar melalui bantuan dana percetakan sawah baru dan program pompanisasi.

Pemerintah Kabupaten Kutim sebenarnya telah mengajukan usulan ribuan hektare lahan untuk dicetak menjadi sawah. Namun, realisasi usulan tersebut menyusut akibat kendala status lahan. Banyak masyarakat yang masih enggan mengalihfungsikan lahan mereka menjadi area persawahan.

“Potensinya ada, tapi masyarakat masih ‘galau’ dan lebih memilih sawit. Jika Kepala Desa dan Camat bisa meyakinkan masyarakat dan mereka setuju, segera usulkan kembali. Kita ingin masyarakat di Muara Wahau dan sekitarnya bisa mencapai swasembada pangan di daerah sendiri,” tegasnya.

Selanjutnya ditambahkan Mahyunadi, Lom Plai yang telah berlangsung sejak 23 Maret dan berakhir pada 24 April 2026 mendatang, tetap mempertahankan ritual-ritual sakral yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Mahyunadi sepakat dengan penegasan tokoh adat setempat, Pak Christian Hasmadi, agar inti ritual tidak diubah sedikit pun demi menjaga kesucian tradisi.

Meski demikian, dari sisi daya tarik wisata, pemerintah mendorong adanya inovasi pada sisi kreasi seni pendukung.

“Ritual adatnya jangan diubah, tapi kreasi seninya bisa ditambah dan dikolaborasikan agar lebih menarik bagi wisatawan,” tuturnya.

Kemeriahan puncak acara ditandai dengan berbagai lomba tradisional, mulai dari menyumpit, gasing, hingga balap dayung di sungai. Fenomena menarik terlihat pada lomba dayung dan tradisi perang Seksiang,bperang menggunakan rumput gajah yang tumpul serta tarian di atas rakit. Mahyunadi menilai, kemahiran warga berdiri di atas perahu kecil tanpa terbalik menunjukkan bahwa festival ini adalah cerminan keterampilan hidup sehari-hari masyarakat Dayak Wehea.

Sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) sejak 2023, Lom Plai kini telah menjadi agenda berskala nasional. Namun, pengembangan pariwisata di wilayah utara Kutim ini masih terganjal aksesibilitas.

Mahyunadi menjelaskan, pengembangan Bandara Uyang Lahai semula direncanakan masuk dalam program prioritas tahun 2027. Namun, rencana tersebut menghadapi tantangan setelah pemerintah daerah mengalami efisiensi anggaran hingga 65 persen dari usulan semula.

“Akses menuju sini masih memakan waktu 5 hingga 7 jam. Perbaikan bandara sedikit terkendala efisiensi, tapi kami upayakan tetap terlaksana di tahun-tahun mendatang,” jelasnya.

Terkait polemik dukungan anggaran, Mahyunadi mengklarifikasi bahwa pemerintah daerah tetap mengalokasikan dana melalui Dinas Pariwisata. Ia meminta instansi terkait lebih transparan dan kolaboratif dengan masyarakat adat agar tidak muncul persepsi bahwa kegiatan hanya didanai oleh perusahaan swasta di sekitar wilayah tersebut.

“Pariwisata, adat, dan ekonomi kreatif adalah satu kesatuan. Ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama sebagai jati diri daerah,” pungkas Mahyunadi.(kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini